Melemah Hari Ini, IHSG Tetap Masuk 3 Besar Bursa Saham Terbaik Asia

7 hours ago 2

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

28 July 2026 11:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan bursa saham Asia menunjukkan kesenjangan yang semakin lebar sepanjang satu bulan terakhir atau pada Juli 2026. Hong Kong, Singapura, dan Indonesia memimpin penguatan, sedangkan Korea Selatan, Jepang, serta Vietnam mengalami tekanan tajam.

Berdasarkan data pasar yang dihimpun pada hari ini Selasa (28/7/2026), Hang Seng Index (HSI) Hong Kong menjadi indeks dengan kinerja bulanan terbaik di Asia di Juli  setelah menguat 9,76%. Sebaliknya, KOSPI Korea Selatan terperosok sekitar 27,45% dan menjadi indeks paling tertekan di kawasan.

Pemeringkatan menggunakan satu indeks utama sebagai perwakilan setiap negara. Persentase mengacu pada pergerakan bulananya, bukan perubahan sejak awal bulan kalender.

Harga indeks diperoleh dari halaman detail masing-masing pasar agar menggunakan angka presisi yang tersedia, bukan angka bulat dalam tabel ringkasan Trading Economics. Khusus KOSPI, harga menggunakan data intraday real time sekitar pukul 10.00-10.15 WIB.

Hong Kong Memimpin, Indonesia Masuk Tiga Besar

Hong Kong menduduki posisi pertama setelah HSI menguat 9,76% dalam sebulan. Indeks tersebut tercatat berada di level 25.274,00.

Singapura menempati peringkat kedua. Straits Times Index atau STI naik 7,46% ke posisi 5.595,35.

Indonesia menyusul di urutan ketiga. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 5,79% dalam satu bulan dan berada di level 6.167,12.

Kinerja tersebut membuat IHSG mengungguli sejumlah indeks utama Asia, termasuk Thailand, Filipina, Malaysia, China, Jepang, dan Korea Selatan. Selisih performa IHSG dengan HSI sebagai pemimpin klasemen mencapai 3,97 poin persentase.

IHSG tetap masuk tiba besar meski hari ini melemah tipis 0,07% di 6181 pada Selasa (28/7/2026) pukul 10.46 WIB

Thailand berada di posisi keempat setelah SET 50 naik 5,04% ke level 1.083,40. Sementara itu, LSX Composite Laos melengkapi lima besar dengan penguatan 3,97%.

Yordania dan Israel masing-masing mencatatkan kenaikan 3,40% dan 3,26%. Filipina, Malaysia, serta Bangladesh melengkapi daftar 10 indeks Asia dengan performa bulanan tertinggi.

Asia Tenggara terlihat cukup dominan dalam daftar tersebut. Singapura, Indonesia, Thailand, Filipina, dan Malaysia menempatkan indeks utamanya dalam jajaran 10 besar.

Namun, penguatan tersebut belum terjadi secara merata. Pasar saham besar di Asia Timur justru menghadapi tekanan dalam, terutama Korea Selatan dan Jepang.

KOSPI Jadi yang Terburuk, Jepang dan Vietnam Jatuh Dua Digit

Korea Selatan mengalami tekanan paling ekstrem. KOSPI berada di level 6.090,60 pada pukul 11.46 waktu Korea, turun 9,85% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Apabila dibandingkan dengan level penutupan 29 Juni sebesar 8.394,65, KOSPI telah kehilangan sekitar 27,45% dalam satu bulan. Penurunan tersebut jauh lebih dalam daripada angka Monthly −19,52% yang masih ditampilkan Trading Economics berdasarkan penutupan 27 Juli.

Aksi jual di pasar Korea terutama menekan saham-saham teknologi dan semikonduktor. Pelemahan tajam juga sempat memicu mekanisme pembatasan perdagangan di pasar saham Korea Selatan.

Jepang berada di posisi kedua dalam daftar indeks paling tertekan. JP225 merosot 10,64% secara bulanan dan berada di level 62.095,00.

Vietnam membuntuti dengan koreksi 10,44%. Indeks VN berada di posisi 1.656,37. China daratan menempati urutan keempat setelah Shanghai Composite melemah 6,46% ke level 3.804,43.

Sri Lanka melengkapi lima indeks dengan tekanan terdalam. ASPI turun 4,83% dan berada di level 21.187,22.

Selisih performa antara pasar terbaik dan terburuk mencapai 37,21 poin persentase. HK50 Hong Kong naik 9,76%, sedangkan KOSPI Korea Selatan anjlok sekitar 27,45%.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa bursa Asia belum bergerak dalam satu arah. Pasar Asia Tenggara relatif lebih kuat, sedangkan pasar yang memiliki eksposur besar terhadap teknologi dan semikonduktor mengalami tekanan lebih berat.

Angka merupakan snapshot pasar 28 Juli 2026 dan dapat berubah mengikuti pergerakan perdagangan. Beberapa indeks masih diperdagangkan secara intraday, sementara indeks lainnya menggunakan harga penutupan terakhir.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |