Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) membeberkan mahalnya investasi proyek pengolahan sampah jadi energi listrik (PSEL) di Indonesia. Bahkan, PSEL dinilai jadi metode penyelesaian masalah sampah yang paling mahal dibandingkan opsi lainnya.
Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq membeberkan estimasi biaya yang diperlukan untuk mendirikan satu unit PLTSa. Ia menyebutkan bahwa belanja modal (Capital Expenditure/Capex) untuk satu proyek saja bisa menelan anggaran hingga Rp 3 triliun, belum termasuk biaya operasional yang mencapai Rp 1 triliun.
"Waste to Energy ini metode teknologi penyelesaian sampah paling mahal. Dibudgetkan hampir sekitar satu unitnya Rp 3 triliun pada saat Capex-nya, kemudian Opex-nya hampir meliputi Rp 1 triliun," ujar Hanif dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, Senin (26/1/2026).
Lantaran biayanya tinggi, proyek WTE dinilai tidak bisa dipaksa untuk diimplementasikan di seluruh daerah Indonesia. Fasilitas tersebut hanya dianggap layak secara keekonomian jika dibangun di wilayah yang memiliki volume timbulan sampah harian yang tinggi, sehingga tidak akan diarahkan ke daerah dengan produksi sampah kecil.
"Jadi untuk itu memang ini hanya jalan keluar pada daerah-daerah yang memang timbulan sampahnya cukup sangat signifikan, sehingga tidak diarahkan kepada daerah-daerah dengan timbulan kecil karena operasionalnya relatif cukup mahal," imbuhnya.
Pemerintah menetapkan kriteria bagi daerah yang ingin membangun fasilitas ini, yakni harus memiliki produksi sampah di atas 1.000 ton per hari. Hal itu mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 109/2025 yang memetakan daerah-daerah prioritas atau aglomerasi yang mendesak untuk ditangani menggunakan teknologi tinggi tersebut.
"Pada prinsipnya, Waste to Energy merupakan Peraturan Presiden Nomor 109 yang mengamanatkan kepada daerah-daerah yang memiliki tumpukan sampah besar di atas 1.000 ton per hari atau aglomerasinya," tutupnya.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]





























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362119/original/035085500_1758837955-Calvin-Verdonk-Europa-League.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5372801/original/040806000_1759769523-1000224866.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5236758/original/069830300_1748524187-Timnas_Indonesia_-_Ricky_Kambuaya__Egy_Maulana__Rizky_Ridho_copy.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366297/original/013965500_1759222382-Formasi_Timnas_Indonesia_vs_Arab_Saudi.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376586/original/086524400_1760009433-WhatsApp_Image_2025-10-09_at_15.16.27.jpeg)

