Jakarta, CNBC Indonesia - Penelitian terbaru menemukan mikroplastik telah mencapai kedalaman laut yang sangat dalam di perairan Indonesia. Partikel plastik berukuran sangat kecil ini bahkan terdeteksi hingga sekitar 2.450 meter di bawah permukaan laut, dan berpotensi masuk ke rantai makanan yang akhirnya dikonsumsi manusia.
Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional Marine Pollution Bulletin. Studi ini dilakukan oleh Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Laut Dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Corry Yanti Manullang, bersama tim peneliti dari Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, dan China.
Penelitian dilakukan di jalur Arus Lintas Indonesia (Indonesian Throughflow/ITF) atau Arlindo, sistem arus laut penting yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui perairan Indonesia. Arus ini mengalir melewati sejumlah selat utama seperti Selat Makassar, Selat Alas, dan Selat Lombok.
"Arlindo ini menghubungkan dua samudra besar, Pasifik dan Hindia. Selain membawa massa air, garam, dan nutrien, arus ini juga berpotensi membawa partikel kecil seperti mikroplastik," kata Corry dikutip dari keteranan resmi BRIN, Minggu (15/3/2026).
Selama ini penelitian Arlindo lebih banyak berfokus pada kondisi fisik laut seperti suhu, salinitas, dan pola arus. Namun distribusi mikroplastik di kolom air hingga laut dalam masih jarang diteliti.
Penelitian dilakukan melalui ekspedisi oseanografi pada Januari hingga April 2021 dalam program kolaborasi internasional TRIUMPH. Pengambilan sampel dilakukan di 11 titik pengamatan dari Selat Makassar hingga Selat Lombok.
Tim peneliti mengumpulkan 92 sampel air laut dari berbagai kedalaman, mulai dari sekitar 5 meter hingga 2.450 meter menggunakan alat rosette sampler yang terhubung dengan sistem CTD (Conductivity, Temperature, Depth).
Dari total 872 liter air laut yang dianalisis, peneliti menemukan 924 partikel mikroplastik dengan rata-rata konsentrasi sekitar 1,062 partikel per liter. Mikroplastik ditemukan di seluruh lokasi penelitian, termasuk pada kedalaman lebih dari dua kilometer di bawah permukaan laut.
Hasil analisis menunjukkan lebih dari 90% mikroplastik berbentuk serat (fiber) yang umumnya berasal dari bahan tekstil sintetis.
"Baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat-serat kecil dari kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan," jelas Corry.
Selain serat, peneliti juga mengidentifikasi beberapa jenis polimer plastik seperti polyester, polypropylene, dan polyurethane yang banyak digunakan dalam produk tekstil, kemasan, hingga bahan industri. Temuan ini menunjukkan laut dalam berpotensi menjadi tempat akumulasi mikroplastik karena arus laut dapat membawa partikel plastik ke berbagai lapisan air.
Foto: Presiden Prabowo Subianto menyaksikan demo laut dan sailing pass TNI AL Tahun 2025 dari kapal KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat - 992, di perairan Teluk Jakarta, Kamis (2/10/2025). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)
Presiden Prabowo Subianto menyaksikan demo laut dan sailing pass TNI AL Tahun 2025 dari kapal KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat - 992, di perairan Teluk Jakarta, Kamis (2/10/2025). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)
Masuk ke Rantai Makanan
Selain meneliti distribusi mikroplastik di air laut, tim peneliti juga mengkaji kemungkinan partikel tersebut masuk ke rantai makanan laut. Dalam studi lain yang dipublikasikan di jurnal Sains Malaysiana, peneliti menemukan mikroplastik telah masuk ke tubuh organisme zooplankton kecil bernama kopepoda di jalur Arlindo.
Kopepoda merupakan organisme yang sangat melimpah di laut dan menjadi sumber makanan penting bagi banyak jenis ikan. Dari sekitar 6.000 individu kopepoda yang dianalisis, peneliti menemukan 133 partikel mikroplastik di dalam tubuh organisme tersebut. Rata-rata tingkat konsumsi tercatat sekitar 0,022 partikel per individu, atau setara dengan satu partikel plastik pada setiap 45 kopepoda.
"Kopepoda tidak bisa membedakan mana makanan alami dan mana partikel plastik. Apa pun yang lewat di depannya akan ditangkap dan dimakan," ujar Corry.
Masuknya mikroplastik ke dalam tubuh kopepoda menjadi perhatian karena organisme ini merupakan makanan utama bagi ikan kecil. Ikan kecil kemudian dimakan ikan yang lebih besar hingga akhirnya dikonsumsi manusia.
"Artinya, mikroplastik berpotensi berpindah sepanjang rantai makanan hingga ke manusia," katanya.
Corry menambahkan penelitian mengenai mikroplastik di laut Indonesia masih perlu diperluas, terutama di wilayah laut dalam. Sekitar 70% wilayah laut Indonesia memiliki kedalaman lebih dari 200 meter, sehingga ekosistem laut dalam masih relatif jarang diteliti.
Ia berharap temuan ini dapat menjadi dasar penelitian lanjutan terkait pergerakan mikroplastik di laut dalam serta dampaknya terhadap ekosistem laut dan kesehatan manusia.
(wur/wur)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425735/original/089258700_1764236014-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Borneo_FC_Samarinda_vs_Bali_United_FC__2_.png)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5277129/original/053973300_1751984892-persib.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425451/original/060959200_1764227597-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Persija_vs_PSIM_Jogja__1_.png)
