Jakarta, CNBC Indonesia - Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun membeberkan kriteria sosok yang cocok untuk menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) baru, penggati Perry Warjiyo yang telah mengundurkan diri sejak 25 Juli 2026.
Paling utama, kata Misbakhun adalah sosok yang bisa mewujudkan apa yang menjadi mandat Undang-Undang BI dan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
"Mandat itu jelas disebutkan, contoh mandat terbaru adalah di mana bank sentral itu mempunyai tanggung jawab
dalam rangka menjaga stabilisasi sistem keuangan. Dia juga mempunyai tanggung jawab untuk melakukan upaya
peningkatan pertumbuhan, menciptakan lapangan pekerjaan," kata Misbakhun dalam program Power Lunch CNBC Indonesia, Kamis (6/8/2026).
Misbakhun mengatakan amat penting bagi pimpinan BI memahami mandat dalam Undang-Undang Bi maupun P2SK agar bisa melanjutkan sinergi fiskal-moneter antara bank sentral dan pemerintah.
Sinergi antara fiskal dan moneter tersebut, dalam rangka sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia dan mencapai visi pertumbuhan ekonomi delapan persen.
"Jadi engine fiscal policy dan monetary policy itu berada dalam satu trajektori yang sama untuk menuju ke pertumbuhan 8% ini," ucap Misbakhun.
Tak hanya dengan pemerintah, sinergi juga perlu dibangun bersama Komite Stabilisasi Sistem Keuangan (KSSK) yang terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia sendiri, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan.
Tujuannya adalah untuk mencapai visi dan misi negara, yakni kesejahteraan yang bisa dicapai jika ekonomi bisa bertumbuh.
"Tujuannya semua lembaga negara yang ada itu adalah konstitusi, mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan masyarakat bisa dicapai dengan apa? Ya salah satunya dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi."
Selain itu, pimpinan BI nantinya bisa melakukan operasi moneter yang dapat menumbuhkan ekonomi, seperti menyediakan ketersediaan likuiditas sehingga mampu diserap ekonomi, menumbuhkan investasi, dan menciptakan lapangan pekerjaan.
"Operasi-operasi moneter kita adalah operasi moneter yang bagaimana memberikan dampak penguatan terhadap sektor riil. Perbankan merasa dibantu, bukan perbankan yang merasa bahwa dananya diambil di GWM, kemudian dari GWM itu dikelola oleh bank sentral untuk kemudian dijadikan instrumen
kebijakan moneter," tegas Misbakhun.
"Nah, kebijakan-kebijakan yang lebih baru, lebih modern itu harus dibuat," lanjutnya.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]


































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4936730/original/025851900_1725466519-1725444595272.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5393838/original/002135200_1761616295-SnapInsta.to_572361050_18431712469108400_6389749718744703427_n.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5554928/original/044276700_1776137094-u-17.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3989263/original/000498500_1649402021-Timnas_Indonesia_-_Ricky_Kambuaya._dan_Marc_Klok_copy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550399/original/004773400_1775690155-KEN01461.jpg)
