Susi Setiawati, CNBC Indonesia
10 February 2026 09:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Sentimen MSCI mulai mereda setelah membuat huru-hara pada dua pekan lalu.
Sebagaimana kita tahu, bahwa akhir Januari Morgan Stanley Capital Index (MSCI) memberikan ultimatum kepada bursa kita untuk lebih transparan terhadap data free float, kalau tidak mereka akan menurunkan kasta market Indonesia menjadi Frontier Market.
Kalau itu terjadi, pelaku pasar khawatir dana asing bisa menguap lebih dari Rp150 triliun. Sejak saat itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terjun sampai trading halt dua kali beruntun.
IHSG sempat menguji titik terendah ke level 7600, ambles 18% lebih kalau ditarik dari puncak tertinggi yang tercapai pada 20 Januari 2026 di mana indeks bursa saham kita bertengger di atas 9000.
Crash gara-gara MSCI ini terjadi kurang dari seminggu dan sampai pekan pertama Februari ini, pemulihan IHSG masih cenderung terbatas.
Anjloknya IHSG akhir Januari 2026 lalu lebih parah dibandingkan pandemi pada 2020 lau dan kejatuhan tercepat dalam sejarah, mengalahkan krisis subprime mortgage 2007/2008 silam yang terjun selama tiga minggu.
Namun, bukan berarti tidak mampu pulih. Sejarah membuktikan kalau setelah IHSG jatuh dalam waktu beberapa pekan, paling cepat selama 22 minggu atau lima bulan dan paling lama sampai 123 minggu atau dua tahun empat bulan.
Rotasi Saham Konglo ke Value Siap Dimulai
Setelah kejatuhan indeks akhir bulan lalu, investor mulai menyadari bahwa pergerakan indeks tidak lagi semata ditentukan oleh keluar-masuknya saham dalam indeks global seperti MSCI, melainkan oleh dinamika rotasi sektor dan valuasi yang semakin selektif.
Rotasi pasar kini mulai terlihat jelas, dari saham-saham konglomerasi berkapitalisasi jumbo menuju saham-saham value yang selama ini tertinggal secara harga. Emiten dengan fundamental relatif solid, valuasi murah, serta kinerja operasional yang stabil mulai kembali dilirik, seiring pasar mencari "anchor" baru pasca volatilitas tinggi.
Fenomena ini mencerminkan perubahan perilaku investor yang tak lagi sekadar berburu saham berbasis sentimen atau narasi besar, tetapi mulai kembali ke pendekatan fundamental.
Saham-saham yang sebelumnya tertekan akibat minimnya likuiditas, rendahnya free float, atau kurang mendapat sorotan asing, justru berpotensi menjadi pemenang dalam fase rotasi ini.
Di sisi lain, tekanan pada saham-saham tertentu yang selama ini menjadi penopang IHSG juga membuka ruang penyeimbangan struktur indeks. Ketergantungan berlebihan pada segelintir saham besar dinilai mulai berkurang, memberi peluang kontribusi yang lebih merata dari sektor dan emiten lain.
Sebagaimana terlihat pada tabel berikut, porsi saham konglo besar seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berangsur susut. Sementara itu yang terlihat turun kasta paling jauh ada dua saham yaitu PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang mentok bertengger di deretan terbawah dari 20 teratas market cap di bursa.
Ke depan, arah pergerakan IHSG diperkirakan akan semakin ditentukan oleh kualitas kinerja emiten, pertumbuhan laba, serta kemampuan menjaga likuiditas dan struktur permodalan.
Dalam hal ini, aham value berpotensi menjadi katalis baru penguatan indeks, terutama di tengah pasar yang mulai rasional dan tidak lagi reaktif terhadap sentimen indeks global.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5379723/original/026526700_1760356768-1000294045.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5338912/original/039061000_1756988370-2N3A9178.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383180/original/082158500_1760632502-Azrul_Ananda___Robertino_Pugliara__dok_Persebaya_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317021/original/038490300_1755266531-SaveClip.App_533385198_17850905229531514_3419499828321647333_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5347461/original/084430700_1757672387-547847842_18531923638014746_4748068569041253567_n.jpg)







