Pakar Jawab Misteri Masalembu Kuburan Kapal di Segitia Bermuda Laut RI

10 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Perairan Masalembu jadi sorotan pascakecelakaan KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa pada hari Minggu (13/9/2026) dini hari lalu. Hingga saat ini, pencarian korban hilang akibat kecelakaan itu masih berlangsung.

Disebutkan dalam manifes, KM Virgo mengangkut 240 orang dan sampai saat ini masih dalam proses pencarian korban hilang. Per hari Senin (14/9/2026), sebanyak 114 korban telah dievakuasi, di mana 6 orang di antaranya sudah meninggal dunia.

Perairan Masalembu (sering dilafalkan Perairan Masalembo) berlokasi di tengah Laut Jawa bagian timur. Letaknya di sebelah utara Kabupaten Sumenep, masuk ke wilayah Sumenep, Jawa Timur.

Perairan ini sering disebut sebagai Segitiga Bermuda Indonesia, pertemuan arus Laut Jawa, Laut Flores, dan Selat Makassar. Mengelilingi tiga pulau utama, yaitu Pulau Masalembu, Pulau Masakambing, dan Pulau Keramaian. Mengutip situs resmi Universitas Airlangga, semua kepulauan tersebut berada di wilayah Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur.

Selat Makassar merupakan salah satu jalur penting Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang membawa massa air dari kawasan Pasifik menuju perairan Indonesia bagian selatan. Sementara, Laut Jawa dan Laut Flores memiliki karakteristik sirkulasi yang dipengaruhi oleh konfigurasi kepulauan, pasang surut, serta perubahan musiman akibat sistem monsun.

Lantas, bagaimana sebutan Segitiga Bermuda melekat pada Perairan Masalembu? Benarkah karena di lokasi ini kecelakaan kapal begitu sering terjadi?

Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) mengakui, Perairan Masalembo selama bertahun-tahun memang sering dikaitkan dengan berbagai cerita mistis.

"Bahkan disebut sebagai Segitiga Bermuda Indonesia. Namun, dari perspektif sains, kawasan ini jauh lebih menarik untuk dipahami sebagai bagian dari sistem laut Indonesia yang memiliki dinamika oseanografi dan meteorologi maritim yang kompleks," katanya, Rabu (16/9/2026).

"Segitiga itu bagi saya hanya istilah saja, riilnya nggak ada," tambah Daryono.

Dia menegaskan, kompleksitas di Masalembu tidak berarti perairan itu memiliki fenomena laut misterius atau unik yang secara otomatis menyebabkan kapal tenggelam.

"Risiko pelayaran di kawasan ini lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi berbagai faktor, antara lain angin, gelombang, arus, pasang surut, kondisi atmosfer, batimetri, karakteristik kapal, muatan, serta keputusan dan prosedur navigasi," ucapnya.

Perairan Masalembu, sambung dia, bukan sekadar tempat bertemunya tiga laut. Tapi juga tempat pertukaran massa air yang dinamis.

"Perbedaan temperatur, salinitas, densitas, kedalaman, dan arah arus dapat membentuk struktur laut yang kompleks, baik secara horizontal maupun vertikal," kata dia.

"Pada kondisi tertentu, perbedaan densitas antarlapisan dapat menghasilkan stratifikasi laut dan shear arus, yaitu perbedaan kecepatan atau arah arus antara satu lapisan dengan lapisan lainnya. Proses tersebut dapat berhubungan dengan turbulensi, pencampuran massa air, maupun fenomena gelombang internal," jelasnya.

"Namun, fenomena ini tidak boleh langsung dianggap sebagai penyebab kapal kehilangan daya apung atau kendali," tegas Daryono.

Sebab, sambung dia, ada sejumlah faktor lain yang juga berpengaruh sangat penting. Mulai dari faktor lingkungan mencakup angi, gelombang, arus, pasang surut, cuaca konfektif, awan Cumulonimbus, serta bentuk dan kedalaman dasar laut (batimetri). Juga ada faktor dari kapal itu sendiri dan operasionalnya. Meliputi stabilitas, distribusi dan pengamanan muatan, kondisi teknis, kecepatan pelayaran, kemampuan manuver, kompetensi awak, serta keputusan navigasi.

"Masalembu berada dalam wilayah yang dipengaruhi sistem monsun Asia -Australia. Perubahan arah dan kecepatan angin dapat memengaruhi pembentukan serta propagasi gelombang. Dalam kondisi tertentu, gelombang yang datang dari arah berbeda dpt bertemu dan membentuk cross-sea, yaitu kondisi ketika terdapat sistem gelombang dari lebih dari satu arah," papar Daryono.

"Ketika awan Cumulonimbus berkembang kuat, dapat terjadi hujan lebat, petir, downdraft, dan gust front. Hembusan angin yang berubah cepat dapat menyebabkan kondisi laut berubah dalam waktu relatif singkat. Bagi kapal, perubahan mendadak pada angin dan gelombang dpt meningkatkan beban dan gerakan kapal. Kombinasi angin, gelombang, dan arus merupakan parameter penting yang perlu diperhatikan dalam pelayaran," terangnya.

Terkait kedalaman laut, Daryono mengingatkan, perubahan kedalaman tidak selalu berarti tinggi gelombang akan meningkat secara drastis. Besarnya perubahan bergantung pada periode dan arah datang gelombang, kedalaman laut, bentuk dasar laut, pasang surut, serta kondisi arus setempat.

"Karena itu, kondisi laut yang berbahaya di Masalembu sebaiknya tidak dijelaskan dengan satu mekanisme tunggal. Risiko pelayaran merupakan hasil interaksi antara faktor lingkungan dan faktor manusia serta kapal," cetusnya.

Di saat bersamaan, Daryono mengingatkan, fenomena oseanografi dan meteorologi yang dibahas dalam artikel ini tidak boleh dianggap sebagai kesimpulan penyebab kecelakaan Virgo Transport 8.

"Fenomena tersebut merupakan faktor lingkungan yang secara fisik dapat memengaruhi kondisi pelayaran. Tetapi kontribusi masing-masing faktor harus dibuktikan melalui data dan investigasi kecelakaan," katanya.

Karena itu juga, tambah Daryono, perlu menghindari anggapan semua kecelakaan di Masalembu disebabkan oleh kondisi alam.

"Kecelakaan kapal pada dasarnya merupakan peristiwa yang dapat melibatkan banyak faktor secara bersamaan. Investigasi yang baik harus melihat kondisi cuaca dan laut, kondisi kapal, muatan, stabilitas, mesin, navigasi, keputusan operasional, hingga faktor manusia," ucapnya.

"Dengan demikian, Masalembu tidak perlu dijelaskan sebagai wilayah mistis atau "kuburan kapal". Secara ilmiah, kawasan ini merupakan lingkungan laut yang dinamis dan kompleks," ujarnya.

Daryono mengatakan, pelajaran terpenting dari Masalembo adalah bahwa keselamatan pelayaran membutuhkan informasi cuaca dan laut yang aktual, perencanaan pelayaran yang baik, pemantauan kondisi kapal dan muatan, kesiapan awak.

"Serta keberanian mengambil keputusan untuk menunda atau mengubah pelayaran ketika kondisi tidak aman," tukasnya.

"Masalembu bukan misteri. Masalembu adalah pengingat bahwa laut harus dipahami dengan sains, dipantau dengan data, dan dilayari dengan perencanaan serta kewaspadaan tinggi," kata Daryono.

[Gambas:Instagram]

(dce/dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |