- Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam, saham menguat sementara rupiah jatuh
- Wall Street akhirnya bangkit setelah terpuruk berhari-hari
- APBN KiTa serta data ekonomi dalam dan luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam pada perdagangan Kamis kemarin (17/9/2026). Bursa saham menguat sementara nilai tukar rupiah melemah.
Sentimen pasar kemarin masih dibayangi perkembangan konflik di Timur Tengah serta keputusan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).
Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit pada perdagangan Kamis (17/9/2026) dengan menguat 0,40% atau 25,58 poin ke level 6.462,43.
Kenaikan ini mengakhiri tren negatifnya yang jatuh selama tujuh hari beruntun.
Sebanyak 384 saham menguat, 244 saham melemah, dan 164 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp13,92 triliun, dengan volume perdagangan 28,52 miliar saham dan frekuensi transaksi sekitar 1,86 juta kali.
Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 160,16 miliar. Ini adalah net buy pertama dalam tujuh hari terakhir.
Dari sisi sektoral, mayoritas sektor berhasil ditutup di zona hijau. Penguatan terbesar datang dari sektor konsumer, energi, dan teknologi.
Sebaliknya, sejumlah sektor masih tertekan, yakni kesehatan, properti, utilitas, dan barang baku.
Sejumlah saham menjadi penopang utama IHSG pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menjadi beberapa emiten yang menopang penguatan indeks.
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah kembali berakhir di zona merah terhadap dolar AS.
Merujuk data Refinitiv, rupiah melemah 0,34% dan mengakhiri perdagangan Kamis (17/9/2026) di posisi Rp17.735/US$.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 7,154%, dari 7,141% pada hari sebelumnya.
Kenaikan imbal hasil ini menandai harga SBN yang turun karena banyak dijual investor.






































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336164/original/038669600_1788142068-WhatsApp_Image_2026-08-30_at_22.34.27.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336881/original/062566600_1788192972-1000510076.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340905/original/042907900_1788529611-IMG_6511.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340290/original/025401600_1788499994-Raihan1.jpg)