Pedagang Beras Cipinang Minta Pemerintah-Bulog Tak Jual Beras Premium

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana Perum Bulog menjual Beras Kita dalam varian premium dan medium untuk membantu menstabilkan harga beras di tingkat konsumen menuai keberatan dari pedagang.

Menurut Ketua Koperasi Pedagang Pasar Induk Beras Cipinang (KOPIC) Dedy, langkah tersebut justru berpotensi mematikan usaha produsen dan distributor beras swasta, karena pemerintah memiliki keunggulan memperoleh gabah dengan harga lebih murah dibanding pelaku usaha.

Ia menilai mahalnya harga beras premium saat ini bukan disebabkan pedagang mengambil keuntungan berlebihan, melainkan karena produsen kesulitan memenuhi ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) di tengah mahalnya harga beli gabah.

"Sepengetahuan saya Bulog mau memproduksi beras SPHP yang premium, mungkin ini dampak dari kekosongan beras premium di tingkat ritel. Karena Banyak Produsen Beras tidak mampu lagi menjual di tingkat ritel yang harganya dipatok Rp14.900 per kg. Jelas ini sangat beralasan karena mereka mendapatkan bahan dasarnya (gabah) mahal," kata Dedy kepada CNBC Indonesia, Jumat (17/7/2026).

Dedy mengatakan, kondisi tersebut berbeda dengan Bulog yang dapat menyerap gabah sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp6.500 per kg. Akibatnya, biaya produksi Bulog dinilai jauh lebih rendah dibanding produsen swasta.

"Berbeda dengan pemerintah yang mampu membeli gabah dengan harga sesuai HPP yang ditetapkannya. Maka Produsen beras yang biasanya mengisi beras premium tidak mampu lagi untuk menjualnya sesuai dengan HET yang ditetapkan pemerintah," ujarnya.

"Makanya banyak produsen beras yang berkapital besar, yang beralih memproduksi beras khusus, karena tidak ada batasan harga sehingga bisa mendapatkan margin yang menguntungkan," sambung dia.

Menurut Dedy, akar persoalan seharusnya diselesaikan dengan mengevaluasi HET beras premium maupun medium agar mencerminkan kondisi biaya produksi saat ini, bukan dengan membuat pemerintah ikut bermain di segmen beras premium.

"Semestinya menurut pendapat saya, pemerintah sebaiknya segera mengevaluasi kembali HET baik di tingkat medium ataupun premium sehingga tercipta keseimbangan penjualan dari hulu sampai hilir. Bagaimanapun ini menjadi problem bagi kami sebagai pedagang di tingkat distributor," kata Dedy.

Ia bahkan mengaku khawatir apabila Bulog benar-benar menjual beras premium, pelaku usaha swasta akan semakin terdesak karena harus bersaing langsung dengan pemerintah.

"Kami menaruh harapan besar kepada pemerintah, dan kalau boleh usul sebaiknya pemerintah cukup menyediakan beras di tingkat medium saja, pemerintah tidak perlu memproduksi beras premium. Kalau ini betul-betul dilaksanakan, saya memiliki kekhawatiran sebagian produsen beras dan bahkan pedagang, usahanya akan terhenti," ucap dia.

"Kebijakan seperti itu seolah-olah kami sebagai pedagang terpinggirkan. Bahkan kami seperti memiliki kompetitor baru di tingkat produsen. Keadaan pasar sendiri sudah cukup mengkhawatirkan karena seringnya sepi pembeli," lanjutnya.

Dedy berharap pemerintah tetap membantu menjaga keterjangkauan harga beras, namun dilakukan melalui penyediaan stok beras medium yang dapat dijual kembali oleh pedagang kepada masyarakat.

"Saya memohon kepada pemerintah agar keadaan ini untuk menjadi perhatian, karena sampai dengan saat ini suplai dari daerah harga masih cukup tinggi, kami sebenarnya mengharapkan dan menaruh harapan besar kepada pemerintah, agar pemerintah pun mau menyediakan beras untuk kami jual kembali kepada konsumen dengan harga yang murah dan terjangkau," ujar Dedy.

Sebelumnya, Bulog berencana meluncurkan produk baru bernama Beras Kita yang akan dipasarkan dalam varian premium dan medium. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, rencana itu sudah dilaporkan kepada Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman.

"Jadi tadi pagi kami juga sudah lapor ke Pak Mentan (Amran) rencana produk baru dari Bulog, yaitu Beras Kita Premium dan Beras Kita Medium," kata Rizal saat ditemui di kantor Kementan, Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Bulog menargetkan produksi Beras Kita mencapai sekitar 2 juta ton. Volume itu diharapkan bisa direalisasikan tahun ini hingga paling lambat pertengahan tahun depan, setelah mendapat restu dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

Saat ditanya apakah nama SPHP resmi akan diganti menjadi Beras Kita, Rizal mengatakan identitas SPHP tetap ada, namun hanya ditampilkan dalam ukuran kecil di kemasan. Sementara nama merek utama yang akan ditonjolkan adalah Beras Kita.

Soal harga jual, Rizal mengatakan Bulog masih menunggu pembahasan lebih lanjut di tingkat pemerintah. Konsep harga akan dibahas terlebih dahulu di Kemenko Pangan sebelum diputuskan lewat Rakortas.

"Untuk harga nanti kita sesuaikan. Nanti konsep ini akan dirapatkan dulu di Kemenko Pangan, nanti nunggu persetujuan dari hasil Rakortas, namun pada prinsipnya dari Pak Mentan sudah disetujui 2 juta ton," sebut dia.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |