Jakarta, CNBC Indonesia - Harga ayam hidup (livebird) di tingkat peternak mulai menunjukkan tren kenaikan setelah sempat anjlok dalam dua bulan terakhir. Namun, kenaikan tersebut belum sepenuhnya menjadi kabar baik bagi peternak lantaran biaya produksi juga ikut membengkak. Sementara itu, harga telur justru masih lesu dan berada di bawah biaya pokok produksi.
Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi mengatakan, harga ayam mulai bergerak naik sejak Senin (13/7/2026) kemarin. Namun demikian, harga yang ada saat ini masih berada di kisaran bahkan di bawah biaya pokok produksi peternak.
"Harga ayam sudah mulai bergerak naik, mulai hari Senin 13 Juli 2026 setidaknya kerugian para peternak berkurang. Saat ini harga ayam hidup (di peternak) di kisaran Rp20.000 per kg, dibandingkan dengan Juni yang Rp13.000 (per kg). Artinya ada kenaikan. Biaya pokok peternak saat ini Rp20.000-Rp22.000 per kg," kata Sugeng kepada CNBC Indonesia, Jumat (17/7/2026).
"Namun kenaikan harga ayam hidup juga diikuti naiknya harga anak ayam yang semula Rp4.000 an per ekor, saat ini harganya Rp6.500 per ekor, sementara harga pakan juga naik Rp1.000-an per kg dari awal Mei," sambungnya.
Sugeng mengatakan, kondisi tersebut tentunya masih menjadi tantangan yang menyulitkan para peternak.
"Kondisi ini yang menyulitkan para peternak, di satu sisi harga ayam naik, di sisi yang lain sarana produksinya juga naik, yang berefek pada naiknya biaya-biaya produksi," ujar Sugeng.
Menurut dia, membaiknya harga ayam tidak lepas dari mulai berkurangnya pasokan di pasar. Salah satunya didorong oleh meningkatnya permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), meski produksi ayam secara keseluruhan masih tergolong tinggi.
"Suplai yang berlebih di dua bulan terakhir, terkurangi dengan adanya demand (permintaan) MBG betul, tetapi produksi juga memang masih lebih, ini yang terjadi di 2 bulan terakhir. Upaya para pelaku untuk memotong ayam-ayamnya di rumah potong ayam terutama pelaku-pelaku yang besar juga berpengaruh terhadap suplai," katanya.
Di sisi lain, Sugeng mengungkapkan kenaikan harga bahan baku produksi, terutama pakan dan anak ayam atau day old chick (DOC), masih menjadi keluhan utama peternak. Ia menyambut baik imbauan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, agar produsen pakan tidak kembali menaikkan harga selama Juli.
"Tingginya harga-harga input pakan dan DOC, yang jadi keluhan peternak direspon Dirjen PKH dengan himbauan, agar di bulan Juli ini tidak ada kenaikan pakan. Semoga pabrik pakan ternak mengindahkan himbauan tersebut, sekalian berupaya agar harga ayam naik, setidaknya di atas biaya pokok peternak dan menuju ke HAP (harga acuan pembelian) yang besarannya Rp25.000 per kg," ucap dia.
Bagaimana dengan Harga Telur?
Sementara itu, Ketua Asosiasi Peternak Layer Nasional (APLN) Musbar Mesdi mengatakan, kondisi peternak ayam petelur hingga kini juga belum membaik. Rendahnya harga jual telur dinilai tidak lepas dari melemahnya daya beli masyarakat yang masih terbebani biaya hidup.
"Harga jual komoditas kita parah gara-gara biaya hidup harian masyarakat berat sekali. Harga telur di tingkat peternak Rp21.000-Rp22.000 per kg, sementara titik impas dengan kondisi saat ini, atau biaya pokok produksinya untuk ayam petelur Rp23.000-Rp24.000 per kg," kata Musbar dihubungi terpisah.
Senada dengan itu, Sugeng juga menyebut harga telur di tingkat peternak hingga kini belum mengalami kenaikan. Padahal sebelumnya Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono sempat meminta agar harga telur di tingkat peternak mencapai Rp24.000 per kg.
"Kalau telur, info yang saya terima harga telur ayam di kandang masih belum naik. Waktu itu kan diminta harga di tingkat peternak Rp24.000 (per kg) oleh Wamentan, tetapi saat ini kan di posisi Rp22.000, kadang turun ke Rp20.000 an per kg," ujar Sugeng.
Harapan untuk Pemerintah
Untuk membantu keberlangsungan usaha peternak, terutama skala kecil, Sugeng berharap pemerintah tidak hanya mengeluarkan imbauan kepada industri pakan, tetapi juga menyiapkan kebijakan yang dapat menekan biaya produksi.
Menurutnya, biaya pakan mencapai sekitar 70% dari total biaya pokok produksi. Karena itu, fluktuasi nilai tukar dolar dan harga bahan baku seperti jagung maupun soybean meal (SBM) sangat cepat berdampak terhadap biaya yang harus ditanggung peternak.
"Biaya pakan komposisinya 70% dari biaya pokok produksi. Sementara jika ada gejolak dolar dan lainnya, dengan serta merta harga cepat naik, setidaknya di samping himbauan juga harus dipikirkan upaya pemerintah untuk memberikan subsidi material pakan ke pelaku-pelaku yang kecil, atau peternak kecil. Karena yang terdampak, misal material jagung, soy bean meal (SBM) atau lainya sehingga biaya pokok produksi peternak bisa lebih rendah," jelasnya.
Selain subsidi bahan baku pakan, Sugeng juga berharap pemerintah memperkuat penyerapan ayam dan telur melalui cadangan pangan nasional dengan melibatkan pelaku usaha besar. Menurutnya, langkah tersebut juga dapat dioptimalkan melalui program-program sosial pemerintah, termasuk penanganan stunting, sehingga harga ayam dan telur lebih stabil sekaligus menjaga keberlangsungan usaha peternak kecil.
"Dari sisi hilirnya, serapan yang diinisiasi pemerintah dengan keterlibatan pelaku-pelaku besar, dan memaksimalkan cadangan pangan nasional layak untuk dikerjakan, termasuk pelaksanaan program sosial penanggulangan stunting dengan daging ayam dan telur, akan sangat membantu keberlangsungan bagi peternak kecil, dan pencapaian harga ayam yang relatif stabil, sehingga tidak membingungungkan konsumen," pungkasnya.
Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka Tinjau Program MBG di Wamena, Papua, Rabu (14/1/2026). (CNBC Indonesia/Halimatus Sa’diyah) Foto: Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka Tinjau Program MBG di Wamena, Papua, Rabu (14/1/2026). (CNBC Indonesia/Halimatus Sa’diyah)
(dce)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461718/original/089739600_1767433302-WhatsApp_Image_2026-01-03_at_15.59.48.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5174417/original/068290200_1742926263-Timnas_Indonesia_vs_Bahrain-13.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5536828/original/015894100_1774345041-20260324IQ_Latihan_Timnas_Indonesia_FIFA_Series-3.jpg.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378168/original/023047200_1760212331-562537073_18529363246047097_5022954532577445981_n__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541724/original/004752700_1774880357-20260330IQ_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-07.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124725/original/012562100_1738900750-Snapinst.app_469631839_1277354356876290_8996091991068552124_n_1080.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392662/original/015477500_1761480498-570444906_17988467495902645_8612739450593707224_n.jpg)


