Pelan-Pelan Jabodetabek Berubah Ikut Cara Warga di Singapura-Hong Kong

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan lanskap hunian di kota-kota besar tidak terelakkan. PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) menilai rumah susun dan apartemen akan menjadi pilihan dominan di wilayah urban, khususnya Jabodetabek.

Direktur Bisnis SMF Heliantopo mengatakan pergeseran dari rumah tapak ke hunian vertikal merupakan proses alami sebagaimana terjadi di berbagai negara.

"Di kota-kota padat seperti Singapura, Hong Kong, bahkan Kuala Lumpur, masyarakatnya rata-rata tinggal di rumah susun atau apartemen," ujarnya dalam konferensi pers Rabu (4/3/2026) sore.

Faktor keterbatasan lahan dan jarak tempat tinggal dengan lokasi kerja akan mendorong masyarakat mempertimbangkan efisiensi biaya secara menyeluruh, termasuk ongkos transportasi dan waktu tempuh.

"Nanti masyarakat akan membandingkan antara biaya transportasi, waktu, kelelahan, dengan kalau tinggal di apartemen yang lebih dekat tempat kerja. Itu mana yang lebih efisien," katanya.

Pergeseran ini mungkin berlangsung perlahan karena faktor budaya. Selama ini, masyarakat Indonesia cenderung lebih memilih rumah tapak.

"Memang mungkin budayanya belum terbiasa tinggal di rumah susun. Tapi dengan keterbatasan lahan dan jarak rumah ke tempat kerja, pelan-pelan itu akan bergeser," jelasnya.

Saat ini pemerintah yang mulai memperluas intervensi perumahan tidak hanya pada rumah tapak, tetapi juga rumah susun melalui skema FLPP. Chief Economist SMF, Martin Daniel Siyaranamual, menilai kebijakan tersebut merupakan respons terhadap kebutuhan riil di lapangan.

"Kalau bicara kota besar, pilihan terakhir itu rumah susun. Tidak mungkin lagi rumah tapak dengan harga terjangkau tersedia di pusat kota," ujarnya.

Martin menekankan pentingnya merumuskan intervensi perumahan berdasarkan kebutuhan yang jelas, apakah fokus pada kepemilikan atau pada kelayakan hunian.

"Yang pertama harus dilihat itu kebutuhannya apa. Apakah soal kepemilikan atau kelayakan hunian? Karena pendekatan kebijakannya bisa berbeda," katanya.

Ia juga menyoroti stigma terhadap rumah susun yang masih kerap dipandang negatif oleh sebagian masyarakat.

"Stigma bahwa rusun itu kumuh dan tidak layak itu yang harus diubah. Di banyak negara, tinggal di apartemen itu hal yang sangat lazim dan tidak ada masalah," tegas Martin.

Dengan perencanaan yang tepat dan dukungan pembiayaan yang memadai, rumah susun bisa menjadi solusi strategis untuk menjawab tantangan urbanisasi.

"Ketika lahan terbatas dan kebutuhan tinggi, maka hunian vertikal adalah keniscayaan. Tinggal bagaimana kita menyosialisasikan dan memastikan kualitasnya," ujar Martin.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |