Pengusaha Ungkap Keresahan Industri EV Terkait Impor Bahan Baku

7 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Direktur Utama PT Selamat Sempurna Tbk Ang Andri Pribadi mengungkapkan kondisi geopolitik global membawa dampak bagi industri Electric Vehicle. Terutama pada ketersediaan bahan baku yang bergantung impor.

Dia menyebut beberapa bahan baku industri EV masih bergantung pada impor seperti besi baja, filter, dan aluminium. Negara pengimpor bahan baku tersebut berasal dari Korea dan China.

"Untuk komponen memang tergantung pada produknya. Ada komponen yang diuntungkan dan ada yang tidak. Seperti radiator, kondensor, ini tantangan bagi kami," kata dia dalam Coffee Morning "Building a Resilient Automotive Ecosystem Beyond EV Amid Global Supply Chain Shift" yang diselenggarakan CNBC Indonesia bersama DBS Indonesia, Rabu (16/9/2026).

Di sisi lain, Andri menyebutkan pihaknya juga sudah melakukan antisipasi dalam menghadapi tantangan tersebut dengan fokus kepada heavy equipment.

"Salah satunya, buat kami, kami mengalihkan fokus kami yang kami sebelumnya adalah untuk passenger car. Kami sudah bergerak, kami fokus untuk heavy equipment dan komersial filter, seperti bus, truck," ungkap dia.

"Kami juga harus mengikuti EV dan kami juga sudah memproduksi filter. Untuk EV kami sudah sekitar 80 STI untuk support," ungkap Andri.

Dalam kesempatan yang sama, CEO PT Mobil Anak Bangsa Indonesia Kelik Irwantono mengatakan bahwa besi baja sebagai komponen utama masih terkendala untuk dikembangkan di dalam negeri.

"Jadi kalau saya, kita kan beli sasis, kalau kita bicara sasis, itu baja. Kalau kita import atau kita ambil baja di Indonesia pun jadi minimal," kata dia.

Selain itu adalah baterai yang terbuat dari lithium. Menurut dia bahan ini tak terdapat di Indonesia.

"Kita berharap nantinya ke depan baterai ini diproduksi di lokal. Karena semangat kita sama, sebagai pemain lokal adalah bahwa kita mau meningkatkan terus baterai," tutur dia.

Kelik menegaskan yang paling utama dalam memperkuat rantai pasok ekosistem EV adalah regulasi dari pemerintah. Pemerintah dapat melakukan pembatasan bagi negara-negara yang menjadi Indonesia sebagai market.

"Ini fakta di lapangan, bahwa Indonesia jangan dijadikan pasar. Tapi siapa pun bersaing sehat di Indonesia, cuma kita berharap EV ini diproduksi di Indonesia," pungkas dia.

(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |