Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Utara kembali memamerkan kekuatan militernya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengawasi langsung peluncuran rudal hipersonik yang disebut sebagai teknologi "mutakhir", dalam uji coba yang bertujuan menyiapkan kekuatan nuklir Pyongyang untuk menghadapi kemungkinan perang.
Menurut kantor berita Korut, KCNA, Kim menegaskan bahwa uji coba tersebut mencerminkan kesiapan pasukan nuklir Korea Utara, yang secara resmi dikenal sebagai Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK). Peluncuran ini disebut kian mendesak di tengah "krisis geopolitik" dan dinamika internasional yang kian kompleks, sebuah pernyataan yang secara jelas merujuk pada serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela pada akhir pekan lalu.
"Pencapaian penting telah diraih baru-baru ini dalam menempatkan kekuatan nuklir kita pada basis yang praktis dan mempersiapkannya untuk perang yang sesungguhnya," kata Kim, seperti dikutip KCNA, Senin (5/1/2026).
Ia menambahkan bahwa aktivitas tersebut "ditujukan untuk secara bertahap menempatkan pencegah perang nuklir pada tingkat pengembangan yang tinggi".
Peluncuran rudal itu terdeteksi oleh Korea Selatan dan Jepang pada Minggu. Kedua negara menyatakan bahwa mereka mendeteksi peluncuran dua rudal balistik dari wilayah dekat Pyongyang.
Uji coba tersebut menjadi yang pertama dilakukan Korea Utara pada tahun ini, hanya beberapa jam sebelum Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung bertolak ke Beijing untuk melakukan pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin China.
Lee sebelumnya menyatakan harapannya untuk memanfaatkan pengaruh China terhadap Korea Utara guna memperbaiki hubungan Seoul dengan Pyongyang. Namun, uji coba rudal terbaru ini justru menyoroti ketegangan yang terus membayangi kawasan Asia Timur Laut.
Foto-foto yang dirilis media pemerintah memperlihatkan Kim Jong Un sedang mengisap rokok, didampingi para pejabat tinggi, ketika sebuah rudal melesat ke langit pagi.
Dalam pernyataannya, Kim menyebut kebutuhan akan uji coba tersebut "dicontohkan oleh krisis geopolitik baru-baru ini dan berbagai peristiwa internasional yang rumit", yang dipandang sebagai sindiran langsung terhadap penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat.
Operasi Amerika Serikat itu dianggap sebagai skenario terburuk bagi kepemimpinan Korea Utara. Selama bertahun-tahun, Pyongyang menyatakan kekhawatirannya terhadap kemungkinan "serangan pemenggalan kepemimpinan" dan menuduh Washington berupaya menggulingkan rezimnya.
Pada Minggu, Korea Utara mengecam tindakan AS tersebut sebagai "pelanggaran serius terhadap kedaulatan" yang "sekali lagi dengan jelas menegaskan sifat Amerika Serikat yang brutal dan bertindak di luar hukum".
Pesan Pencegah Perang
Korea Utara selama beberapa dekade membenarkan program nuklir dan rudalnya sebagai upaya pencegahan terhadap dugaan upaya perubahan rezim oleh Amerika Serikat. Menurut Hong Min, analis di Korea Institute for National Unification yang berbasis di Seoul, peluncuran pada Minggu tersebut dapat dibaca sebagai pesan strategis dari Pyongyang.
"Peluncuran ini dapat ditafsirkan sebagai sinyal bahwa Pyongyang memiliki pencegah perang dan kemampuan nuklir, tidak seperti Venezuela," kata Hong kepada AFP.
Ia juga menyoroti laporan media pemerintah yang menyebut Kim Jong Un mengunjungi sebuah fasilitas yang terlibat dalam pembuatan senjata berpemandu taktis. Kunjungan itu, menurut Hong, menunjukkan kemampuan Korea Utara untuk melancarkan serangan yang lebih presisi dibandingkan sistem peluncur roket ganda yang ada, dari berbagai platform, termasuk udara dan darat.
Sistem senjata baru Korea Utara yang menggunakan rudal hipersonik pertama kali diuji pada Oktober lalu. Rudal hipersonik mampu melaju dengan kecepatan lebih dari lima kali kecepatan suara dan dapat bermanuver di tengah penerbangan, sehingga jauh lebih sulit dilacak dan dicegat oleh sistem pertahanan rudal konvensional.
Senjata jenis ini telah digunakan secara mematikan dalam konflik global dalam beberapa tahun terakhir. Rusia, yang hubungannya dengan Korea Utara semakin erat, menggunakan rudal hipersonik dalam serangan ke kota-kota di Ukraina. Iran juga dilaporkan memakainya dalam serangan terhadap Israel.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)







