Potret Pesawat Elektrik Terbesar di Dunia, Modal Listrik Rp88 Ribu

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pesawat elektrik terbesar di dunia baru saja melakukan penerbangan perdananya dengan menggunakan listrik senilai US$ 5 atau setara dengan Rp 88 ribu.

Pesawat milik perusahaan startup Swedia, Heart Aerospace melepas maskapai miliknya pada 12 Agustus 2026 saat matahari terbit di wilayah utara New York. X1 lepas landas dari Bandara Internasional Plattsburgh.

Dengan menggunakan sistem propulsi listrik, pesawat tersebut terbang selama 27 menit, mencapai ketinggian 335 meter atau setara dengan 1.100 kaki di atas permukaan tanah, sebelum berbelok kembali ke landasan.

Pendiri dan CEO Heart Aerospace Anders Forslund mengatakan, seluruh penerbangan tersebut digerakkan oleh baterai dan menghabiskan listrik senilai kurang dari US$5.

"Dengan penerbangan perdana X1, Heart Aerospace telah mendemonstrasikan penerbangan listrik pada skala pesawat komersial," ujarnya dalam keterangannya mengutip website iflscience, Sabtu (22/8/2026).

Menurutnya, pesawat komersial bertenaga listrik tersebut berpotensi mengubah secara mendasar ekonomi maskapai penerbangan dan, pada akhirnya, menurunkan biaya perjalanan udara bagi penumpang.

"Elektrifikasi memungkinkan layanan penerbangan yang lebih terjangkau, lebih sering, dan lebih bersih ke dan dari bandara-bandara yang lebih dekat dengan tempat tinggal," imbuhnya.

Pesawat X1 memiliki rentang sayap 32,3 meter (106 kaki) dengan berat lepas landas maksimum lebih dari 11.339 kilogram (25.000 pon).

Heart Aerospace mengungkapkan, pesawat ini merupakan pesawat eksperimental yang akan digunakan untuk mengumpulkan data guna menyempurnakan ES-30, model yang lebih besar yang diharapkan dapat diubah menjadi produk komersial, yang akan mengangkut puluhan penumpang melintasi langit pada tahun 2031.

ES-30 praproduksi pertama saat ini sedang dikembangkan di Los Angeles dan penerbangan uji coba pertama dijadwalkan pada tahun 2028.

Daya tarik perjalanan udara yang sepenuhnya bertenaga listrik ini sangat beragam. Sektor penerbangan menyumbang sekitar 2,5% dari emisi karbon global. Namun, sektor ini juga berkontribusi terhadap perubahan iklim melalui berbagai cara yang lebih kompleks, seperti pelepasan gas-gas lain dan pembentukan jejak uap air di langit. Beralih ke alternatif bertenaga listrik dapat secara signifikan mengurangi beban ini.

Selain pertimbangan lingkungan, biaya merupakan faktor lain yang tak kalah penting. Harga rata-rata bahan bakar jet mencapai US$3,50 per galon pada minggu pertama Agustus 2026, naik 63% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang sebagian besar dipicu oleh penutupan sebagian Selat Hormuz dan gejolak geopolitik di Timur Tengah.

Meskipun ide ini tampak menjanjikan, pesawat listrik masih menghadapi banyak kendala teknis. Masalah utamanya adalah baterai yang berat, besar, dan jelas belum ideal untuk penerbangan. Diperkirakan bahwa bahan bakar jet mengandung energi sekitar 30 kali lebih banyak per kilogram dibandingkan beberapa baterai lithium-ion paling canggih yang ada beberapa tahun lalu.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |