Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan cerita keberhasilannya dalam membalikkan kondisi ekonomi Indonesia, dari yang sampai pada titik genting tatkala meledaknya demo Agustus 2025, hingga kini dalam kondisi pulih.
Ia beralasan cerita ini menjadi penting karena masih banyak orang yang menilai dirinya tidak banyak bekerja memperbaiki ekonomi setelah ditunjuk Presiden Prabowo Subianto sebagai menteri keuangan pada 8 September 2025.
"Karena di luar banyak yang bilang itu menteri keuangan kerjanya apa, gak ada apa-apa sampai sekarang," kata Purbaya saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
"Mereka lupa kita pernah betul-betul jatuh, demo di mana-mana, di seluruh Indonesia kan saat itu," tegasnya.
Purbaya bahkan menceritakan kembali momen kediaman Sri Mulyani Indrawati, menteri keuangan sebelum dirinya, sempat dijarah oleh para demonstran pada Agustus 2025.
"Bahkan menteri keuangan kami yang sebelumnya diserbu, sampai rumahnya diserbu, jadi keadaan amat genting," tegasnya.
Namun, ketika ia menjabat sebagai menteri keuangan dan menggelontorkan berbagai program stimulus ekonomi, termasuk menggelontorkan uang menganggur pemerintah di Bank Indonesia (BI) senilai Rp 200 triliun ke himpunan bank milik negara alias Himbara, ekonomi saat ini ia anggap mampu berbalik arah menjadi pemulihan.
"Karena kalau kita enggak cegah, kita bisa kemarin tuh kembali ke 1998 (krisis) dan itu real, karena kebijakannya salah semua pada waktu itu atau ada salah komunikasi," papar Purbaya.
Menurut Purbaya, berbagai kebijakannya berhasil memulihkan perekonomian Indonesia dengan bukti beberapa indikator utama. Misalnya, meroketnya data penjualan mobil dan motor. Pada Desember 2025, realisasi penjualan mobil naik 17,9% secara tahunan alias year on year (yoy), sedangkan motor penjualannya pada akhir 2025 itu naik 14,5%.
"Kita lihat kebijakan itu menaikkan daya beli masyarakat. Pembelian mobil sekarang sudah tumbuhnya di akhir tahun 17,9% sementara penjualan motor tumbuh 14,5% ," kata Purbaya.
Selain itu, Purbaya mengatakan, data lainnya menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi di masyarakat efek dari kebijakan penempatan dana untuk meningkatkan peredaran uang primer atau base money itu. Misalnya, konsumsi BBM melonjak ke level 6,9% pada akhir 2025 untuk industri dan naik 2,7% untuk transportasi.
Di sisi lain, data penjualan listrik ia tegaskan juga mengalami kenaikan yang pesat pada akhir tahun lalu. Menteri Keuangan yang menjabat sejak 8 September 2025 itu menunjukkan konsumsi listrik untuk bisnis naik 7,3% untuk akhir 2025, dan industri 4,8% yoy.
"Indeks penjualan ritel juga naik ke level yang cukup tinggi dari sejak September, indeks konsumsi BBM juga bergerak naik sejak kita injek kebijakan pemindahan uang Rp 200 triliun dari central bank ke sistem perekonomian kita," tegasnya.
"Jadi kebijakan itu memang berdampak, kalau enggak kita enggak bisa membalik arah itu," paparnya.
Selain itu, ia menekankan, moncernya penerimaan pajak pada Januari 2026 menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia sedang berbalik arah menuju percepatan pertumbuhan.
Ia bilang setoran pajak pada Januari 2026 mampu mengalami pertumbuhan 30%, dari Rp 88,9 triliun pada Januari 2025, menjadi Rp 116,2 triliun. Setoran pajak pada Januari 2025 itu turun dibanding realisasi Januari 2024 yang sebesar Rp 152,9 triliun.
"Gambaran penerimaan pajak bulan Januari ini menunjukkan bahwa kelihatannya betul-betul memang pembalikan arah ekonomi sedang terjadi, sehingga pendapatan pajaknya tumbuh dibanding tahun lalu," ucap Purbaya
(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376586/original/086524400_1760009433-WhatsApp_Image_2025-10-09_at_15.16.27.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5338912/original/039061000_1756988370-2N3A9178.JPG)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5379723/original/026526700_1760356768-1000294045.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383180/original/082158500_1760632502-Azrul_Ananda___Robertino_Pugliara__dok_Persebaya_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317021/original/038490300_1755266531-SaveClip.App_533385198_17850905229531514_3419499828321647333_n.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378193/original/050455500_1760219906-TIMNAS_INDONESIA.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5347461/original/084430700_1757672387-547847842_18531923638014746_4748068569041253567_n.jpg)
