RI Gak Ada Apa-Apanya, Segini Bunga Utang AS

6 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu negara yang harus membayar bunga utang yang besar tiap tahunnya. Bahkan sangat jauh dengan utang negara berkembang seperti Indonesia yang diperkirakan mencapai Rp 599,44 triliun pada APBN 2026 ini.

Dalam lima bulan pertama tahun fiskal 2026 AS atau hingga Februari 2026, pemerintah AS diperkirakan mencatat defisit sekitar US$1 triliun atau setara dengan Rp16.865 triliun (asumsi kurs Rp16.865/US$1).

Kondisi tersebut dilansir dari laporan bulanan Congressional Budget Office (CBO) yang diperbarui hingga Februari 2026. Selain itu, pemerintah AS juga diperkirakan membukukan tambahan pinjaman atau utang sebesar US$308 miliar hanya dalam satu bulan terakhir.

Kondisi fiskal AS memang kembali menjadi sorotan karena laju pembengkakan utang yang tinggi di tengah belanja pemerinta yang bertambah.

Perlu diketahui, tahun fiskal di Amerika Serikat tidak mengikuti tahun kalender. Tahun fiskal 2026 di AS dimulai pada 1 Oktober 2025 dan akan berakhir pada 30 September 2026.

Berdasarkan data Kemenkeu AS, utang pemerintah AS hingga 21 Januari 2026 tercatat mencapai US$ 38,5 triliun. Naik 2,7% dari tahun sebelumnya US$ 37,6 triliun, hanya dalam waktu 1 bulan.

Utang AS juga terpantau terus naik di 2024 tercatat mencapai US$ 33,2 triliun, dan di tahun 2023 US$ 33,2 triliun, juga di tahun 2022 mencapai US$ 30,9 triliun.

Bunga Utang Tembus Ratusan Miliar Dolar

Meningkatnya utang otomatis mendorong naik beban bunga yang harus dibayar pemerintah. Dari Oktober 2025 hingga Februari 2026, Kementerian Keuangan AS mengeluarkan tambahan US$31 miliar atau sekitar Rp 522,82 triliun untuk membayar bunga bersih utang publik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan kenaikan itu, total pembayaran bunga utang publik AS dalam lima bulan pertama tahun fiskal 2026 sudah mencapai US$433 miliar atau sekitar Rp 7.302,55 triliun untuk membayar kewajiban bunga utang.

CBO menjelaskan kenaikan beban bunga ini terjadi karena total utang pemerintah kini lebih besar dibandingkan tahun lalu, sementara suku bunga jangka panjang juga masih berada di level lebih tinggi.

Meski begitu, penurunan suku bunga jangka pendek sedikit menahan laju kenaikan pembayaran bunga secara keseluruhan.

(evw/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |