Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
16 January 2026 10:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah kembali berada di titik panas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyerukan para pengunjuk rasa di Iran untuk mengambil alih lembaga-lembaga negara.
Pernyataan bernada ancaman tersebut, yang disampaikan Trump dalam pidatonya di Detroit Economic Club dan diunggah melalui Truth Social, disertai janji bantuan AS serta ancaman konsekuensi berat bagi pejabat Iran yang dianggap melakukan pelanggaran.
Seruan itu muncul di tengah gelombang protes besar di Iran yang dipicu oleh anjloknya nilai tukar mata uang nasional dan memburuknya kondisi ekonomi.
Pemerintah Iran pun merespon keras dengan menuding Washington dan Tel Aviv berada di balik kerusuhan domestik, sembari memperingatkan bahwa setiap bentuk intervensi fisik akan dibalas dengan serangan terhadap kepentingan dan pasukan AS di kawasan Timur Tengah.
Ancaman tersebut bukan tanpa dasar. Iran selama bertahun-tahun dikenal memiliki salah satu rudal terbesar dan jumlah yang banyak di Timur Tengah, mencakup rudal balistik jarak pendek hingga menengah, serta rudal jelajah serangan darat.
Dalam konteks eskalasi geopolitik yang kian tajam, kemampuan rudal Iran menjadi faktor kunci yang membentuk kalkulasi risiko, baik bagi Israel, Amerika Serikat, maupun negara-negara sekutunya di kawasan.
Bagi Teheran, rudal bukan sekadar instrumen militer, melainkan alat penangkal strategis di tengah keterbatasan kekuatan udara dan tekanan sanksi ekonomi yang berkepanjangan. Ketika tensi politik meningkat dan opsi militer kembali mengemuka, memahami peta kekuatan rudal Iran menjadi krusial untuk membaca arah eskalasi konflik ke depan.
Rudal Balistik Jarak Pendek (SRBM)
Iran memiliki sejumlah jenis rudal yang dibedakan berdasarkan jangkauan dan fungsi target serangannya. Salah satu yang paling banyak digunakan adalah rudal balistik jarak pendek.
SRBM atau Short-Range Ballistic Missile adalah rudal balistik jarak pendek. Secara umum, kategori ini mencakup rudal dengan jangkauan 300-1.000 kilometer, sementara menurut klasifikasi Congressional Research Service (CRS), SRBM memiliki jangkauan 70-1.000 kilometer.
Rudal jenis ini lazim digunakan untuk menyerang target seperti pangkalan militer, fasilitas strategis, dan infrastruktur penting di negara sekitar.
Dalam jenis rudal ini, Iran memiliki sejumlah rudal seperti Shahab-1 dengan jangkauan hingga 300 km, Shahab-2 sekitar 500 km, Qiam-1 yang mampu menjangkau 700-800 km, serta keluarga Fateh yang berada di kisaran 300-500 km. Selain itu, Iran juga mengoperasikan Zolfaghar dengan jangkauan 700 km dan Dezful yang mencapai 1.000 km, batas atas klasifikasi SRBM.
Rudal Balistik Jarak Menengah (MRBM)
Selain SRBM, Teheran juga memiliki rudal dengan jangkauan yang lebih jauh, sehingga cakupan serangannya dapat meluas.
MRBM atau Medium-Range Ballistic Missile adalah rudal balistik jarak menengah dengan jangkauan 1.000-3.000 kilometer berdasarkan klasifikasi CRS. Sejumlah standar lain menggunakan batas atas yang sedikit lebih longgar, yakni hingga 3.500 kilometer. Rudal dalam kategori ini memungkinkan Iran menjangkau target yang lebih jauh di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.
Iran tercatat memiliki Shahab-3 dengan jangkauan 1.300 km, disusul Ghadr sekitar 1.600 km, dan Emad hingga 1.800 km. Varian Khorramshahr menjadi yang terjauh dengan estimasi jangkauan 2.000-3.000 km. Selain itu, Iran juga mengembangkan rudal berbahan bakar padat seperti Haj Qassem, Kheibar Shekan, dan Fattah-1 yang berada di kisaran 1.400-1.450 km, serta Sejjil yang mampu mencapai 2.000 km.
Rudal Jelajah Serangan Darat (LACM)
Iran juga memeiliki LACM atau Land-Attack Cruise Missile adalah rudal jelajah yang dirancang khusus untuk menyerang target di darat, baik sasaran tetap maupun bergerak.
Rudal ini terbang mengikuti lintasan yang telah diprogram menuju target. Menurut National Air and Space Intelligence Center (NASIC), LACM merupakan sistem senjata yang efektif karena banyak di antaranya terbang subsonik dan rendah, sehingga lebih sulit dideteksi radar dan dapat menyerang dari berbagai arah.
Dalam kategori ini, Iran memiliki Soumar dengan jangkauan yang tidak dipublikasikan, Hoveizeh dengan jangkauan sekitar 1.350 km, Ya Ali sekitar 700 km, serta Paveh yang diklaim mampu menjangkau hingga 1.650 km.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5165907/original/040062200_1742202626-3.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5342106/original/027230600_1757384899-Timnas_Indonesia_vs_Lebanon_-20.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5335986/original/018612600_1756812018-Sudi_Abdallah__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5012276/original/055492600_1732021216-20241119AA_Indonesia_Vs_Arab_Saudi-15_2.JPG)

