Jakarta, CNBC Indoensia - Batu bara menutup 2025 dengan kenaikan harga. Namun, 2025 adalah tahun pahit bagi batu bara.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 106,35 per ton pada Rabu (31/12/2025) atau menguat 0,42%. Penguatan ini memutus tren negatif pelemahan selama tiga hari beruntun hingga 2,84%.
Menjelang libur akhir tahun, harga batu bara termal di pelabuhan-pelabuhan utara China mengalami rebound setelah lebih dari sebulan turun. Harga naik kembali pada hari perdagangan terakhir 2025 setelah sebelumnya tren penurunan yang cukup panjang.
Namun, meskipun harga bergerak naik, permintaan dari end-user (pembeli utilitas & industri) tetap berhati-hati dan cenderung menolak harga yang lebih tinggi, sehingga aktivitas perdagangan aktual tidak bergairah.
Di satu sisi ada rebound harga jelang liburan, tetapi di sisi lain permintaan belum sepenuhnya pulih dan stok tetap menjadi faktor pembatas pembelian.
Secara keseluruhan, harga batu bara termal China terjun tajam sepanjang Desember 2025.
Pasar mencatat penurunan harga yang cukup signifikan sepanjang bulan, terutama didorong oleh dua faktor besar yakni pasokan yang tetap longgar dan permintaan yang lemah dari sektor industri dan utilitas listrik.
Inventaris di pelabuhan tetap tinggi sementara pembelian dari pembangkit serta pengguna akhir tidak menunjukkan peningkatan berarti.
Tahun Berat Buat Batu Bara
Harga batu bara global terus tertekan sepanjang 2025. Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara anjlok 16,26% atau lebih dalam dibandingkan 2024.
Pergerakan bulanan harga batu bara juga lebih banyak melemah. Harga tertinggi tercatat pada 2 Januari 2025 yakni US$ 126,55 per ton sementara terlemah pada 22 April yakni US$ 94,1 per ton.
Tekanan terhadap harga batu bara tidak muncul tiba-tiba, melainkan hasil dari kombinasi faktor fundamental yang saling menguatkan yakni pasokan melimpah, permintaan melemah, serta perubahan struktur energi dan sentimen pasar.
Produksi batu bara domestik di China tetap tinggi sepanjang 2025. Langkah ini ditempuh Beijing demi menjaga keamanan energi, namun berdampak pada penumpukan stok di tambang dan pelabuhan.
Dari Januari hingga November, total produksi batu bara mentah China mencapai 4,4 miliar ton, meningkat 1,4% secara tahunan.
Di saat yang sama, pasokan impor juga tak surut. Ekspor dari Indonesia, Australia, hingga Rusia tetap mengalir deras meski harga melemah. Kondisi ini membuat pasar berada dalam posisi oversupply, memberi ruang bagi pembeli untuk menekan harga lebih dalam.
Dari sisi permintaan, konsumsi listrik terutama sektor industry tidak tumbuh agresif. Perlambatan ekonomi di China dan sejumlah negara Asia membuat pembangkit listrik berbasis batu bara tidak meningkatkan pembelian.
Faktor cuaca juga ikut berperan. Musim dingin yang relatif lebih hangat di beberapa wilayah menekan beban pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Banyak utilitas memilih menghabiskan stok lama ketimbang menambah pasokan baru.
Batu bara juga menghadapi tekanan struktural dari energi alternatif. Kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan angin (PLTB) tumbuh cepat, terutama di China. Dampaknya, jam operasi PLTU berkurang.
Di sisi lain, harga gas yang lebih stabil dibanding periode krisis energi 2022-2023 mendorong kembali praktik fuel switching. Batu bara pun kehilangan sebagian daya saingnya.
Dorongan transisi energi membuat pembeli makin berhati-hati menandatangani kontrak jangka panjang. Aktivitas spekulan dan trader juga menyusut seiring menguatnya tren penurunan harga, menyebabkan likuiditas pasar menipis.
Pasar juga masih berada dalam fase penyesuaian setelah lonjakan ekstrem harga batu bara pada 2022. Sepanjang 2025, setiap upaya reli harga cepat tertahan oleh stok tinggi dan lemahnya permintaan, membuat pemulihan harga bersifat rapuh.
Nasib Batu Bara ke Depan
Berdasarkan proyeksi terbaru Energy Information Administration (EIA), industri batu bara dunia kini berada di titik pembalikan siklus setelah mencapai puncaknya pada periode 2024-2025. Dalam lima tahun ke depan hingga 2030, permintaan global diperkirakan mulai melandai, diikuti penyusutan perdagangan internasional dan penurunan produksi secara bertahap. Produksi global berada di kisaran lebih dari 9 miliar ton pada 2024-2025, sebelum menurun secara bertahap menjadi sekitar 8,64 miliar ton pada 2030. Penurunan ini setara dengan kontraksi sekitar 5% dalam lima tahun yang menandai pergeseran dari fase ekspansi menuju fase penurunan paling tidak dalam jangka menengah.
Tahun 2026 harga batu bara diperkirakan belum membaik. Harga batu bara Australia diproyeksikan turun 7% pada 2026, dan pulih pada 2027, sementara risiko terhadap harga batu bara secara umum dinilai masih relatif seimbang.
Proyeksi ini didasarkan pada asumsi pertumbuhan ekonomi global yang lesu dan kondisi pasokan yang memadai, sekaligus memperhitungkan potensi penguatan permintaan listrik serta berlanjutnya ekspansi pembangkit energi terbarukan.
Risiko kenaikan mencakup kemungkinan lonjakan tak terduga konsumsi batu bara di China, semakin sering atau semakin parahnya cuaca ekstrem di negara-negara pengekspor utama, serta permintaan listrik dari pusat data (data center) yang lebih tinggi dari perkiraan.
Risiko penurunan meliputi pasokan batu bara yang kuat dari produsen utama, seperti Amerika Serikat, di mana kebijakan federal dan harga gas alam yang tinggi menopang pasokan domestik, serta permintaan yang melemah akibat aktivitas ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan, khususnya di China dan India.
(mae/mae)






























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339916/original/010495200_1757135510-20250904AA_Timnas_Indonessia_Vs_China_Taipei-108.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)






