Supercarrier! Inilah Kapal Induk Paling Mengerikan di Dunia

6 hours ago 4

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

15 March 2026 14:15

Jakarta, CNBC Indonesia- Delapan dekade setelah berakhirnya Perang Dunia II, kapal induk tetap berada di pusat arsitektur militer global.

Kapal ini berfungsi sebagai pangkalan udara bergerak yang memungkinkan sebuah negara memproyeksikan kekuatan militernya jauh dari wilayah daratnya. Dengan dek penerbangan raksasa dan armada pesawat tempur di atasnya, kapal induk memberi kemampuan serangan udara di tengah samudra. Fungsi ini membuat kapal induk menjadi aset strategis dalam operasi militer modern.

Teknologi kapal induk berkembang cepat memasuki 2026. Modernisasi armada terjadi di berbagai negara maritim besar, terutama dengan adopsi propulsi nuklir dan sistem peluncuran pesawat yang lebih efisien.

Melansir dari Historyplex, kapal induk modern memiliki ukuran mendekati 100.000 ton dan mampu membawa puluhan pesawat tempur sekaligus. Kapal-kapal ini menjadi indikator kapasitas militer suatu negara sekaligus ukuran pengaruh geopolitiknya di laut lepas.

Dominasi paling besar berada di tangan Amerika Serikat. Global Fire Power menyampaikan negara ini mengoperasikan 11 kapal induk aktif. Jumlah itu hampir menyamai total kapal induk yang dimiliki seluruh negara lain jika digabungkan. Armada tersebut terdiri dari kapal induk kelas Nimitz dan kelas Gerald R. Ford yang menggunakan reaktor nuklir. Keunggulan ini memungkinkan angkatan laut AS mempertahankan kehadiran militer di berbagai wilayah laut dunia secara berkelanjutan.

11 Kapal Induk AS

1. USS Dwight D. Eisenhower
2. USS George Washington
3. USS Theodore Roosevelt
4. USS Ronald Reagan
5. USS Harry S. Truman
6. USS Carl Vinson
7. USS Abraham Lincoln
8. USS George HW Bush
9. USS John C. Stennis
10. USS Nimitz
11. USS Gerald R. Ford

Kapal induk paling mutakhir saat ini adalah kelas Gerald R. Ford-class aircraft carrier. Kapal ini dirancang sebagai generasi baru pengganti kelas Nimitz. Melansir dari America's Navy, kapal ini menggunakan dua reaktor nuklir A1B dengan kapasitas listrik jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Dek penerbangannya lebih luas, dilengkapi sistem peluncuran elektromagnetik EMALS dan sistem pendaratan modern. Kapal ini mampu membawa sekitar 90 pesawat tempur dan helikopter.

Teknologi tersebut berdampak langsung pada intensitas operasi udara. kelas Gerald R. Ford dapat menghasilkan sekitar 160 sortie penerbangan per hari. Angka ini sekitar 25-33% lebih tinggi dibanding kapal induk generasi sebelumnya. Sistem listrik yang lebih kuat juga membuka ruang bagi integrasi teknologi masa depan seperti senjata energi terarah.

Generasi sebelumnya, yaitu Nimitz-class aircraft carrier, masih menjadi tulang punggung armada AS. Kapal induk ini memiliki panjang sekitar 333 meter dengan bobot hingga 103.000 ton. Dua reaktor nuklir A4W menggerakkan empat poros baling-baling yang memungkinkan kapal melaju lebih dari 30 knot. Melansir dari Historyplex, kapal ini dapat beroperasi hingga 20 tahun tanpa pengisian ulang bahan bakar nuklir dan membawa 75-90 pesawat dengan lebih dari 5.500 awak.

Asia dan Eropa

Perlombaan teknologi kapal induk juga terjadi di Asia. China mempercepat modernisasi angkatan lautnya melalui kapal induk Fujian aircraft carrier. Kapal ini termasuk salah satu kapal induk terbesar di dunia dengan tenaga turbin uap sekitar 280.000 tenaga kuda. Fujian dapat membawa sekitar 60 pesawat dan menggunakan sistem peluncuran elektromagnetik. Kapal ini menjadi simbol lonjakan kemampuan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat dalam beberapa tahun terakhir.

Di Eropa, Inggris mengoperasikan kapal induk kelas Queen Elizabeth-class aircraft carrier yang menjadi pusat kekuatan armada modern Royal Navy. Kapal ini menggunakan turbin gas konvensional dengan tenaga sekitar 100.000 tenaga kuda. Sistem operasinya dirancang untuk pesawat tempur STOVL seperti F-35B Lightning II. Setiap kapal dapat membawa hingga 36 jet tempur.

Sementara itu, fleksibilitas operasi amfibi dimiliki oleh kapal kelas America-class amphibious assault ship milik Amerika Serikat. Kapal ini sebenarnya dirancang untuk operasi pendaratan amfibi. Namun komposisi sayap udaranya membuat kemampuan operasionalnya mendekati kapal induk ringan. Grup udaranya mencakup helikopter, pesawat tilt-rotor MV-22 Osprey, serta jet tempur F-35B.

Kepemilikan kapal induk di dunia sangat terbatas. Menurut Global Fire Power, hanya sekitar delapan negara yang memiliki kapal induk aktif. Selain Amerika Serikat dan China, operator lainnya meliputi Inggris, Italia, India, Prancis, Rusia, dan Spanyol. Biaya pembangunan dan operasional kapal induk mencapai puluhan miliar dolar, dengan kebutuhan ribuan awak serta sistem pendukung armada.

Indonesia tidak termasuk dalam kelompok tersebut. Strategi pertahanan maritim Indonesia lebih menekankan pada kapal cepat, kapal selam, serta kapal pendarat seperti KRI Makassar dan KRI Banjarmasin. Kebutuhan operasional TNI AL lebih terkait patroli wilayah kepulauan dan pertahanan teritorial.

Dalam struktur militer modern, kapal induk tetap berperan sebagai pusat kekuatan laut. Kapal ini membawa sayap udara, sistem pertahanan berlapis, serta kemampuan komando di tengah laut. Di era persaingan kekuatan besar, keberadaan kapal induk menjadi ukuran langsung kapasitas militer sebuah negara dan pengaruhnya di panggung global.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |