Tahun Baru, Rejeki Baru: Sektor Ini Bisa Kasih Cuan di 2026

1 hour ago 2

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

02 January 2026 10:35

Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki 2026, peluang di pasar saham Indonesia makin selektif. Arus dana asing, valuasi menarik, dan dukungan kebijakan mendorong investor fokus pada sektor-sektor yang paling solid dan defensif sebagai penopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Kami melihat beberapa sektor pilihan meliputi consumer non-cyclicals, financials, telekomunikasi berbasis data infrastructure, serta basic materials khususnya mineral dan logam. Berikut kami ulas satu per satu:

Consumer Non-Cyclicals

Saham di sektor consumer non-cyclicals kami nilai akan kembali bangkit pada 2026, ini karena konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional, didukung daya beli yang diharapkan semakin dan dukungan kebijakan fiskal yang lebih optimal.

Adapun. kami lebih fokus melirik dua sub sektor dari consumer non-cyclicals yakni poultry dan cigarette.

Sektor poultry/unggas meliputi saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk CPIN) mendapatkan berkah dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang meningkatkan alokasi dana penting untuk kebutuhan protein dasar, memberi sinyal positif permintaan ayam dan telur possibly more predictable and resilient di tengah kelesuan global.

Kemudian, sektor rokok juga terlihat menarik karena ada potensi pemulihan kinerja, terdorong dari kebijakan pemerintah yang memastikan tidak akan menaikkan tarif cukai rokok pada 2026.

Tidak adanya kenaikan cukai memberi ruang bagi volume penjualan yang lebih stabil, efisiensi harga, dan potensi pemulihan margin setelah beberapa tahun tekanan cukai yang agresif.

Financials

Sektor financials, terutama bank kami nilai potensial bangkit pada 2026. Faktor pendorong-nya adalah valuasi saham-saham bank terutama big caps masih murah, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Bank besar RI memiliki kontribusi yang cukup besar untuk mendorong kinerja IHSG, tetapi gerak saham mereka masih tertinggal, bahkan masih di zona koreksi sepanjang 2025 dibandingkan saham konglo yang sudah terbang ratusan sampai ribuan persen.

Prospek kebangkitan bank juga didorong oleh kondisi makro yang membaik, terutama kita menanti efek penurunan suku bunga sebanyak lima kali pada tahun lalu, seharusnya akan berdampak lebih optimal sejak awal 2026, mengingat implikasi-nya membutuhkan waktu tiga sampai enam bulan.

Selain itu, bank dinilai menarik karena dividen yield yang ciamik karena posisi harga saham yang masih laggard.

Telekomunikasi (berbasis infrastructure)

Berikutnya, ada sektor telekomunikasi berbasis infrastruktur yang dinilai akan potensial pada 2026, seiring lonjakan kebutuhan data dan semakin matangnya struktur industri.

Permintaan layanan digital yang terus meningkat, adopsi jaringan 5G di kota-kota besar, serta konsolidasi operator seluler menjadi fondasi utama penguatan sektor ini.

Dalam konteks tersebut, subsektor menara telekomunikasi dan penyedia fiber optik tampil sebagai tulang punggung industri, dengan potensi pertumbuhan yang relatif solid berkat meningkatnya kebutuhan kolokasi dan perluasan jaringan.

Dari sisi fundamental, arah industri kini jauh lebih sehat dibandingkan beberapa tahun lalu. Konsolidasi besar di level operator, seperti merger Indosat dengan Tri serta penggabungan XL dan Smartfren, telah mengubah peta persaingan.

Perang harga layanan data yang sebelumnya menekan margin perlahan mereda, membuka ruang bagi operator untuk fokus pada efisiensi dan kualitas layanan. Dampaknya mulai terlihat pada perbaikan Average Revenue Per User (ARPU), yang menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan pertumbuhan pendapatan.

Penguatan ekosistem digital juga turut menopang prospek jangka menengah hingga panjang. Infrastruktur seperti fiber optik, menara telekomunikasi, dan data center menjadi semakin krusial, sejalan dengan penetrasi internet Indonesia yang telah mencapai hampir 80% populasi serta meningkatnya penggunaan layanan berbasis data. Dalam kondisi ini, emiten infrastruktur telekomunikasi berada di posisi strategis sebagai penyedia "jalan tol" bagi lalu lintas data nasional.

Dari sisi emiten, kinerja perusahaan menara menunjukkan tren yang relatif stabil hingga 2025. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), misalnya, masih mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba yang positif hingga kuartal III-2025, didukung kontrak jangka panjang dan basis pelanggan yang terdiversifikasi.

Sementara itu, operator besar seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT), dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) diproyeksikan menjadi motor utama sektor, seiring perbaikan margin laba bersih dan fokus investasi pada backbone digital, menara, serta pusat data.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Persaingan yang dinamis, potensi perubahan regulasi, serta kebutuhan belanja modal berkelanjutan untuk menjaga kualitas jaringan dan mengantisipasi teknologi generasi berikutnya tetap menjadi faktor risiko yang perlu dicermati investor. Namun secara keseluruhan, fondasi industri yang kini lebih rasional membuat sektor telekomunikasi berbasis infrastruktur berada pada fase pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dibandingkan siklus sebelumnya.

Basic Material (Mineral & Logam)

Terakhir, ada sektor basic material terkhusus untuk sub sektor mineral dan logam, kami nilai akan potensial juga pada tahun ini, didorong oleh peran negara sebagai eksportir utama mineral dan komoditas logam dunia serta dinamika harga global yang masih menarik.

Pemerintah bahkan memperketat kontrol

produksi untuk menjaga pricing power, termasuk rencana pemangkasan kuota produksi mineral untuk mendukung harga komoditas seperti nikel, yang mendorong kenaikan harga nikel di pasar global baru-baru ini.

Di sisi lain, harga emas dunia terus mencetak rekor baru, dengan level yang menembus lebih dari US$4.500 per ons troi di akhir 2025. Aset safe haven ini mendapat dukungan dari ketidakpastian ekonomi global dan ekspektasi menuju fase pelonggaran suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), yang membuat memegang emas menjadi lebih menarik secara biaya peluang.

Dalam kondisi tersebut, emiten-emiten lokal di subsektor pertambangan logam tetap menjadi beneficiary potensial. Saham-saham produsen seperti PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Khususnya, ARCI dan BRMS dipandang relatif tidak terlalu terdampak oleh rencana penerapan bea ekspor emas di 2026, karena proporsi penjualan mereka ke pasar domestik yang tinggi. Kondisi ini menempatkan mereka pada posisi yang lebih defensif dibanding emiten yang sangat bergantung pada penjualan ekspor.

Prospek ANTM juga menarik karena perusahaannya beroperasi di dua lini utama: emas dan nikel. Meski sempat mengalami gangguan pasokan, ANTM tetap mempertahankan target penjualan emas di kisaran 30-40 ton untuk 2026 sambil memperluas produksi dan hilirisasi nikel melalui proyek smelter dan battery materials. Ini memberi ANTM kombinasi aliran pendapatan yang lebih diversifikasi dan potensi pertumbuhan dari pasar energi baru terbarukan.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
| | | |