Tanaman Ini Bertebaran di Kebun RI, Diburu Pabrik Es Krim-Parfum Mewah

3 hours ago 5

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

24 April 2026 17:15

Jakarta, CNBC Indonesia- Lembut, hangat, manis, dan sulit ditiru, Di rak es krim premium Paris, di dapur pastry New York, hingga lini parfum artisan Eropa, ada satu aroma yang terus diburu vanila.

Dunia mengenalnya sebagai bahan baku mewah. Indonesia mengenalnya sebagai komoditas lama yang masih menyimpan daya tawar besar.

Menurut data Kementerian Perdagangan, ekspor vanila Indonesia sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai US$11,62 juta, turun 11,72% dibanding tahun sebelumnya.

Penurunan ini memberi kesan pasar sedang melemah. Namun ketika dibuka lebih rinci, tujuan ekspor justru memperlihatkan peta yang berbeda. Amerika Serikat menjadi pembeli terbesar dengan nilai US$8,25 juta. Setelah itu menyusul Prancis US$616 ribu, Jerman US$521 ribu, Belanda US$330 ribu, dan China US$289 ribu.

Vanilla Extract (Tangkapan layar IG desa_ekspor_indonesia)Foto: Vanilla Extract (Tangkapan layar IG desa_ekspor_indonesia)

Negara-negara tersebut adalah pusat industri makanan olahan, bakery premium, kosmetik, dan fragrance global. Mereka tidak membeli bahan biasa.

Vanila Indonesia dicari karena profil aromanya khas. Kandungan vanillin alami dari vanila tropis Indonesia dikenal memiliki karakter manis pekat, creamy, dengan lapisan smoky tipis pada beberapa origin.

Dalam industri makanan premium, karakter seperti ini bernilai tinggi karena memberi rasa lebih dalam dibanding flavor sintetis. Produsen cokelat, es krim, pastry, minuman, hingga parfum membutuhkan identitas rasa yang konsisten. Saat konsumen global makin sensitif pada label "natural ingredients", posisi vanila alami ikut terangkat.

Vanilla Ripeness (Tangkapan layar IG desa_ekspor_indonesia)Foto: Vanilla Ripeness (Tangkapan layar IG desa_ekspor_indonesia)

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekspor vanila utuh atau neither crushed nor ground terus menjadi tulang punggung. Pada 2025 nilainya mencapai US$9,77 juta, sementara vanila olahan crushed or ground sebesar US$1,85 juta. Artinya pasar dunia masih menghargai bentuk bahan baku asli yang bisa diolah ulang sesuai standar pabrikan masing-masing.

Dari sisi volume, ekspor vanila utuh mencapai 201.744 kg, sedangkan vanila olahan 56.033 kg. Pembeli besar tampaknya masih ingin mengontrol sendiri proses curing, grinding, blending, hingga ekstraksi agar cocok dengan resep mereka.

Jika ditarik lima tahun ke belakang, pada 2021, nilai ekspor vanila utuh Indonesia masih US$35,15 juta dengan volume 304 ribu kg. Tahun 2025 nilainya tinggal US$9,77 juta meski volume masih di kisaran 201 ribu kg.

Volume tidak jatuh sedalam nilai ekspor, berarti harga rata-rata dunia telah turun jauh dari puncaknya. Ini lazim terjadi pada komoditas rempah premium yang sempat melonjak saat pasokan global terganggu, lalu menyesuaikan ketika produksi negara pesaing kembali normal.

Namun justru di fase harga lebih rasional seperti sekarang, pembeli industri cenderung kembali masuk pasar. Saat harga terlalu tinggi, banyak produsen mengganti sebagian kebutuhan dengan flavor sintetis.

Saat harga turun, vanila alami kembali kompetitif. Itu sebabnya ekspor ke Amerika Serikat mendominasi sangat besar. Industri makanan dan minuman AS adalah mesin konsumsi raksasa, dan mereka peka terhadap selera konsumen yang mengarah ke bahan natural.

Ada pula faktor sejarah yang jarang dibicarakan. Indonesia telah lama dikenal sebagai produsen rempah dengan rantai pasok yang familiar bagi importir global. Nama Indonesia di pasar rempah sudah terbangun dari pala, cengkih, lada, kayu manis, hingga vanila.

Yang menjadi pekerjaan rumah justru ada di hilir. Nilai ekspor vanila Indonesia masih banyak bertumpu pada bahan mentah. Padahal margin besar berada di ekstrak vanila, pasta vanila, flavor blends, hingga produk branded untuk industri bakery dan horeca. Selama Indonesia menjual polong dan bubuk dasar, sebagian besar nilai tambah akan dinikmati negara pengolah.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |