Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas manufaktur China melemah pada Januari 3036, seiring lesunya permintaan domestik yang menekan produksi di awal tahun.
Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur resmi tercatat turun ke level 49,3 pada Januari, dari 50,1 pada Desember. Angka ini berada di bawah ambang batas 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi, sekaligus meleset dari proyeksi analis sebesar 50,0.
Foto: pmi china
pmi china
Tekanan juga terlihat pada komponen pesanan baru yang turun menjadi 49,2 dari sebelumnya 50,8. Sementara itu, pesanan ekspor baru merosot ke 47,8 dari 49,0 pada Desember, menandakan lemahnya permintaan baik dari dalam maupun luar negeri.
Kondisi serupa terjadi di sektor non manufaktur yang mencakup jasa dan konstruksi. PMI nonmanufaktur turun ke 49,4 dari 50,2 pada Desember, menjadi level terendah sejak Desember 2022.
Statistisi dari National Bureau of Statistics, Huo Lihui, menjelaskan bahwa sebagian jenis industri manufaktur memang biasanya memasuki periode melambat pada Januari. Di saat yang sama, permintaan pasar masih tergolong lemah.
Meski ekonomi terbesar kedua dunia itu berhasil mencapai target pertumbuhan pemerintah sebesar 5% pada tahun lalu, kinerja tersebut banyak ditopang oleh ekspor yang tetap kuat. Namun, capaian tersebut menutupi ketimpangan struktural di dalam negeri. Penjualan ritel melemah pada kuartal terakhir, sehingga pertumbuhan Produk Domestik Bruto kuartal keempat melambat ke level terendah dalam tiga tahun.
Kekhawatiran di kalangan pembuat kebijakan pun meningkat seiring berlanjutnya pelemahan permintaan domestik. Pemerintah telah mencairkan dana sebesar 62,5 miliar yuan dari obligasi negara khusus jangka sangat panjang untuk mendukung program subsidi penggantian barang konsumsi, mulai dari peralatan rumah tangga hingga ponsel pintar.
Awal bulan ini, bank sentral China juga memangkas suku bunga untuk sektor tertentu dan memberi sinyal masih memiliki ruang untuk menurunkan rasio cadangan kas perbankan serta melakukan pemangkasan suku bunga yang lebih luas sepanjang tahun ini.
Selain mendorong belanja barang, pemerintah kini mulai mengalihkan fokus pada peningkatan konsumsi jasa, sebagai upaya menyerap kapasitas produksi sektor manufaktur. Meski demikian, sejumlah analis masih meragukan efektivitas langkah-langkah tersebut dalam menstabilkan pertumbuhan.
Ekonom kepala China di Nomura, Ting Lu, menilai Beijing perlu melakukan lebih banyak upaya dalam beberapa bulan ke depan agar pertumbuhan ekonomi tahunan bisa menembus 4,5% pada 2026. Menurutnya, seiring menipisnya instrumen kebijakan yang mudah diterapkan, pemerintah kemungkinan membutuhkan waktu untuk menyiapkan langkah yang lebih komprehensif.
Pemerintah China sendiri telah menyatakan bahwa peningkatan permintaan domestik menjadi prioritas utama tahun ini, bersamaan dengan upaya memperkuat kemandirian teknologi guna mengurangi kerentanan terhadap hambatan perdagangan global. Presiden Xi Jinping baru-baru ini menegaskan pentingnya pengembangan manufaktur maju serta menjadikan permintaan domestik sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi.
Menurut laporan South China Morning Post, China diperkirakan akan menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun ini di kisaran 4,5% hingga 5%, mencerminkan sikap hati-hati pemerintah dalam memberikan stimulus di tengah kekhawatiran terhadap potensi gelembung pasar saham.
Sementara itu, jajak pendapat Reuters menunjukkan para analis memperkirakan PMI sektor swasta versi RatingDog akan naik tipis ke 50,3 dari 50,1 pada bulan sebelumnya. Data tersebut dijadwalkan rilis pada 2 Februari mendatang.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362119/original/035085500_1758837955-Calvin-Verdonk-Europa-League.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5372801/original/040806000_1759769523-1000224866.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376586/original/086524400_1760009433-WhatsApp_Image_2025-10-09_at_15.16.27.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5338912/original/039061000_1756988370-2N3A9178.JPG)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5379723/original/026526700_1760356768-1000294045.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383180/original/082158500_1760632502-Azrul_Ananda___Robertino_Pugliara__dok_Persebaya_.jpeg)
