Tempe jadi Superfood Indonesia, Ini Deretan Efek Dahsyatnya bagi Tubuh

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Tempe tak lagi sekadar lauk rumahan. Hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan, fermentasi kedelai menjadi tempe menyimpan potensi kesehatan luar biasa, mulai dari pencegahan penyakit hingga penguatan sistem pangan nasional.

Lebih dari sekadar sumber protein, tempe kini dipandang sebagai salah satu kandidat superfood unggulan Indonesia yang mampu berkontribusi langsung pada ketahanan pangan hingga program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari menjelaskan, tempe memiliki berbagai manfaat kesehatan seperti antidiare, antidiabetik, antihipertensi, antikanker, antioksidan, hingga antibakteri.

"Ini penting bagi pengembangan pangan fungsional yang mendukung kesehatan masyarakat," ujar Puji dikutip dari laman resmi BRIN, Jumat (2/1/2026).

Kepala PRTPP BRIN Satriyo Krido Wahono menyebut tempe sebagai salah satu komoditas utama superfood dalam platform riset Riset Invitasi BRIN tahun depan. Menurutnya, riset tempe memiliki peluang besar karena Indonesia sebagai negara dengan biodiversitas tinggi menyediakan banyak alternatif sumber protein untuk pengembangan produk tempe.

"Tempe ini menjadi salah satu superfood Indonesia yang akan kami eksplorasi lebih jauh. Riset harus mengarah pada functional food dan superfood berbasis biodiversitas Indonesia untuk mendukung ketahanan pangan dan kesehatan," terang Satriyo.

Selain itu, Periset PRTPP BRIN Andri Frediansyah menjelaskan bagaimana peran mikroba dan teknologi bioproses dalam meningkatkan kandungan isoflavone aglycone, yaitu bentuk isoflavon yang lebih mudah diserap tubuh.

"Isoflavon kedelai pada awalnya berada dalam bentuk glikosida dan melalui fermentasi baik oleh kapang Rhizopus maupun bakteri, senyawa tersebut dapat dikonversi menjadi bentuk aglikon seperti daidzein dan genistein," ujar Fred.

Ia menambahkan, isoflavone aglycone jauh lebih bioaktif dan lebih cepat diserap tubuh, hanya sekitar dua jam, dibandingkan glikosida yang membutuhkan waktu hingga empat jam. Adapun teknologi yang dapat memicu konversi isoflavon meliputi ko-fermentasi, proses germinasi, serta teknologi berbasis fisik seperti ultrasound, high pressure processing, dan pulsed electric field.

Teknik-Teknik ini, kata ia, bekerja dengan memecah struktur sel sehingga enzim alami pada kedelai mampu mengonversi isoflavon glikosida menjadi aglikon secara optimal.

"Proses seperti ultrasound, high pressure, ataupun pulsed electric field dapat membantu memecah dinding sel sehingga enzim dan isoflavon glikosida bertemu dan menghasilkan aglikon. Dengan pendekatan ini, produk berbasis kedelai bisa memiliki kandungan aglikon lebih tinggi," jelasnya.

Read Entire Article
| | | |