Utang Bengkak, Emiten Sawit Konglo Ini Ungkap Ada Kredit Rp4,84 T

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten sawit PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT) memberikan penjelasan mengenai jumlah utang yang membesar. Pada 19 Desember lalu, ANJT baru melakukan transaksi material berupa fasilitas term loan sebesar Rp4,84 triliun dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) untuk keempat anak usahanya.

Keempat anak usaha itu adalah PT Sahabat Mewah dan Makmur (SMM) dengan limit sebesar Rp1,63 triliun, PT Kayung Agro Lestari (KALE) dengan limit sebesar Rp1,39 triliun, PT Austindo Nusantara Jaya Agri (ANJA) dengan limit sebesar Rp760 miliar, dan PT Austindo Nusantara Jaya Agri Siais (ANJAS) dengan limit sebesar Rp1,06 triliun. Adapun nilai dari transaksi material ini melebihi 70,76% ekuitas perusahaan milik Ciliandra Fangiono itu.

Menjawab permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia (BEI), Direktur/Sekretaris Perusahaan ANJT, Hilman Lukito menyatakan bahwa fasilitas term loan dari BRI diberikan sebagai bagian dari upaya Perseroan untuk memperbaiki dan menata struktur pendanaan Perseroan secara keseluruhan.

"Pinjaman tersebut digunakan untuk pembayaran kembali utang jangka pendek (refinancing) serta mendukung kebutuhan pendanaan dan pengembangan usaha masing-masing perusahaan terkendali ke depan," jelas Hilman dalam keterbukaan informasi yang dikutip Senin (26/1/2026).

Atas pinjaman jumbo dari bank pelat merah tersebut, ANJT memberi penjaminan sejumlah aset berupa aset tanaman, tanah, bangunan, serta fasilitas pabrik kelapa sawit yang dimiliki oleh masing-masing perusahaan terkendali.

Hilman menegaskan bahwa pembayaran bunga dan kewajiban pelunasan pinjaman tidak diperkirakan menimbulkan dampak material terhadap kinerja keuangan masing-masing perusahaan terkendali di masa mendatang. Kemudian, ANJT tetap melakukan pengelolaan risiko secara hati-hati, termasuk memastikan kemampuan perusahaan terkendali dalam memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

"Dengan adanya pinjaman tersebut, rasio keuangan Perseroan seperti Debt to Equity Ratio dan Debt to Asset Ratio mengalami peningkatan, namun masih berada dalam batas yang wajar," tutur Hilman.

Setelah mendapat kredit jumbo dari BRI, Hilman menyebut ANJT tetap menjaga hubungan yang baik dengan para kreditor lainnya yang selama ini mendukung kegiatan usahanya.

BEI menyoroti utang jangka pendek entitas usaha First Resources itu yang membengkak secara signifikan. Tercatat dalam laporan keuangan triwulan III-2025, utang bank jangka pendek perusahaan meningkat signifikan menjadi US$143,43 juta dari sebelumnya US$14,20 juta per 31 Desember 2024, alias naik 910%.

"Kenaikan sebesar 910% ini mencerminkan peningkatan ketergantungan Perseroan pada pendanaan jangka pendek," kata BEI dalam pertanyaannya.

Hilman menjawab fasilitas pinjaman jangka panjang BRI justru menjadi bagian dari penataan struktur pendanaan, guna meningkatkan pengelolaan arus kas dan profil jatuh tempo kewajiban.

Ia merincikan, tujuan utama penggunaan utang bank jangka pendek yang diterima selama periode berjalan digunakan sementara waktu untuk keperluan refinancing atas utang bank sebelumnya.

(ayh/ayh)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |