Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan-perusahaan kencan online berbondong-bondong menyerbu Asia, seiring kejenuhan di pasar Amerika Utara dan Eropa. Platform kencan online mengaku tergopoh-gopoh untuk mencatat pertumbuhan di pasar Barat karena fenomena pengguna yang mulai mengalami kelelahan mencari jodoh lewat mekanisme online atau diistilahkan 'swipe-right fatigue'.
Berbeda dengan pasar Asia, para bos-bos aplikasi kencan online mengatakan pertumbuhannya kian pesat. Platform mencatat pertumbuhan pengguna perempuan, seiring stigma terkait kencan online yang kian memudar.
"Makin sulit bagi masyarakat untuk PDKT dan kencan di lingkungan kantor. Mereka juga lebih sulit untuk terkoneksi dengan orang lain di luar lingkungan kantor, sebab sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk bekerja," kata Malgosia Green, Chief Executive Asia Match Group, yang menaungi Tinder, Hinge, dan OKCupid, dikutip dari Financial Times, Senin (5/1/2026).
"Tak seperti di negara-negara barat, mayoritas masyarakat Asia memiliki minat yang tinggi untuk melangkah ke jenjang pernikahan," ia menambahkan.
Peralihan platform kencan online ke pasar Asia dilakukan untuk tetap menjaga basis pengguna. Sebagai informasi, pengguna aktif Tinder anjlok 10% menjadi 51 juta pada paruh pertama 2025, dibandingkan dengan paruh pertama 2024, menurut data Sensor Tower.
Sementara itu, Bumble mencatat penurunan pengguna 5% pada periode yang sama menjadi 20,8 juta.
Namun, Asia memberikan harapan baru. Basis pengguna platform kencan online tercatat tumbuh signifikan di beberapa negara, meski pertumbuhan pendapatan dan profit belum menunjukkan hasil signifikan.
Secara global, 5 negara dengan pertumbuhan download aplikasi kencan online terbesar sepanjang 2025 mayoritas berasal dari negara-negara Asia. Masing-masing adlaah India yang saat ini memiliki 205 juta pengguna, China (berdasarkan download dari Apple), serta Indonesia.
Kendati demikian, dari jejeran 'Top 5', hanya satu negara Asia yang mencatat pertumbuhan pendapatan, yakni Jepang di posisi ke-2. Sementara itu, AS masih menjadi negara yang merupakan 'mesin uang' aplikasi kencan online tersbesar, mencapai US$2,3 miliar dalam 11 bulan pertama 2025.
Shn Juay, Chief Executive Worldwide untuk aplikasi kencan online asal AS, Coffee Meets Bagel (CMB), mengatakan pertumbuhan platformnya dalam beberapa tahun belakangan didorong oleh perubahan sikap perempuan-perempuan di Asia.
"Perempuan tak lagi bergantung pada keluarga dan teman untuk memperkenalkan mereka ke jodoh masa depan," kata Juay. "Mereka ingin memegang kontrol melalui platform-platfrom kencan online," ia menambahkan.
Menurut Juay, aplikasi-aplikasi kencan online yang berekspansi ke negara-negara Asia, termasuk Indonesia, perlu beradaptasi dengan norma-norma budaya yang berbeda-beda di tiap negara. Norma-norma budaya tersebut bisa sangat berbeda dari yang mereka ketahui di negara asal.
"Orang-orang di Asia cenderung lebih berorientasi pada tujuan tertentu. Mereka biasanya fokus untuk mencari pasangan dalam jangka waktu lama, bukan cuma pasangan kasual atau hookup," ia menuturkan.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)







