Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dinilai lebih dekat ke jurang resesi dibandingkan yang tercermin dari angka Produk Domestik Bruto (PDB). Peringatan ini disampaikan ekonom terkemuka Moody's Analytics, Mark Zandi, yang menilai pertumbuhan ekonomi AS saat ini rapuh dan menutupi berbagai masalah struktural.
Zandi menyebut, sepanjang 2025 indikator utama seperti PDB dan pasar saham memang terlihat solid. Namun, di balik itu terdapat pelemahan signifikan, terutama di pasar tenaga kerja, yang berpotensi memicu resesi pada 2026.
Dalam prospek terbarunya, Zandi menegaskan masa depan ekonomi AS sangat bergantung pada arah kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump. Khususnya terkait tarif perdagangan dan imigrasi.
"Jika kebijakan ekonomi terus berjalan seperti sekarang, masalah yang kita lihat tahun lalu akan berlanjut. Bahkan pertumbuhan PDB yang terlihat tinggi tidak akan mampu menutup retakan di bawah permukaan," tulis Zandi, seperti dikutip Business Insider, Senin (26/1/2026).
Berikut tiga alasan utama mengapa risiko resesi AS dinilai tinggi:
1. Pertumbuhan Ekonomi Tidak Cukup Kuat
Zandi menilai laju pertumbuhan ekonomi AS sebenarnya lebih lemah dari yang terlihat di data utama. Dengan memperhitungkan dampak penutupan pemerintahan selama enam minggu, ia memperkirakan pertumbuhan PDB riil kuartal IV hanya sekitar 2%.
Angka tersebut dinilai belum cukup untuk menyerap seluruh tenaga kerja baru yang masuk ke angkatan kerja. Pertumbuhan yang terus berada di bawah potensi ini, menurut Zandi, akan menjadi hambatan serius bagi ekspansi ekonomi.
"Ekonomi tidak bisa terus tumbuh di bawah potensinya dalam waktu lama. Ini tidak berkelanjutan," ujar Zandi.
"Konsumen dan pelaku usaha pada akhirnya akan kehilangan kepercayaan, menahan belanja dan investasi, yang berujung pada peningkatan pengangguran. Resesi pada akhirnya akan terjadi," tambahnya.
2. Melemahnya Pasar Tenaga Kerja
Pelemahan pasar tenaga kerja menjadi sinyal resesi paling jelas menurut Zandi. Ia menilai ekonomi AS saat ini tidak cukup cepat menyerap tambahan pasokan tenaga kerja.
"Fakta bahwa tingkat pengangguran jelas meningkat adalah bukti bahwa pertumbuhan ekonomi 2% masih jauh dari tingkat potensialnya," kata Zandi.
Ia menambahkan, laju perekrutan tenaga kerja kini telah turun ke level yang secara historis kerap bertepatan dengan fase awal perlambatan ekonomi. Ini menjadi sebuah pola yang sering mendahului resesi.
3. Risiko Pasar Saham Masih Besar
Zandi juga mengingatkan agar investor dan publik tidak menjadikan pasar saham sebagai satu-satunya barometer kesehatan ekonomi. Menurutnya, efek kekayaan dari lonjakan harga aset dapat menyesatkan persepsi terhadap daya beli dan kondisi konsumen.
Meski pasar saham memberikan dorongan bagi ekonomi AS sepanjang 2025, Zandi menilai risiko tetap tinggi. Terutama jika gelembung saham berbasis kecerdasan buatan (AI) pecah.
"Jika pasar saham ternyata gelembung dan meledak, menghapus kekayaan tersebut, belanja konsumen akan terpukul keras dan memicu resesi," tegasnya. "Inilah yang persis terjadi setelah pecahnya gelembung Y2K," ujarnya.
Dengan berbagai tekanan tersebut, Zandi menilai risiko resesi AS pada 2026 tidak bisa dianggap remeh. Meskipun data PDB saat ini masih terlihat kuat.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]




























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362119/original/035085500_1758837955-Calvin-Verdonk-Europa-League.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5372801/original/040806000_1759769523-1000224866.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5236758/original/069830300_1748524187-Timnas_Indonesia_-_Ricky_Kambuaya__Egy_Maulana__Rizky_Ridho_copy.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366297/original/013965500_1759222382-Formasi_Timnas_Indonesia_vs_Arab_Saudi.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376586/original/086524400_1760009433-WhatsApp_Image_2025-10-09_at_15.16.27.jpeg)

