Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi kini berada di posisi yang sangat sulit dengan minimnya opsi untuk merespons kemajuan pesat dan serangan kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Pakar menilai bahwa setiap pilihan yang diambil oleh negara Teluk tersebut akan membawa konsekuensi dan kerugian yang sangat besar.
Mengutip CNN International, Senin (14/09/2026), pesan utama yang memancar dari kerajaan adalah bahwa Riyadh tidak menginginkan perang habis-habisan. Namun, perilaku agresif Houthi yang didukung Iran dapat menyeret Arab Saudi ke dalam konflik yang jauh lebih luas.
Pakar Yaman sekaligus penasihat risiko yang berbasis di Washington DC, Mohammed Al-Basha, memperingatkan bahwa segala tanda kini mengarah pada balasan Saudi berskala besar. "Pada titik ini mereka tidak punya pilihan," ucapnya.
Eskalasi terbaru ini dipicu oleh keberhasilan Houthi merebut Pulau Perim yang strategis di mulut Laut Merah, beserta kota pelabuhan Mocha pada pekan ini. Langkah ini ditujukan untuk menguasai selat Bab al-Mandeb yang merupakan rute energi utama global.
Tak lama setelah itu, pipa minyak utama Arab Saudi terpaksa ditutup usai dibombardir oleh pesawat tak berawak (drone) dari wilayah Irak. Meski belum ada pihak yang mengeklaim bertanggung jawab, Presiden AS Donald Trump langsung menuding Teheran sebagai dalang di balik serangan tersebut, mengingat proksi Iran diketahui beroperasi di Irak.
Pipa Timur-Barat ini padahal semakin intensif digunakan oleh Saudi sejak perang Iran menutup paksa Selat Hormuz, yang mengalihkan sekitar 5 juta barel minyak per hari dari Teluk Persia. Rentetan serangan ini membenarkan kekhawatiran awal Riyadh tentang potensi serangan terkoordinasi dari berbagai front oleh milisi proksi Iran.
Opsi Perang Habis-habisan yang Berisiko
Di atas kertas, Arab Saudi dengan militer modernnya terlihat unggul melawan Houthi. Namun nyatanya, kelompok yang dulunya dianggap sebagai milisi compang-camping ini telah menghabiskan bertahun-tahun untuk memajukan taktik tempurnya. Popularitas Houthi bahkan meroket di Timur Tengah usai menyerang Israel sebagai balasan atas agresi di Gaza sejak 7 Oktober lalu.
Peneliti tamu di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri, Cinzia Bianco, menyoroti bahwa opsi peningkatan eskalasi militer membawa kerugian besar bagi kerajaan.
"Arab Saudi benar-benar memiliki pilihan terbatas dalam konflik dengan Houthi," tuturnya.
Menurut Bianco, jika Riyadh memilih untuk maju secara frontal, situasi ini akan berkembang menjadi konflik terbuka yang tak berujung layaknya perang saudara Yaman yang telah memicu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Lebih buruk lagi, perang habis-habisan ini berisiko menyeret Iran secara langsung, yang pada akhirnya akan memaksa Arab Saudi memasuki medan perang sebagai kombatan di pihak AS.
Di sisi lain, AS tampaknya enggan terlibat secara militer. Sumber mengungkap bahwa Putra Mahkota Saudi telah dua kali menelepon Trump untuk meminta bantuan serangan terhadap Houthi, namun ditolak.
"Mereka (Houthi) jauh lebih suka jika kami tidak terlibat, dan mereka membiarkan sebagian besar kapal lewat. Hanya ada satu negara yang membuat mereka tidak terlalu senang, dan kami akan meluruskannya," tegas Trump.
Meski menolak serangan militer langsung, sumber menyebut AS telah mengirim sekitar 100 penasihat militer ke Arab Saudi khusus untuk memberikan dukungan intelijen. Mantan penasihat pemerintah Saudi, Nawaf Obaid, menegaskan bahwa permintaan Saudi sejatinya murni untuk intelijen, bukan serangan udara Amerika.
Buntu di Jalur Politik
Selain opsi militer, jalur politik juga menemui jalan buntu. Kepala Kantor Berita Saba yang dikelola Houthi, Nasr al-Din Amer, menegaskan bahwa kelompoknya akan terus menekan Saudi secara militer hingga blokade ekonomi dan perjalanan di Yaman utara dihentikan.
"Menekan sampai mereka (Saudi) mematahkan pengepungan yang diterapkan secara tidak adil oleh musuh Saudi selama 12 tahun," paparnya.
Bianco menilai kesabaran strategis Saudi selama ini telah gagal, dan kerajaan tampaknya telah "menghabiskan solusi politiknya". Di sisi lain, Al-Basha melihat bahwa kesepakatan damai dengan Houthi pun akan dianggap sebagai bentuk penyerahan diri yang sangat merugikan bagi reputasi Riyadh.
Meski demikian, Analis Geopolitik Saudi Salman Al-Ansari meyakini bahwa serangan balasan dari pemerintah Yaman yang didukung Saudi sudah di depan mata.
"Riyadh kini mengharapkan masyarakat internasional untuk memperbaiki arah dan mendukung sepenuhnya pembebasan Yaman dari milisi jahat ini," pungkasnya.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]






































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336164/original/038669600_1788142068-WhatsApp_Image_2026-08-30_at_22.34.27.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340905/original/042907900_1788529611-IMG_6511.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336881/original/062566600_1788192972-1000510076.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340290/original/025401600_1788499994-Raihan1.jpg)