- Pasar keuangan RI ditutup beragam. Rupiah menguat, IHSG melemah, sementara SBN stagnan.
- Wall Street ditutup kompak melemah.
- Rilis data cadev dan kelanjutan bencana alam menjadi penggerak utama pasar pada hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam. Bursa saham ditutup melemah, surat berharga negara (SBN) stagnan dan rupiah menguat di tengah pasar yang menunggu rilis data ketenagakerjaan AS
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan sedikit lebih lega walaupun masih akan menghadapi tantangan pada hari ini terutama karena perang yang belum menemukan titik terangnya serta potensi supply chain yang terganggu akibat bencana alam yang melanda Indonesia dari berbagai macam spektrum.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi dan gagal melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (4/9/2026). IHSG turun 31,42 poin atau 0,47% ke level 6.636,48.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG dibuka di level 6.695,69, dengan level tertinggi 6.704,13 dan terendah 6.633,93. Sebanyak 276 saham menguat, 379 saham melemah, dan 308 saham stagnan.
Volume perdagangan mencapai 35,80 miliar saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp 15,04 triliun.
Pada perdagangan Jumat pekan lalu, terpantau asing membukukan net foreign outflow sebesar Rp 29,76 miliar di all market namun mencatatkan net foreign sell di pasar reguler sebesar Rp 317,01 miliar
Sehingga apabila data ditarik secara year-to-date bursa saham mengalami net foreign outflow sebesar Rp 67,48 triliun di all market dan Rp 96,11 triliun di reguler market.
Mayoritas sektor perdagangan melemah dengan koreksi paling dalam dicatatkan oleh sektor konsumer, kesehatan, industri dan teknologi. Adapun kenaikan tertinggi dicatatkan oleh sektor energi.
Lanjut ke mata uang garuda, Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan terakhir pekan ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026), rupiah terapresiasi 0,11% ke posisi Rp17.630/US$. Posisi tersebut membuat rupiah kini berada di posisi terkuatnya dalam 15 pekan terakhir.
Sepanjang perdagangan, rupiah sudah mengawali perdagangan di zona hijau dengan menguat 0,23% ke level Rp17.610/US$. Namun, penguatannya mesti terpangkas 20 poin hingga penutupan perdagangan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,12% ke posisi 99,026.
Rupiah tetap memperoleh dukungan dari pelemahan tajam dolar AS pada perdagangan sebelumnya. DXY ditutup anjlok 0,69% pada Kamis kemarin, sehingga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
Tekanan terhadap dolar salah satunya datang dari penguatan tajam yen Jepang. Yen melesat lebih dari 2% terhadap dolar AS hingga mencapai 155,47 yen/US$, mendekati posisi terkuatnya sejak awal Mei.
Penguatan yen dipicu meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ). Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September telah mencapai 75%.
Ekspektasi tersebut menguat setelah anggota Dewan Kebijakan BOJ Hajime Takata mengatakan bank sentral perlu menaikkan suku bunga secara lebih cepat untuk menghadapi tekanan inflasi. Kenaikan yen turut membebani DXY karena mata uang Jepang menjadi salah satu komponen utama indeks dolar AS.
Tekanan terhadap dolar juga membesar setelah Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller membuka peluang suku bunga dipertahankan dalam pertemuan bulan ini.
Waller mengatakan dirinya cenderung mendukung keputusan mempertahankan suku bunga apabila data ekonomi berikutnya menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda.
Pernyataan tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Peluang kenaikan suku bunga turun menjadi 48%, dari 59% sebelum Waller menyampaikan pandangannya.
Walaupun setelah data tenaga kerja AS keluar terpantau secara konsensus di FedWatch, analis menandakan bahwa 40% akan menahan suku bunga sementara 60% mengkerek naik suku bunga The Fed
Sementara dari sisi Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia mengalami stagnasi hal ini mengindikasikan investor sama kuatnya dalam melakukan pembelian dan juga penjualan di pasar.
SBN bergerak stagnan di level 7,102% pada perdagangan Jumat kemarin, di mana pada hari sebelumnya imbal hasil SBN 10 tahun terpantau juga ditutup pada level 7,102%






































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336164/original/038669600_1788142068-WhatsApp_Image_2026-08-30_at_22.34.27.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336881/original/062566600_1788192972-1000510076.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340905/original/042907900_1788529611-IMG_6511.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340290/original/025401600_1788499994-Raihan1.jpg)