Penampakan Desa Berpenduduk 400 Orang Mau Merdeka dari Inggris

4 hours ago 5

Sebuah desa Piddington di Oxfordshire, Inggris, melakukan referendum dan mau merdeka dari kerajaan.

Desa kecil (Piddington) berpenduduk sekitar 400 orang di Oxfordshire, Inggris, menggelar referendum simbolis untuk menentukan apakah desa tersebut tetap menjadi bagian dari Inggris. (REUTERS/Hannah McKay)

Piddington sebuah desa dan paroki sipil yang terletak sekitar 4,5 mil sebelah tenggara Bicester di Oxfordshire, Inggris, mengambil suara untuk merdeka dari Inggris. Selasa lalu, 96% penduduk mendukung diadakannya referendum mengenai apakah akan memisahkan diri dari Britania Raya. (REUTERS/Hannah McKay)

Desa kecil (Piddington) berpenduduk sekitar 400 orang di Oxfordshire, Inggris, menggelar referendum simbolis untuk menentukan apakah desa tersebut tetap menjadi bagian dari Inggris. (REUTERS/Hannah McKay)

Hal ini terjadi sebagai bentuk protes ke pemerintah terkait rencana menampung  1.256 pencari suaka di bekas lokasi Kementerian Pertahanan (MoD) di dekat desa tersebut. (REUTERS/Hannah McKay)

Desa kecil (Piddington) berpenduduk sekitar 400 orang di Oxfordshire, Inggris, menggelar referendum simbolis untuk menentukan apakah desa tersebut tetap menjadi bagian dari Inggris. (REUTERS/Hannah McKay)

Rencana penampungan para pencari suaka diumumkan Kementerian Dalam Negeri Inggris sebagai bagian dari kebijakan pemerintah untuk memindahkan pencari suaka dari hotel ke lokasi penampungan alternatif. Lokasi yang dikenal sebagai Site A itu berada di MoD Bicester, di antara Piddington serta desa Upper dan Lower Arncott.(REUTERS/Hannah McKay)

Desa kecil (Piddington) berpenduduk sekitar 400 orang di Oxfordshire, Inggris, menggelar referendum simbolis untuk menentukan apakah desa tersebut tetap menjadi bagian dari Inggris. (REUTERS/Hannah McKay)

"Kami memasuki balai desa sebagai pihak yang 'tidak diunggulkan'. Kami punya sebuah ide berani. Kami telah menyampaikan pesan kepada dunia," kata Ketua Dewan Paroki Tim McNally menyebut aksi tersebut sebagai bentuk demokrasi dan mengatakan warga ingin menyampaikan pesan kepada pemerintah maupun dunia. (REUTERS/Hannah McKay)

Desa kecil (Piddington) berpenduduk sekitar 400 orang di Oxfordshire, Inggris, menggelar referendum simbolis untuk menentukan apakah desa tersebut tetap menjadi bagian dari Inggris. (REUTERS/Hannah McKay)

Pemerintah Inggris sendiri mengatakan tidak akan membatalkan rencana penampungan pencari suaka di MoD Bicester. Menteri Kebudayaan Inggris Lisa Nandy mengatakan membatalkan rencana tersebut bukanlah keputusan yang adil apalagi sejumlah daerah lain sudah lebih dulu menanggung beban lebih besar dalam menyediakan akomodasi bagi pencari suaka. (REUTERS/Hannah McKay)

Desa kecil (Piddington) berpenduduk sekitar 400 orang di Oxfordshire, Inggris, menggelar referendum simbolis untuk menentukan apakah desa tersebut tetap menjadi bagian dari Inggris. (REUTERS/Hannah McKay)

Perdana Menteri (PM) Andy Burnham yang baru dilantik Juli juga mengatakan pemerintah memahami kuatnya penolakan warga Piddington. Menurutnya, pemerintah harus membagi beban penampungan pencari suaka secara lebih merata di seluruh wilayah Inggris.(REUTERS/Hannah McKay)

Desa kecil (Piddington) berpenduduk sekitar 400 orang di Oxfordshire, Inggris, menggelar referendum simbolis untuk menentukan apakah desa tersebut tetap menjadi bagian dari Inggris. (REUTERS/Hannah McKay)

Referendum Piddington diselenggarakan oleh Dewan Paroki Piddington setelah dewan tersebut memberikan suara untuk mendukung pelaksanaannya. Meski menggunakan mekanisme pemungutan suara, referendum tersebut tidak dapat membuat Piddington keluar dari Inggris secara hukum. (REUTERS/Hannah McKay)

Desa kecil (Piddington) berpenduduk sekitar 400 orang di Oxfordshire, Inggris, menggelar referendum simbolis untuk menentukan apakah desa tersebut tetap menjadi bagian dari Inggris. (REUTERS/Hannah McKay)

Perlu diketahui, penolakan warga Piddington terutama berkaitan dengan rencana menampung hingga 1.256 pencari suaka laki-laki di bekas pangkalan militer tersebut. Lebih dari 130 perempuan di desa itu bahkan telah mengirim surat kepada seluruh anggota parlemen perempuan untuk menyampaikan kekhawatiran mereka. Mereka mengatakan rencana tersebut dapat membuat warga merasa tidak aman. Ini pun memengaruhi kehidupan sehari-hari. (REUTERS/Hannah McKay)

Read Entire Article
| | | |