Menteri AHY Benar, Bukti Kondisi Indonesia Sudah Genting Makin Banyak

6 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama 47 tahun terakhir, Bumi telah kehilangan lebih dari 12,5 triliun ton es dari dua kawasan terbesar di kutub utara dan selatan. Jumlah itu setara dengan menutupi seluruh daratan Amerika Serikat dengan lapisan es setebal 1,5 meter. Pencairan masif ini mendorong kenaikan permukaan laut yang kini mengancam jutaan orang di pesisir dunia, termasuk Indonesia.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Data ini menggabungkan data dari 27 satelit dan 45 survei independen, menjadikannya pengamatan paling lengkap yang pernah dilakukan hingga saat ini. Hasilnya menunjukkan bahwa pencairan bukan hanya terus berlanjut, melainkan makin cepat dari tahun ke tahun.

Temuan paling mengkhawatirkan adalah penyebab utamanya. Sebagian besar orang mengira es mencair karena udara di atasnya menghangat. Ternyata, 5/6 bagian pencairan disebabkan oleh air laut yang lebih hangat menggerogoti lapisan es dari bawah dan dari sisi samping.

"Ini berbahaya karena proses ini jauh lebih sulit dihentikan," ungkap peneliti utama Ines Otosaka dari Universitas Northumbria, Inggris. "Es mencair dari bagian yang tidak terlihat, dan alirannya makin cepat ke arah laut."

Salah satu gletser di Greenland kini mundur hingga 50 meter setiap harinya. Artinya, garis pantai yang tertutup es berkurang selebar lapangan sepak bola setiap hari.

Pencairan raksasa itu telah menaikkan permukaan laut secara global sekitar 3,1 cm sejak tahun 1979. Angka itu tampak kecil, namun dampaknya sangat besar.
Setiap kenaikan 1 cm permukaan laut, tambahan 2 hingga 3 juta orang di dunia mengalami banjir setidaknya sekali dalam setahun.

Kenaikan ini memperparah pasang air laut, memperkuat gelombang badai, dan mempercepat kerusakan garis pantai. Jika laju pencairan terus meningkat, kenaikan permukaan laut di abad ini dapat mencapai ukuran yang jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

Bagi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, ancaman ini sangat nyata. Banyak pulau kecil di wilayah perbatasan dan kepulauan terluar mengalami erosi pantai yang makin cepat.

Kota-kota besar yang berada di pesisir rendah seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Makassar menghadapi risiko banjir rob yang makin sering dan makin tinggi. Air laut yang naik juga mempercepat pencemaran air tanah tawar, sehingga persediaan air bersih bagi warga pesisir berkurang.

Peneliti memperingatkan bahwa perubahan iklim yang terjadi saat ini akan terus berdampak puluhan tahun ke depan, meskipun pemanasan global berhasil dihentikan hari ini juga. Es yang telah mencair tidak dapat dikembalikan lagi.

Ada jeda terlihat pada tahun 2020-2023, tetapi para ilmuwan menegaskan itu hanyalah gangguan cuaca jangka pendek, bukan tanda perbaikan. Pengamatan terbaru menunjukkan laju pencairan kembali meningkat tajam.

"Kita sudah mengetahui bahayanya, namun belum cukup bijaksana untuk bertindak sepenuhnya," ujar ilmuwan kutub Ted Scambos yang tidak terlibat langsung dalam penelitian ini. "Ancaman itu sudah ada di depan mata, bukan untuk cucu kita, melainkan untuk kita sendiri."

Peringatan AHY dan BRIN

Sejumlah wilayah di pesisir Pantai Utara Jawa menghadapi ancaman risiko banjir di masa depan. Fenomena itu terjadi karena daerah tersebut mengalami penurunan tanah dan kenaikan muka laut yang makin tinggi.

Laju kenaikannya bervariasi sekitar 2,4 hingga 4,3 milimeter (mm) per tahun. Kondisi ini terjadi di daerah pesisir yakni Jakarta, Bekasi, Indramayu, Cirebon, Subang, Pemalang, Pekalongan, hingga Demak.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Geoinformatika (PRGI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Agung Syetiawan menjelaskan pengamatan wilayah pesisir dilakukan dengan berbagai pendekatan geodesi dan penginderaan jauh.

Penggunaan teknologi Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR), Global Navigation Satellite System (GNSS), pengamatan teretris, hingga pemodelan geospasial multidata jadi bagian penting dalam aktivitas pemetaan dinamika deformasi di wilayah pesisir.

"Data pengamatan GNSS yang diperoleh dari Indonesia Continuously Operating Reference Station [InaCORS] juga memperlihatkan pola deformasi vertikal yang cenderung tidak linear di sebagian besar wilayah Pantura. Data tersebut digunakan sebagai validasi terhadap hasil pengamatan satelit Synthetic Aperture Radar
(SAR)," kata Agung, dikutip dari laman BRIN.

Kondisi Pantura yang sudah genting sempat diungkap oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono. Sampai-sampai, AHY mengumpulkan para pejabat di Indonesia seperti Kepala Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf, beberapa wakil menteri, perwakilan lembaga, dan kepala daerah, pada Senin (4/5/2026).

AHY mengungkapkan Pantura Jawa saat ini kondisinya memprihatinkan karena potensi bencana makin besar. Tiap tahunnya penurunan permukaan tanah mencapai 15 hingga 20 cm per tahun. Pantura Jawa juga dihadapi oleh kenaikan permukaan air laut sebagai dampak dari pemanasan global karena air laut naik mulai 0,8 cm hingga 1,2 cm per tahun.

"Ini mengakibatkan terus mengintainya banjir rob yang bisa menghancurkan properti, merusak rumah-rumah warga dan lain-lain," katanya.

AHY memperingatkan, tanpa intervensi serius, penggenangan air laut di Pantura pada 2050 bisa jauh lebih parah. Selain banjir rob, masyarakat pesisir juga mulai menghadapi ancaman krisis air bersih.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |