Awas Jangan Sapu Abu Vulkanik! Ikuti Tips dari Dokter

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia — Abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar keberbagai wilayah termasuk di Jakarta. Abu vulkanik ini bukan hal yang sepele bagi kesehatan. Untuk itu, dokter sekaligus entrepreneur Tirta Mandira Hudhi atau yang dikenal sebagai Dokter Tirta membagikan sejumlah langkah yang perlu dilakukan masyarakat.

Menurut Dokter Tirta, masyarakat yang melakukan aktivitas di luar ruangan tetap perlu menggunakan masker, meski abu vulkanik yang turun terlihat tipis.

"Nah, yang pertama adalah kalian kalau ke mana-mana, aktivitas outdoor walaupun abunya tipis itu harus memakai masker," kata Tirta dalam unggahan di akun Instagram @dr.tirta, dikutip Minggu (6/8/2026).

Ia menjelaskan, abu vulkanik yang terlalu sering terhirup dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu reaksi alergi. Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan bagian atas hingga bronkitis dalam kondisi yang lebih parah.

Langkah kedua berkaitan dengan cara membersihkan abu vulkanik yang menempel di rumah maupun halaman. Tirta mengimbau masyarakat tidak menyapu abu karena tindakan tersebut justru dapat membuat abu kembali beterbangan dan meningkatkan risiko terhirup.

"Jangan disapu, itu tambah terbang, tambah sesak napas, dan batuk-batuk, disiram pakai air ya, disiram pakai air," ujarnya.

Selanjutnya, masyarakat juga perlu berhati-hati ketika membersihkan abu yang menempel di wajah. Tirta menyarankan penggunaan facial wash yang tepat dan tidak langsung menggosok wajah untuk menghilangkan abu.

"Kalau kena muka, itu sebenarnya gunakan facial wash yang proper, jangan langsung ngegesek, karena bisa baret-baret serius," katanya.

Ia juga meminta masyarakat memaklumi apabila abu vulkanik menimbulkan bau yang berbeda dari biasanya.

"Maklumi kalau baunya tuh agak aneh ya, namanya juga abu vulkanik," ujarnya.

Sementara itu, bagi masyarakat yang rutin berolahraga di luar ruangan, dia menyarankan untuk sementara mengalihkan aktivitas tersebut ke dalam ruangan. Langkah ini dinilai dapat mengurangi risiko menghirup abu vulkanik dalam jumlah lebih banyak.

"Terus buat temen-temen yang hobi berolahraga outdoor, diganti dulu di indoor. Daripada Anda beresiko terhirup abu vulkanik, semakin banyak, kecuali Anda olahraga outdoornya mau pakai masker," tuturnya.

Masker yang efektif

Adapun jenis masker yang tepat menurut dokter paru adalah masket respirator yang yan bisa memfilter partikal particulate matter. Penggunaan masker yang tepat akan membantu meminimalisir dampak.

"Yang ideal yaitu masker yang kita sebut respirator, yang bisa memfiltrasi partikel particulate matter seperti contohnya masker N95 atau KN95," kata profesor paru dari RSUP Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), dikutip dari Detikcom.

"Atau bisa juga respirator lain yang memiliki kemampuan memfiltrasi particulate matter, itu bisa dilihat juga dari bahan yang dipakai apakah ada kemampuan memfiltrasi," imbuhnya.

Untuk anak-anak, Prof Agus menyarankan masker khusus anak yang juga banyak dijual di pasaran. "Anak-anak memang tidak disarankan pakai N95 karena itu cukup pengap," terangnya.

Selain itu, penting juga untuk sebisa mungkin menjaga kualitas udara di dalam ruangan. Selain dengan menutup pintu dan jendela, penggunaan air purifier dan menghindari sumber polutan lain seperti bakar-bakar lilin maupun rokok, juga disarankan.

Tidak kalah penting, daya tahan tubuh juga perlu dijaga. Istirahat yang cukup dan nutrisi yang seimbang akan membantu tubuh menangkal dampak buruk bagi kesehatan.

"Air juga harus cukup, ketika lagi seperti ini banyak minum air itu disarankan," jelasnya.

(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |