Bank Sentral Dunia Ramai-Ramai Borong Emas, Termasuk Indonesia

1 hour ago 1

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

06 February 2026 17:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral berbagai negara di dunia masih memborong emas pada Desember 2025. Bank Indonesia (BI) juga ikutan membeli.

Melansir data World Gold Council yang rilis yang rilis awal Februari 2026, menunjukkan tren pembelian masih berlanjut sampai akhir tahun lalu.

Pada Desember 2025, data secara bulanan aktivitas bank sentral global masih menunjukkan kecenderungan net buying, dipimpin oleh negara-negara emerging market.

State Oil Fund of the Republic of Azerbaijan (SOFAZ) mencatat penambahan terbesar bulan tersebut sebesar 15,2 ton, diikuti Uzbekistan 10,0 ton dan Kazakhstan 8,0 ton. Di Eropa Tengah, Poland kembali menambah cadangan 6,9 ton, mempertegas strategi diversifikasi berkelanjutan.

Dari Asia, People's Bank of China menambah 0,9 ton pada bulan tersebut, sementara Indonesia juga melanjutkan akumulasi sebesar 0,6 ton. Artinya, Bank Indonesia sudah  membeli emas selama tiga bulan beruntun dengan jumlah 5,1 ton.
Sepanjang 2025, Bank Indonesia telah memborong 7 ton emas. Ini adalah kali pertama Bank Indonesia memborong emas sejak 2017.

Pembelian tambahan, meski relatif kecil, juga datang dari Kyrgyzstan, Mongolia, Philippines, Czech Republic, Egypt, serta Belarus.

Turkey juga mencatat kenaikan baik pada basis gross reserves maupun official sector reserves, mencerminkan kebijakan emas domestik yang masih aktif. Di sisi lain, hanya Singapore yang tercatat sebagai net seller pada Desember dengan pelepasan 11,3 ton.

Sementara untuk data secara kuartalan, net central bank gold demand meningkat menjadi 230 ton pada Q4 2025, naik 6% qoq dari 218 ton.

Kinerja kuat ini menutup tahun dengan total pembelian 863 ton sepanjang 2025. Meski berada di bawah level luar biasa +1.000 ton yang tercapai dalam tiga tahun sebelumnya, angka ini tetap jauh di atas rata-rata tahunan 2010-2021 sebesar 473 ton.

Sepanjang 2025, laju pembelian lebih moderat karena bank sentral menghadapi reli harga emas yang cepat hingga mencetak rekor berulang kali, mendorong pendekatan yang lebih hati-hati akibat valuasi cadangan yang makin tinggi. Namun demikian, minat strategis jangka panjang terhadap emas tetap solid.

Sebanyak 22 institusi dilaporkan meningkatkan cadangan emasnya sekitar satu ton atau lebih selama 2025, dengan tujuh di antaranya menyumbang porsi terbesar. Di luar itu, pembelian juga ditopang oleh "long tail" dari akumulasi yang lebih kecil.

Berikut beberapa bank sentral yang masih menempati posisi teratas paling banyak mengakumulasi membeli emas sepanjang tahun lalu:

  • National Bank of Poland kembali menjadi pembeli terbesar, baik di Q4 (35 ton) maupun sepanjang tahun. Total tambahan mencapai 102 ton pada 2025, membawa cadangan emas menjadi 550 ton,sekitar 28% dari total cadangan-mendekati target alokasi baru 30%. Bahkan, Gubernur Adam Glapiński menyatakan niat menaikkan cadangan hingga 700 ton demi alasan "keamanan nasional".

  • National Bank of Kazakhstan menambah 17 ton di Q4 dan 57 ton sepanjang tahun, level pembelian tahunan tertinggi sejak 1993-seraya menegaskan komitmen untuk tetap menjadi net buyer hingga ketegangan global mereda.

  • Central Bank of Brazil kembali masuk pasar pada 2025, menambah 43 ton antara September-November dan meningkatkan cadangan menjadi 172 ton.

  • State Oil Fund of the Republic of Azerbaijan (SOFAZ) mengakumulasi 38 ton selama Q1-Q3 (untuk Q4 data masih belum rilis).

  • Central Bank of the Republic of Turkey tetap menjadi pembeli stabil sepanjang 2025, dengan pembelian sekitar 27 ton (berdasarkan data hingga Oktober), sehingga total kepemilikan resmi (bank sentral + treasury) mencapai 644 ton.

  • People's Bank of China hanya menambah 3 ton di Q4, kenaikan kuartalan terendah sejak Q1 2024, namun tetap mencatat pembelian bersih 27 ton sepanjang 2025, dengan total cadangan mencapai 2.306 ton (hampir 9% dari total cadangan).

  • Czech National Bank membeli 20 ton selama 2025, menjaga tren akumulasi menuju target 100 ton pada 2028.

Sementara itu, dari sisi cadangan emas global, Amerika Serikat masih kokoh di peringkat pertama dengan kepemilikan mencapai 8.133,5 ton, jauh meninggalkan negara lain dan menegaskan dominasinya.
Di posisi kedua, Jerman menyimpan 3.350,3 ton, disusul IMF sebesar 2.814,0 ton, mencerminkan peran signifikan lembaga multilateral dalam arsitektur keuangan dunia.

Dominasi Eropa tetap terasa di papan atas, dengan Italia dan Prancis masing-masing memiliki cadangan 2.451,9 ton dan 2.437,0 ton. Rusia berada tepat di bawahnya dengan 2.326,5 ton, hanya sedikit di atas China yang mencatat 2.306,3 ton, menunjukkan posisi China yang semakin kuat meski masih berada di bawah negara-negara Barat utama.

Pada lapisan berikutnya, Swiss membukukan cadangan 1.039,9 ton, diikuti India sebesar 880,2 ton, serta Jepang dengan 846,0 ton, berikut rincian lebih lengkap posisi cadangan emas bank sentral berdasarkan urutan teratas yang paling banyak:

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
| | | |