Amalia Zahira, CNBC Indonesia
18 April 2026 16:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Anak sulung sering kali dianggap lebih unggul, baik dari segi pendidikan maupun pendapatan saat dewasa.
Stereotip anak pertama lebih bertanggung jawab, sementara adiknya lebih santai ternyata tidak terbukti secara ilmiah. Namun, riset terbaru justru menemukan penjelasan yang lebih biologis dan tak terduga.
Faktor kesehatan sejak dini, terutama paparan penyakit, ternyata memainkan peran penting dalam membentuk perbedaan tersebut.
Paparan Penyakit Sejak Dini, Faktor yang Terlewatkan
Sejumlah penelitian sebelumnya memang sudah menunjukkan adanya kesenjangan antara anak sulung dan adiknya.
Studi besar di Norwegia pada 2005 menemukan bahwa anak yang lahir belakangan cenderung lebih cepat putus sekolah dan memiliki pendapatan lebih rendah saat dewasa. Bahkan, peluang kehamilan remaja juga lebih tinggi pada anak perempuan yang bukan sulung.
Foto: Economist
Tahun pendidikan dibandingkan dengan anak tunggalNorwegia, 1986–2000
Penelitian terbaru yang melibatkan data administratif dari Denmark turut menyatakan bahwa anak-anak, terutama bayi, sangat rentan terhadap penyakit. Dalam keluarga dengan lebih dari satu anak, kakak berpotensi menjadi "pembawa" penyakit yang menularkan infeksi ke adiknya yang masih bayi.
Hasilnya, anak yang lahir setelahnya berpeluang dua hingga tiga kali lebih tinggi dirawat di rumah sakit akibat penyakit pernapasan serius pada tahun pertama kehidupan dibandingkan anak sulung.
Foto: Economist
Rawat inap akibat penyakit pernapasan, per 1.000 anak Denmark, 1981–2017
Dampak Jangka Panjang: Dari Otak hingga Pendapatan
Paparan penyakit di usia sangat dini ternyata tidak hanya berdampak sementara. Gangguan kesehatan dapat mempengaruhi perkembangan otak, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Penyakit tersebut bisa menyebabkan peradangan otak. Namun, meski tidak menyebabkan peradangan secara langsung, pertumbuhan otak bisa tetap terganggu karena adanya peralihan energi tubuh untuk melawan penyakit.
Peneliti menemukan bahwa dampak ini bisa berlanjut hingga dewasa, termasuk pada pendapatan. Data menunjukkan bahwa penyakit di awal kehidupan dapat menjelaskan sekitar setengah dari kesenjangan pendapatan sebesar 1,9% antara anak pertama dan kedua.
Namun, faktor kesehatan bukan satu-satunya penyebab. Pola pengasuhan juga berperan besar. Anak sulung cenderung mendapatkan waktu berkualitas (quality time) lebih banyak dari orang tuanya, yaitu sekitar 20-30 menit lebih lama per hari dibandingkan adiknya pada usia yang sama.
Hal ini terjadi karena saat anak kedua lahir, perhatian orang tua harus terbagi. Akibatnya, kebanyakan anak pertama mendapatkan lebih banyak stimulasi di masa-masa awal perkembangan otak yang krusial.
Foto: Economist
Perbedaan menit waktu berkualitas dengan anak per hari, dibandingkan anak pertama* Amerika Serikat, 2003–05
(mae/mae)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450746/original/023400300_1766159119-national-773x380.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429811/original/069766600_1764645013-000_32U79NY.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4788743/original/051969200_1711719823-0_063_1953517615_-_Copy.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427463/original/032259100_1764389259-Tomas_Trucha_2.jpg)