Review Sepekan
Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
19 April 2026 11:00
Jakarta, CNBC Indonesia — Pasar aset kripto menunjukkan pergerakan menguat pada pekan ketiga April 2026. Berlanjutnya ketidakpastian geopolitik menyusul belum tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran memberikan pengaruh pada aliran dana jangka pendek ke aset digital.
Kondisi ini membawa harga Bitcoin (BTC) bertahan di atas kisaran USUS$75.000. Meski demikian, pergerakan harga ini perlu dievaluasi secara terukur dengan mempertimbangkan indikator makroekonomi global secara keseluruhan.
Kronologi Geopolitik dan Respons Pasar Kripto
Pergerakan harian harga Bitcoin mencatatkan respons yang terukur seiring dengan perkembangan informasi dari kawasan Timur Tengah. Pada awal pekan, yakni Senin (13/4) hingga Selasa (14/4), muncul laporan mengenai kegagalan perundingan damai dan indikasi awal penutupan jalur logistik di Selat Hormuz.
Pasar merespons ketidakpastian awal ini dengan akumulasi bertahap, membawa harga Bitcoin naik secara konsisten dari level pembukaan di US$73.195 menjadi US$74.126.
Memasuki pertengahan pekan, prospek ekonomi global mendapat catatan negatif dari lembaga internasional seiring dengan upaya diplomasi yang masih belum menemui titik temu.
Pelaku pasar kripto merespons risiko makroekonomi ini dengan meningkatkan alokasi pada aset digital, yang mendorong penguatan lanjutan hingga Bitcoin mencapai level US$75.236 pada Kamis (16/4).
Situasi semakin eskalatif menjelang penutupan pekan perdagangan pada Jumat (17/4), di mana pihak Iran dilaporkan menolak format gencatan senjata sementara yang diikuti dengan implementasi blokade Selat Hormuz.
Untuk mengantisipasi risiko tak terduga selama akhir pekan, investor melakukan lindung nilai (hedging) secara signifikan, mendorong Bitcoin menyentuh titik tertinggi mingguan di level US$77.371.
Setelah rentetan sentimen geopolitik yang memicu kenaikan sepanjang pekan, pasar kemudian mengalami penyesuaian normal pada Sabtu (18/4).
Terdapat aksi ambil untung (profit taking) jangka pendek yang dilakukan oleh pelaku pasar, membawa harga terkoreksi secara wajar dan stabil di level US$75.780.
Dinamika Fundamental dan Narasi Pelindung Nilai
Secara keseluruhan, kenaikan harga ini sejalan dengan meningkatnya premi risiko global. Belum adanya resolusi konflik mendorong sebagian pelaku pasar institusional untuk menempatkan likuiditas mereka pada instrumen aset digital.
Dalam situasi ini, Bitcoin dimanfaatkan sebagai opsi lindung nilai alternatif yang tidak terikat pada yurisdiksi negara tertentu, terutama ketika stabilitas pasar dan rantai pasok energi konvensional sedang terpengaruh oleh eskalasi keamanan.
Kinerja Sektor Altcoin Mayor
Penguatan Bitcoin juga diikuti oleh stabilitas pada pasar aset kripto alternatif (altcoin). Beberapa aset berkapitalisasi besar mencatatkan kinerja mingguan yang positif. XRP mencatatkan kenaikan mingguan sebesar +5,93% menjadi US$1,43.
Kinerja serupa juga terlihat pada Binance Coin (BNB) yang naik +3,74% ke level US$629,34, dan Solana (SOL) yang tumbuh +1,36% ke posisi US$86,03.
Di sisi lain, terdapat variasi pergerakan di mana Cardano (ADA) mencatatkan penurunan tipis sebesar -0,33% ke level US$0,2489. Sementara itu, token Hyperliquid (HYPE) mencatatkan kenaikan +2,19% di level US$43,65.
Data ini menunjukkan bahwa rotasi modal di pasar kripto tetap berjalan dengan normal, dan terkonsentrasi secara selektif pada aset-aset tertentu.
Prospek Makroekonomi dan Target Harga
Kenaikan harga yang didorong oleh faktor geopolitik ini diklasifikasikan sebagai respons jangka pendek. Secara fundamental, siklus panjang pasar kripto masih dipengaruhi oleh likuiditas makroekonomi dan arah kebijakan suku bunga global yang saat ini masih cenderung ketat akibat risiko inflasi energi.
Oleh karena itu, posisi harga di atas US$75.000 dapat dipertimbangkan sebagai area rasional untuk melakukan penyesuaian risiko. Outlook tetap mempertahankan target alokasi modal jangka panjang pada rentang harga US$40.000-US$45.000.
Rentang ini diproyeksikan sebagai cycle bottom yang diperkirakan baru akan terbentuk pada paruh kedua tahun 2026. Strategi wait and see tetap relevan di tengah kondisi makroekonomi saat ini.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429811/original/069766600_1764645013-000_32U79NY.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4788743/original/051969200_1711719823-0_063_1953517615_-_Copy.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5342854/original/002615400_1757402192-barba.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427463/original/032259100_1764389259-Tomas_Trucha_2.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5145677/original/009587200_1740728790-20250228BL_HTS_Ratu_Tisha_20.JPG)