Bos Mal Bilang Warga RI Masih Doyan Belanja, Tapi Incar Barang Murah

4 hours ago 10

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah isu pelemahan daya beli yang belakangan ramai diperbincangkan, pengelola pusat perbelanjaan mengungkap masyarakat Indonesia sebenarnya masih tetap ramai berkunjung ke mal. Namun, pola belanja konsumen kini mengalami perubahan.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, tingkat kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan hingga saat ini relatif stabil. Menurutnya, belum terlihat penurunan signifikan dari sisi jumlah pengunjung mal.

"Jadi masyarakat masih tetap ke pusat belanja. Jadi tingkat kunjungan kalau berdasarkan data kami itu tetap dalam kondisi stabil lah dapat dikatakan, ya ada turun naik sedikit, tetapi saya kira dalam kondisi stabil begitu," kata Alphonzus saat ditemui di Auditorium Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Senin (8/6/2026).

Menurut dia, yang berubah bukanlah kebiasaan masyarakat untuk datang ke pusat perbelanjaan, melainkan cara mereka berbelanja. Dalam satu hingga dua tahun terakhir, konsumen cenderung lebih selektif dan memilih produk dengan harga satuan yang lebih murah.

"Yang terjadi itu adalah tren belanjanya yang berubah. Begitu kan sudah ada satu, dua tahun terakhir ini tren belanjanya berubah begitu, karena mereka cenderung membeli barang-barang produk yang harga satuannya, atau unit price-nya itu kan murah, kecil begitu," ujarnya.

Meski demikian, Alphonzus menegaskan hampir seluruh kategori produk masih tetap dibeli oleh masyarakat. Hanya saja, konsumen kini lebih memilih barang dengan harga yang lebih terjangkau.

"Tapi perlu dicatat, semua kategori produk itu dibeli ya, bukannya ada yang tidak dibeli, hampir hampir semua dibeli hanya saja dipilihnya yang harga satuannya, atau unit price-nya murah," ungkap dia.

Fenomena tersebut, lanjut Alphonzus, turut menjelaskan mengapa produk-produk berharga murah semakin diminati di pasar. Termasuk di antaranya barang impor ilegal, maupun pakaian bekas.

"Maka itulah yang terjadi, bahwa barang impor ilegal semakin banyak, semakin marak, pakaian bekas semakin banyak diminati," tuturnya.

"Jadi sebetulnya semua (jenis barang) dibeli (masyarakat), tetapi harga satuannya, produk unit price-nya yang murah begitu. Saya kira itu yang terjadi," tambah Alphonzus.

Ia juga menilai budaya masyarakat Indonesia yang gemar berkumpul menjadi salah satu alasan tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan tetap terjaga, meski kondisi ekonomi sedang menantang.

"Tingkat kunjungan.. masyarakat tetap berkunjung ke pusat perbelanjaan. Jadi relatif tidak terlalu banyak penurunan lah untuk tingkat kunjungan begitu. Apalagi orang Indonesia kan budayanya suka berkumpul. Jadi saya kira susah atau tidak susah tetap kumpul kan, iya. Ya tempat kumpulnya di mana? Ya salah satunya pusat perbelanjaan," jelasnya.

Perubahan pola belanja tersebut pada akhirnya berdampak pada kinerja penjualan ritel. Alphonzus mengatakan, pertumbuhan omzet masih terjadi, tetapi tidak sebesar yang seharusnya bisa dicapai oleh industri ritel saat ini.

Menurutnya, kondisi tersebut terlihat dari banyaknya pusat perbelanjaan baru yang bermunculan serta masuknya berbagai merek asing ke Indonesia, yang secara teori seharusnya mampu mendorong pertumbuhan penjualan lebih tinggi.

"Iya penurunan, dalam pengertian penurunan tidak ada kenaikan, mungkin saya lebih tepatnya menyebutnya begitu. Karena kalau penurunan itu kan banyak faktor yang membuat naik begitu, kenapa? Pusat perbelanjaannya bertambah," sebut dia.

Alphonzus menjelaskan, ekspansi pusat perbelanjaan dan peritel masih terus berlangsung, termasuk di luar Jakarta. Selain itu, banyak merek asing, khususnya dari China, yang mulai masuk dan membuka gerai di Indonesia.

"Jadi sebetulnya, harusnya terjadi kenaikan yang cukup signifikan begitu. Sebetulnya kayak contoh misalkan merek-merek asing kan banyak masuk kan? Merek-merek China dan sebagainya gitu loh. Pusat perbelanjaannya cenderung juga bertambah, terutama di daerah-daerah yang tadinya belum ada pusat perbelanjaan sekarang ada pusat perbelanjaan begitu," jelasnya.

"Teman-teman peritel juga kan banyak yang membuka toko-toko baru kan di luar daerah luar Jakarta begitu," lanjut Alphonzus.

Namun, berbagai tekanan ekonomi membuat pertumbuhan tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Akibatnya, kenaikan penjualan yang terjadi belum mampu mencerminkan potensi sebenarnya dari industri ritel nasional.

"Jadi sebetulnya secara teori terjadi peningkatan yang signifikan, tapi karena tekanan daya beli, karena berbagai macam tekanan akibat global segala macam, itulah yang membuat peningkatannya tidak signifikan begitu," pungkasnya.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |