Rupiah Tertekan, Bos Ritel Bilang Harga Baju-Sepatu Naik Mulai Juli

3 hours ago 11

Jakarta, CNBC Indonesia - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai menimbulkan kekhawatiran di sektor ritel. Pelaku usaha memperingatkan kenaikan harga sejumlah produk di pusat perbelanjaan berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan, terutama setelah stok barang lama yang masih tersimpan saat ini habis terjual.

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan, hingga saat ini sebagian peritel masih mampu menahan kenaikan harga karena masih memiliki persediaan barang yang masuk sebelum tekanan kurs dolar semakin tinggi.

Namun, kondisi tersebut diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Menurutnya, momentum yang paling krusial akan terjadi pada Juli mendatang, ketika pelaku usaha harus melakukan pembayaran barang baru dengan kurs yang lebih mahal.

"Ini yang saya takut tadi bulan 7 (Juli) itu. Kalau dolar-nya masih tinggi, sedangkan jatuh tempo pembayaran, nah itu yang kita khawatir. Nah, harusnya kalau bisa cepetan (nilai Rupiah) diturunkan," kata Budihardjo saat ditemui di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Senin (8/6/2026).

Budihardjo menjelaskan, ketika stok lama sudah habis dan pengusaha harus mendatangkan barang baru dengan biaya yang lebih tinggi, penyesuaian harga menjadi sulit dihindari. Produk-produk lifestyle diperkirakan menjadi kelompok barang yang paling cepat terdampak, mulai dari pakaian, alas kaki, hingga tas.

"Pelemahan rupiah pasti (menyebabkan kenaikan harga barang). Pada saat jatuh tempo pembayaran, stoknya sudah habis, kita mesti bayar yang baru. Itu kan ada hitungan ekonomi," jelasnya.

Di sisi lain, tekanan yang dirasakan sektor ritel tidak hanya berasal dari kurs rupiah. Budihardjo menuturkan pengusaha sudah menghadapi tantangan sejak awal tahun akibat tersendatnya masuk barang impor resmi ke dalam negeri.

Kondisi tersebut membuat ketersediaan barang di sejumlah gerai menjadi terbatas. Karena itu, Hippindo telah berkoordinasi dengan pemerintah agar pelaku usaha ritel yang telah memiliki toko dan merek resmi di pusat perbelanjaan memperoleh kemudahan dalam kegiatan impor.

"Barang impor susah, jadi stok kurang. Padahal kalau impor yang resmi ya, itu susah masuk. Tapi kan kami sudah koordinasi agar Hippindo yang sudah punya toko di mall, yang sudah punya brand, diizinkan untuk mengimpor," terang dia.

Menghadapi potensi tekanan pada paruh kedua tahun ini, peritel mulai menyiapkan sejumlah strategi. Salah satunya dengan memperbesar porsi produk lokal sebagai alternatif pasokan barang impor.

Selain itu, pelaku usaha juga memilih menunggu langkah pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat. Menurut Budihardjo, berbagai stimulus ekonomi perlu segera direalisasikan agar konsumsi masyarakat tetap terjaga di tengah tekanan nilai tukar.

"(Kenaikan harga barang) Ini masih bisa kita tahan sampai bulan 7. Kebijakan pemerintah kita tunggu, stimulus-stimulus kita tunggu. Turunkan stimulus, secepatnya ke bawah, sehingga bisa bergerak ekonomi lagi, (seperti) bantuan langsung tunai, diskon pajak, diskon pesawat, pajak-pajak dikurangi," pungkasnya.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |