Bumi Terbelah Menjadi Dua, Terpisah Garis di Turki Hingga Afrika

4 hours ago 9

Jakarta, CNBC Indonesia - Para ilmuwan baru saja menemukan sebuah garis yang membelah Bumi menjadi dua. Menariknya, kedua bagian ini memantulkan jumlah sinar matahari yang hampir sama kembali ke luar angkasa. Keseimbangan ini diyakini memegang peran sangat penting dalam mengatur iklim Bumi.

Selama ini, para ahli atmosfer sudah mengetahui bahwa belahan Bumi utara dan selatan memantulkan jumlah sinar matahari yang hampir setara. Fenomena ini disebut sebagai simetri albedo. Fenomena ini unik karena kedua bagian Bumi tersebut tidak memiliki kesamaan, baik luas daratan, lautan, maupun pola cuaca.

Alasan terbentuknya keseimbangan utara-selatan ini tercapai masih menjadi misteri, meski para ilmuwan menduga bahwa langit yang lebih sering berawan di belahan Bumi selatan berfungsi sebagai penyeimbang bagi daratan yang lebih luas. Partikel polusi buatan manusia juga lebih banyak ditemukan di belahan utara.

Zhang dari Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) Amerika Serikat beserta timnya kini menemukan garis baru yang membelah Bumi. Garis ini membentang sepanjang garis 27 derajat Bujur Timur dan 153 derajat Bujur Barat, melintasi Eropa, Turki, Afrika, hingga Alaska, dan membagi Bumi menjadi dua bagian yang memiliki tingkat pemantulan cahaya matahari yang hampir sama persis.

Tim menganalisis data 25 tahun, dari tahun 2001 hingga 2025, yang dikumpulkan oleh satelit CERES milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Data tersebut mencatat jumlah energi matahari yang dipantulkan kembali ke luar angkasa.

Iklim Bumi sangat ditentukan oleh keseimbangan ini antara cahaya Matahari yang diserap atau dipantulkan kembali ke atmosfer. Keseluruhan hitungan ini dikenal sebagai Anggaran Radiasi Bumi atau earth's radiation budget. Saat keseimbangan ini terjaga, suhu rata-rata Bumi tetap stabil. Jika keseimbangan terganggu, perubahan iklim dan pemanasan global akan terjadi.

Berbekal data tersebut, tim peneliti mengelompokkan nilai albedo atau daya pantul permukaan. Mulai dari jumlah cahaya yang dipantulkan oleh lautan yang tidak tertutup es, hingga yang dipantulkan oleh daratan. Mereka kemudian menguji data ini dengan model iklim, sebelum membagi Bumi secara digital ke dalam berbagai bagian berdasarkan garis lintang untuk melihat pola pemantulan di setiap titik.

Mereka menemukan pembagian baru antara belahan Bumi timur dan barat, berdasarkan kesamaan tingkat pemantulan cahayanya. Kedua bagian ini ternyata memiliki luas lautan bebas es yang hampir sama, tingkat tutupan awan yang serupa, serta jumlah radiasi matahari yang dipantulkan saat langit cerah yang nyaris setara.

Awalnya, Zhang sendiri sempat meragukan temuan ini. Bagaimanapun juga, Bumi berbentuk bola, sehingga jika dibagi dengan acak, selalu ada dua bagian yang ukurannya sama.

"Apa yang meyakinkan saya  dan akhirnya juga komunitas ilmiah bahwa simetri timur-barat ini bukan sekadar kebetulan biasa, terletak pada tiga ciri utamanya yaitu keunikan, kestabilan, dan apa yang kami sebut sebagai 'simetri rangkap tiga'," tulis Zhang seperti dikutip oleh Nature.

Pertama, sifatnya yang unik. Garis inilah satu-satunya batas yang menunjukkan keseimbangan tersebut dalam arah timur-barat. Kedua, kestabilan yang tinggi. Posisi garis ini tidak berubah sepanjang waktu dan tetap bertahan di garis 27 derajat Bujur Timur sejak 2001. Ketiga, dan yang paling penting, kedua bagian Bumi ini memiliki perbandingan daratan dan lautan bebas es yang hampir identik. Hal ini memungkinkan komponen pemantulan cahaya saat langit cerah maupun saat berawan dapat saling menyeimbangkan dengan sangat sempurna.

Tim Zhang meyakini bahwa mekanisme yang menggerakkan keseimbangan ini berhubungan erat dengan fenomena Osilasi El Niño-Selatan atau ENSO.

"Saat kami meneliti sedikit pergeseran posisi garis simetri dari tahun ke tahun, kami menemukan korelasi yang sangat kuat dengan catatan sejarah ENSO. Hipotesis kerja kami adalah bahwa sirkulasi Walker, pola perputaran udara berskala besar yang menghubungkan sistem awan di seluruh kawasan Pasifik tropis dan sekitarnya, bertindak sebagai mekanisme penyeimbang raksasa di planet ini," jelas Zhang.

"Pada tahun-tahun saat fenomena La Niña terjadi, belahan Bumi timur memantulkan sedikit lebih banyak cahaya matahari. Sebaliknya saat El Niño berlangsung, belahan Bumi barat yang mengambil peran tersebut. Pergeseran bolak-balik dari sirkulasi Walker ini mengatur ulang pola pembentukan awan dan pemantulan sinar matahari, yang pada dasarnya 'mengikat' posisi keseimbangan jangka panjang tersebut di garis 27 derajat Bujur Timur," tambahnya.

Penelitian ini menjadi peringatan keras terhadap upaya intervensi iklim, seperti rekayasa geo-matahari yaitu memodifikasi jumlah cahaya Matahari yang masuk ke Bumi sebagai respons atas "kiamat" pemanasan global.

Adanya simetri timur-barat ini semakin membuktikan betapa rumit dan saling terhubungnya sistem iklim Bumi. Jika manusia berusaha mengubah atau mengutak-atik radiasi Matahari yang masuk ke Bumi, manusia berisiko mengganggu keseimbangan dengan dampak yang buruk bagi kehidupan di planet ini.

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |