Bukan Barang Baru, BBM Campur Etanol 100% Sudah Ada di Negara Ini

6 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengkaji pengembangan bahan bakar bioetanol dengan kandungan 50% (E50). Pemanfaatan campuran bioetanol di Indonesia tersebut merujuk pada keberhasilan penerapan BBM dengan bioetanol 100% atau E100 yang sudah digunakan beberapa negara seperti Brasil dan beberapa negara bagian Amerika Serikat (E10).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa alternatif pengembangan E50 telah dibahas dalam Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional (DEN). Ia menegaskan bahwa pengembangan bioetanol diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi tanpa bergantung pada impor negara lain.

"Kenapa? Karena di Brazil sudah E100. Di Amerika sebagian negara bagian sudah E100. Nah, E50 ini kan bahan bakunya adalah etanol. Etanol itu bahan bakunya dari tebu, singkong, jagung yang diprosesing kemudian bisa melahirkan etanol dan ini mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru dan membangun pertumbuhan kawasan di daerah-daerah," ujar Bahlil di sela acara Donor Darah Hari Jadi Pertambangan ke 81, di Balai Sudirman Jakarta, dikutip Rabu (23/9/2026).

Pemerintah menargetkan penghentian impor bensin produk jadi apabila pengembangan bioetanol berbasis tanaman pangan tersebut berhasil direalisasikan. Keberhasilan skema ini juga mengacu pada pencapaian Indonesia yang menjadi pionir dunia dalam membangun biodiesel B50.

"Nah, kalau ini mampu kita lakukan ke E50, insyaallah, insyaallah, target kita kita tidak lagi melakukan impor, impor bensin yang jadi, produk jadi. Nah, kalau ini mampu kita lakukan, itu pasti ketahanan energi kita tidak lagi kita menggantungkan ke luar secara besar, itu kira-kira pikirannya," kata Bahlil.

Kementerian ESDM bersama Ditjen Migas kini merancang peta jalan (roadmap) implementasi bioetanol secara bertahap. Pemerintah merencanakan penerapan E10 pada tahun 2027 dan E20 pada tahun 2028 sebelum ditingkatkan ke tahap selanjutnya dengan menyesuaikan kapasitas industri dalam negeri.

"Tetapi kita harus menyesuaikan dengan industri kita. Kita tidak mau menerapkan E10, E20, atau E50, tapi etanolnya diimpor dari luar, sama aja itu. Jadi kita pengin untuk memanfaatkan produksi kita dalam negeri," tandasnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |