Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan niatnya untuk melancarkan serangan darat "sangat keras" di Amerika Latin, dengan tujuan menekan jaringan perdagangan narkoba yang dinilainya masih menjadi ancaman serius bagi keamanan nasional AS.
Dalam wawancaranya dengan Fox Business, Trump mengatakan pemerintahannya sebelumnya memusatkan upaya pada intersepsi jalur laut, yang menurut klaimnya berhasil memangkas arus masuk fentanyl dan narkotika lainnya ke Amerika Serikat sekitar sepertiga. Namun, strategi itu kini dinilai tidak lagi cukup.
"Sekarang kami akan mulai di darat," kata Trump, seraya menegaskan bahwa langkah tersebut diperlukan agar para penyelundup tidak sekadar memindahkan operasi mereka kembali ke jalur laut.
Trump menjelaskan bahwa sejak awal pemerintahannya sengaja memprioritaskan operasi di laut karena para bandar narkoba akan "langsung berpindah ke kapal" jika jalur darat lebih dulu diserang. Dengan terganggunya rute maritim, ia menilai sekarang adalah saat yang tepat untuk memperluas operasi ke daratan.
Meski demikian, hingga kini belum ada penjelasan resmi dari Gedung Putih mengenai seperti apa bentuk "serangan darat" yang dimaksud. Pemerintah juga belum mengungkap negara mana saja yang akan menjadi target, apakah operasi tersebut melibatkan militer AS, kerja sama dengan pemerintah setempat, atau hanya perluasan aktivitas penegakan hukum.
Gedung Putih pun belum memberikan kepastian apakah langkah tersebut akan diajukan untuk mendapat persetujuan Kongres.
Trump selama ini kerap menggambarkan perdagangan narkoba sebagai ancaman keamanan nasional, terutama terkait fentanil yang ia sebut sebagai penyebab utama lonjakan kematian akibat overdosis di Amerika Serikat. Ia berulang kali menuding kartel narkoba memanfaatkan lemahnya penegakan hukum dan menyerukan tindakan agresif untuk membongkar jaringan mereka.
Namun, rencana tersebut menyisakan banyak pertanyaan hukum dan diplomatik. Dalam sistem hukum AS, operasi militer di luar negeri umumnya memerlukan otorisasi Kongres atau harus didasarkan pada kewenangan keamanan nasional yang sudah ada.
Dari sisi internasional, penggunaan kekuatan bersenjata di wilayah negara lain tanpa persetujuan dapat melanggar hukum internasional, kecuali dilakukan untuk pembelaan diri atau berdasarkan mandat perjanjian atau PBB.
Trump tidak menyinggung aspek-aspek tersebut dalam wawancaranya. Ia juga tidak menjelaskan apakah sudah ada pemerintah di kawasan Amerika Latin yang menyetujui peningkatan operasi AS.
Padahal, sejumlah negara di kawasan itu secara historis menentang keterlibatan militer Amerika Serikat dalam urusan keamanan domestik mereka, dengan alasan kedaulatan dan trauma intervensi masa lalu.
Sebelumnya, Trump juga pernah melontarkan gagasan penggunaan kekuatan AS terhadap kartel narkoba di Meksiko dan negara lain. Usulan itu mendapat penolakan keras dari para pemimpin kawasan.
Pejabat Meksiko, misalnya, berulang kali menegaskan bahwa aksi militer AS di wilayah mereka akan melanggar kedaulatan nasional. Para pemimpin di Kolombia dan negara-negara Amerika Tengah juga menekankan bahwa kerja sama seharusnya dilakukan melalui penegakan hukum dan pertukaran intelijen, bukan melalui tindakan militer sepihak.
Di sisi lain, pendukung Trump menilai pendekatan keras sudah lama diperlukan. Mereka berargumen bahwa strategi pemberantasan narkoba selama puluhan tahun gagal menghentikan masuknya fentanyl dan obat-obatan terlarang lainnya ke jalan-jalan di Amerika Serikat.
Para pendukung menunjuk angka kematian akibat overdosis yang mencapai rekor dalam beberapa tahun terakhir sebagai bukti bahwa kartel narkoba beroperasi nyaris tanpa hambatan di sejumlah wilayah.
Beberapa anggota parlemen konservatif bahkan pernah mendorong agar kartel besar ditetapkan sebagai organisasi teroris asing, sebuah langkah yang dapat memperluas kewenangan hukum pemerintah.
Trump sendiri berulang kali menekankan bahwa fokus utama pemerintahannya adalah melindungi warga AS dari ancaman narkoba, khususnya opioid sintetis seperti fentanil, yang ia sebut sebagai salah satu krisis terbesar yang dihadapi negaranya saat ini.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383180/original/082158500_1760632502-Azrul_Ananda___Robertino_Pugliara__dok_Persebaya_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317021/original/038490300_1755266531-SaveClip.App_533385198_17850905229531514_3419499828321647333_n.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5347461/original/084430700_1757672387-547847842_18531923638014746_4748068569041253567_n.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)






