Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah masih melemah pada siang ini, Rabu (3/6/2026). Mata uang Garuda melanjutkan pelemahan sebesar 0,64% ke level Rp 17.945 per dolar AS pada pukul 13.39 WIB, Rabu (3/6/2026).
Ini merupakan level pelemahan terburuk rupiah sepanjang masa. Pelemahan rupiah terjadi sejalan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya. Ringgit Malaysia melemah 0,28% ke posisi MYR 3,974/US$, disusul dong Vietnam yang turun 0,25% ke posisi VND 26.432/US$.
Baht Thailand juga terkoreksi 0,09% ke posisi THB 32,67/US$, peso Filipina melemah 0,08% ke posisi PHP 61,677/US$, yuan China turun 0,06% ke posisi CNY 6,766/US$, sementara won Korea Selatan melemah tipis 0,03%.
Di sisi lain, dolar Taiwan masih mampu menguat 0,06%, sementara yen Jepang naik tipis 0,03% ke posisi JPY159,83/US$. Adapun dolar Singapura stagnan di posisi SGD 1,279/US$.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengakui bahwa pelemahan rupiah ke sekitar Rp17.900 mencerminkan bahwa pasar masih melihat tekanan rupiah sebagai gabungan antara tekanan global dan tekanan domestik, bukan lagi sekadar faktor musiman.
"Sentimen global yang paling dominan masih berasal dari ketidakpastian konflik AS-Iran, risiko pasokan energi melalui Selat Hormuz, harga minyak yang tetap tinggi, dan permintaan dolar AS sebagai aset aman," papar Josua, Rabu (3/6/2026).
Di sisi lain, Josua menilai tekanan rupiah juga diperbesar oleh melemahnya bantalan neraca perdagangan.
"Surplus perdagangan April 2026 hanya sekitar US$ 90 juta, turun tajam dari US$ 3,32 miliar pada Maret, sementara secara kumulatif surplus Januari-April 2026 turun dari US$ 11,07 miliar menjadi US$ 5,64 miliar," katanya.
Ini berarti pasokan dolar dari perdagangan barang menjadi jauh lebih tipis. Pada saat impor tumbuh tinggi, terutama untuk bahan baku, energi, dan barang modal, kebutuhan dolar meningkat, sementara tambahan dolar dari ekspor tidak cukup besar untuk menyeimbangkan pasar.
"Jadi, rupiah melemah bukan karena Indonesia langsung defisit perdagangan, tetapi karena kualitas surplusnya sudah melemah dan tidak lagi cukup kuat menjadi penyangga nilai tukar," paparnya.
Di tengah pelemahan ini, apa yang bisa dilakukan masyarakat Indonesia?
Mengutip laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ada beberapa hal yang harus kita lakukan saat mata uang Garuda melemah. Sebagai warga negara yang baik, tidak ada salahnya untuk senantiasa bersama membantu pemerintah menguatkan nilai tukar Rupiah. Berikut ini hal yang bisa kita lakukan dimulai dengan 3 langkah mudah ini.
1. Membeli Produk Dalam Negeri
Dari penjelasan di atas kita sudah tahu bawah semakin tinggi impor maka nilai tukar rupiah semakin lemah. Oleh karena itu, salah satu langkah mudah yang bisa kita lakukan bersama-sama adalah mengurangi produk impor.
2. Berinvestasi di Dalam Negeri
Tak selamanya nilai tukar Rupiah turun membuat investasi itu rugi. Kamu dapat tetap berinvestasi dengan membeli surat utang negara (SUN) atau obligasi negara ritel (ORI) misalnya. Instrumen ini memiliki risiko kecil.
Selain investasi, industri perbankan syariah juga dapat menjadi solusi tanpa perlu takut terkena dampak dari nilai tukar rupiah yang memengaruhi suku bunga. Dengan proses murabahah atau kesepakatan harga jual dan margin keuntungan, akan membuat investasi lebih dapat terukur.
3. Tidak Menimbun Dolar
Jangan ikut-ikutan menukarkan rupiah ke dolar untuk meraup keuntungan. Justru bagi para pemilik dolar bisa membantu pemerintah untuk menyelamatkan perekonomian dengan menukarkan dolar ke rupiah.
(haa/haa)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4326913/original/079333100_1676563078-20231602IQ_Kongres_PSSI_39.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)














