Geger Ada Pengkhianat di Ring 1 Khamenei? Dubes Iran Buka Suara

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Duta Besar (Dubes) Iran untuk Republik Indonesia, Mohammad Boroujerdi, memberikan tanggapan resmi mengenai isu adanya infiltrasi pihak asing di internal pemerintahan Iran. Hal ini merespons berbagai spekulasi yang muncul pasca-serangan presisi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran hingga menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.

Boroujerdi menyatakan bahwa kemungkinan adanya elemen pengkhianatan dalam sebuah struktur negara adalah hal yang lumrah terjadi di kancah geopolitik global. Ia menegaskan bahwa praktik mata-mata tidak hanya spesifik menyasar satu negara, melainkan menjadi tantangan bagi semua negara di dunia dalam menjaga kedaulatannya.

"Pengkhianat atau berkhianat mungkin saja ada. Dan hal itu mungkin saja terjadi di negara mana pun, dan saya yakin di semua negara di dunia pengkhianat dan pihak yang memata-matai ada," ujar Boroujerdi dalam sebuah pernyataan pers di kediamannya di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Boroujerdi juga menyoroti peran aktif intelijen Israel yang menurutnya telah tersebar luas di berbagai wilayah, terutama di negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Menurutnya, jaringan agen tersebut telah dididik sedemikian rupa untuk menjalankan misi di luar batas wilayah mereka sendiri.

"Rezim Zionis Israel telah mendidik agen mata-mata dan intelijen mereka hampir di semua negara dunia, khususnya negara-negara Islam. Dan hal ini tidak terbatas atau tidak berhenti di Iran," tegasnya.

Lebih lanjut, ia memberikan peringatan mengenai keberadaan jaringan intelijen asing yang kemungkinan juga beroperasi di Indonesia. Boroujerdi menyarankan agar publik melihat kecenderungan pihak-pihak tertentu dalam mendukung langkah politik Israel sebagai salah satu indikator adanya aktivitas mata-mata.

"Saya yakin di hampir semua negara dunia mereka memiliki mata-mata dan intelijen. Lihatlah di Indonesia, pihak mana yang mendukung langkah Rezim Zionis Israel. Dari sana bisa ketahuan indikasi siapa yang melakukan mata-mata dan merupakan intelijen dari Amerika Serikat," ungkapnya.

Dubes Iran tersebut tidak menampik bahwa negaranya beberapa kali telah dirugikan oleh aksi individu yang membelot. Namun, ia menekankan bahwa pengalaman menghadapi pengkhianatan tersebut telah memberikan pelajaran berharga bagi Teheran dalam memperkuat ketahanan internalnya.

"Tentu negara saya telah dipukul oleh para pengkhianat yang pernah ada dan sedang ada. Tetapi kami telah belajar banyak dari hal-hal tersebut. Kita harus meyakini secara bersama bahwa pihak yang berkhianat merupakan pihak yang tidak mungkin memberikan dukungan langsung dan nyata kepada pihak di mana dia berafiliasi," jelas Boroujerdi.

Boroujerdi juga memaparkan modus operandi yang sering digunakan oleh para pengkhianat, yakni dengan memicu polarisasi dan perbedaan pendapat di tengah umat Islam. Hal ini dipandang sebagai upaya sistematis untuk meruntuhkan persatuan yang seharusnya menjadi tameng bagi dunia Islam.

"Tetapi dia melakukan langkah-langkah lain sebagai dukungan, yaitu menyebarluaskan perbedaan pendapat antara berbagai barisan dan golongan dunia Islam. Ketika persatuan diperlukan oleh umat Islam, pihak pengkhianat ini mencoba untuk melakukan pengkotak-kotakan dan mengelompokkan dunia Islam. Dan pengkhianat adalah musuh bersama seluruh negara Islam dan seluruh negara dunia," paparnya.

Sebagai penutup, ia menganalogikan persatuan dunia Islam sebagai atap sebuah rumah yang melindungi seluruh penghuninya tanpa membedakan latar belakang mazhab. Ia memperingatkan bahwa jika atap persatuan tersebut runtuh akibat pengkhianatan, maka seluruh elemen di dalamnya akan menjadi korban.

"Apabila terdapat sebuah atap di atas sebuah rumah yang roboh, semua orang yang berada di bawah atap tersebut akan menjadi korban. Atap yang sedang roboh ini tidak menyaring apakah Anda bergolongan mazhab Syiah, Ahlussunnah wal Jamaah, Maliki, Hanafi, Syafii, dan lain sebagainya. Atap yang saya maksud adalah Islam," paparnya.

"Dan dunia Islam adalah pihak yang berada di bawah atap ini. Dan persatuan menjadi atap yang berada di atas dunia Islam. Apabila atap persatuan roboh, maka dia akan menjadikan semua pihak dan golongan yang berada di Islam sebagai pihak yang menjadi korban," tutup Boroujerdi.

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |