Jakarta, CNBC Indonesia - Produsen kamera yang sempat trendi, GoPro menghadapi ancaman serius terhadap kelangsungan bisnisnya setelah lonjakan harga memori yang dipicu ledakan permintaan kecerdasan buatan (AI) menghantam kinerja perusahaan.
Dalam laporan terbaru, GoPro memperingatkan adanya "keraguan substansial" terhadap kemampuan perusahaan untuk terus beroperasi.
Perusahaan melaporkan penurunan pendapatan sebesar 26% pada kuartal I dan memperkirakan melanggar sejumlah ketentuan pinjaman (loan covenant). Saham perusahaan sempat anjlok hingga 14%
GoPro mengungkapkan bahwa proyeksi bisnisnya terdampak signifikan oleh kenaikan harga memori yang mencapai 80%-115%.
Situasi diperburuk setelah pemasok mengumumkan rencana pengurangan pasokan memori pada April lalu, yang berpotensi menekan penjualan lebih jauh.
Kondisi ini merupakan dampak dari pergeseran industri semikonduktor global yang sebelumnya memukul pasar ponsel murah kini juga mengancam kelangsungan bisnis GoPro, demikian dikutip dari The Next Web, Rabu (3/6/2026).
Mekanismenya sama seperti yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Produsen memori besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron kini lebih memprioritaskan produksi High Bandwidth Memory (HBM) untuk pusat data AI dibandingkan DRAM yang digunakan pada perangkat elektronik konsumen.
HBM menawarkan margin keuntungan lebih dari 70%, jauh di atas DRAM konsumen yang hanya berkisar 20%-30%. Akibatnya, pasokan DRAM makin ketat dan harganya melonjak tajam.
Berbeda dengan raksasa teknologi seperti Apple yang memiliki daya tawar besar terhadap pemasok, GoPro dinilai tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menyerap kenaikan biaya tersebut.
Sebagai perusahaan dengan pendapatan di bawah US$1 miliar, produk GoPro sangat bergantung pada memori untuk menyimpan video beresolusi tinggi.
Lonjakan biaya komponen membuat margin keuntungan perusahaan tergerus. Bahkan, GoPro mengakui produknya dapat menjadi tidak menguntungkan ketika harga memori meningkat hingga dua kali lipat.
Di sisi lain, tekanan keuangan perusahaan juga semakin berat. GoPro mengungkapkan telah memperoleh keringanan dari kreditur setelah gagal memenuhi sejumlah ketentuan pinjaman. Perusahaan juga memperingatkan bahwa likuiditasnya tidak cukup kuat apabila seluruh kewajiban utang harus segera dibayar akibat pemicu gagal bayar.
Saat ini GoPro memiliki fasilitas pinjaman second-lien senilai US$50 juta dari Farallon Capital Management serta fasilitas kredit bergulir yang dikelola Wells Fargo.
Untuk menyelamatkan bisnisnya, GoPro telah menunjuk penasihat keuangan guna mengevaluasi berbagai opsi strategis, termasuk kemungkinan merger maupun penjualan perusahaan. Selain itu, GoPro mulai melirik sektor pertahanan dan kedirgantaraan sebagai sumber pertumbuhan baru.
Langkah tersebut menyusul keputusan perusahaan memangkas sekitar 23% tenaga kerja global pada April lalu sebagai bagian dari upaya efisiensi.
(dem/dem)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4326913/original/079333100_1676563078-20231602IQ_Kongres_PSSI_39.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)














