Jakarta, CNBC Indonesia - Harga laptop dilaporkan melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir. Para pedagang menyebut kenaikan harga dipicu oleh melonjaknya harga komponen utama seperti RAM dan SSD yang saat ini banyak diserap industri kecerdasan buatan (AI), ditambah dengan tekanan nilai tukar dolar AS.
Sejumlah penjaga toko yang ditemui CNBC Indonesia di Mal Ambassador, Jakarta Selatan, mengungkapkan laptop yang sebelumnya dijual di kisaran Rp 7 juta hingga Rp 8 juta kini sudah menyentuh Rp 9 juta lebih. Bahkan, mereka memperkirakan kenaikan harga masih akan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan.
"Kenaikannya lagi tinggi banget sih. Ini juga dari biasanya 7-8 jutaan sekarang jadi 9 juta. Dan mungkin masih ada kenaikan lagi sampai Agustus lah," kata salah satu pegawai toko laptop di Mal Ambassador.
Menurutnya, kenaikan harga terutama disebabkan oleh pasokan RAM dan SSD yang semakin terbatas karena banyak diborong produsen teknologi AI. Padahal kedua komponen tersebut merupakan bagian vital dalam sebuah laptop.
"RAM sama SSD lagi naik karena susah barangnya. Banyak dipakai produsen AI. Makanya laptop standar yang biasanya murah jadi ikut naik harganya. Selain itu ya karena dolar juga," tuturnya.
Fenomena ini membuat laptop murah yang dulu mudah ditemukan kini semakin langka. Jika beberapa bulan lalu konsumen masih bisa mendapatkan laptop merek besar di harga Rp 5 jutaan, saat ini pilihan tersebut nyaris menghilang dari pasaran.
"Januari-Februari masih ada yang Rp 5 jutaan. Sekarang sudah nggak ada. Kalau mau di bawah Rp 5 juta paling merek tertentu seperti Axioo atau Advan. Kalau Lenovo, Asus, HP, yang paling murah sekarang sekitar Rp 7 jutaan," ungkapnya.
Bahkan untuk segmen premium, lonjakan harga juga terjadi. Salah satu seri laptop Asus Zenbook yang sebelumnya dijual sekitar Rp 42 juta kini telah mencapai Rp 47 juta.
Hal serupa disampaikan pedagang di toko lain. Mereka menyebut harga laptop dengan prosesor Intel Core i3 yang sebelumnya berada di kisaran Rp 6 jutaan kini sudah naik ke level Rp 8 juta.
"Mulai tahun ini harganya naik semua. Yang tadinya i3 Rp 6 jutaan sekarang rata-rata Rp 8 jutaan," ujar pegawai toko lainnya.
Ia mencontohkan laptop Lenovo Core i3 dengan penyimpanan 256 GB kini dijual sekitar Rp 8 juta, sedangkan versi 512 GB sudah mencapai Rp 8,6 juta. Untuk merek Asus, laptop Core i3 bahkan sudah menyentuh Rp 9,3 juta.
Menurutnya, kenaikan harga berpotensi terus berlanjut jika nilai tukar dolar AS semakin menguat.
"Makin lama makin naik juga sih kalau dolar makin naik. i3 bisa sampai 9 juta nanti, sekarang udah 8,6 kan yang 512 nya," ujarnya.
Tak hanya laptop jadi, lonjakan harga juga terjadi di pasar komponen komputer rakitan. Pedagang komponen PC mengatakan harga sejumlah perangkat sempat melonjak drastis akibat tingginya permintaan industri AI terhadap chip dan kartu grafis.
"Gara-gara AI ini pada naik, naiknya bisa sampai 100 persen. VGA itu udah pada naik," kata seorang penjual komponen PC di Mal Ambassador.
Ia mengungkapkan banyak konsumen akhirnya mengurungkan niat merakit komputer setelah mengetahui total biaya yang dikeluarkan jauh lebih mahal dibanding tahun lalu.
"Orang yang mau rakit banyak yang kaget. Mereka bilang tahun lalu nggak semahal ini. Akhirnya banyak yang males rakit," ujarnya.
Meski demikian, hingga awal Juni para distributor komponen disebut belum mengeluarkan pemberitahuan kenaikan harga baru karena adanya pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Ledakan AI Jadi Penyebabnya
Laporan sebelumnya menyatakan bahwa kelangkaan chip global makin parah akibat tingginya permintaan infrastruktur AI. Produsen semikonduktor seperti Nvidia, Intel, dan AMD kini lebih fokus memproduksi chip AI dibanding chip untuk komputer konsumen.
Akibatnya, harga komponen penting seperti RAM, SSD, hingga prosesor melonjak dalam enam bulan terakhir. Konsumen dengan dana terbatas akhirnya memilih mempertahankan perangkat lama dan menunda upgrade PC.
Dampaknya mulai terasa di industri motherboard global. Berdasarkan laporan Digitimes, empat produsen motherboard terbesar dunia ramai-ramai memangkas target penjualan mereka tahun ini.
Asus, misalnya, diperkirakan hanya mampu menjual sekitar 10 juta motherboard pada 2026, turun 33% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 15 juta unit.
Sementara itu, Gigabyte merevisi target penjualannya menjadi 9 juta unit dari sebelumnya 11,5 juta unit. Adapun MSI memangkas proyeksi menjadi 8,4 juta unit dari 11 juta unit pada tahun lalu.
Kondisi paling berat dialami ASRock. Perusahaan itu diprediksi mengalami penurunan pengiriman hingga 37%, dari 4,3 juta unit menjadi hanya 2,7 juta unit sepanjang tahun ini.
Pasar Global Menyusut
Mengutip laporan TomsHardware, secara keseluruhan, pasar motherboard global diperkirakan menyusut hingga 28% pada 2026.
Selain faktor mahalnya komponen, pasar PC juga kehilangan momentum karena minimnya inovasi produk baru. AMD masih mempertahankan platform AM5, sementara prosesor generasi terbaru Intel Nova Lake baru dirilis akhir tahun ini.
Di sisi lain, Nvidia juga belum meluncurkan seri RTX 50 Super, sementara rumor menyebut seri RTX 60 baru akan hadir pada 2028. Kondisi ini membuat banyak pengguna merasa belum perlu mengganti perangkat mereka sekarang.
Meski begitu, produsen motherboard belum sepenuhnya terpukul. Beberapa perusahaan seperti Asus, Gigabyte, dan ASRock mulai mengalihkan bisnis ke server AI untuk menangkap peluang dari pembangunan pusat data raksasa oleh perusahaan hyperscaler global.
(fab/fab)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4326913/original/079333100_1676563078-20231602IQ_Kongres_PSSI_39.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)














