Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Saat ini kalkulasi key metrics of power suatu negara telah berubah dari parameter kemampuan industri berat dan manufaktur ke parameter kemampuan digital yang memengaruhi perubahan pada ekonomi dan kekuatan militer.
Antara periode 1960-an hingga dekade pertama abad ke-21, Amerika Serikat memimpin dalam revolusi informasi di sektor pertahanan dengan pemakaian chip secara meluas pada beragam produk pertahanan seperti satelit GPS, bom pintar, rudal hingga jaringan komputer sebagai bagian dari sistem komando dan kendali.
Dominasi Amerika Serikat mulai disaingi oleh kekuatan lain seperti Eropa, China dan Korea Selatan sejak dasawarsa kedua abad ini, di mana kekuatan-kekuatan tersebut mengadopsi pula kemajuan teknologi informasi pada sektor pertahanan. Eropa dan China memperkenalkan sistem navigasi berbasis satelit sendiri, begitu pula dengan penggunaan integrated circuits secara luas pada sejumlah produk pertahanan buatan mereka.
Kehadiran industri semikonduktor merupakan prasyarat eksistensi chip, di mana industri tersebut hanya tersebar di beberapa negara sebagai bagian dari rantai pasok global. Desain cetak integrated circuits dilakukan oleh firma Jepang yang berbasis di Inggris dengan memakai perangkat lunak khusus asal Amerika Serikat, sehingga hukum Amerika Serikat dapat mengatur akses negara lain terhadap semikonduktor yang dirancang memakai perangkat lunak tersebut.
Selanjutnya desain itu dikirim ke foundry di Taiwan dan Korea Selatan untuk diproduksi menggunakan ultra-pure silicon wafer dan photoresist yang hanya dipasok Jepang dengan menggunakan mesin Extreme Ultraviolet (EUV) lithography yang cuma diproduksi Belanda. Dari rantai pasok demikian tergambar terdapat global chokepoint dalam industri chip dunia, di mana setiap negara yang terangkai dalam rantai itu memiliki kartu truf secara politik dan ekonomi yang dapat mereka manfaatkan sewaktu-waktu.
TSMC yang berbasis di Taiwan dan Samsung asal Korea Selatan tercatat sebagai dua firma yang mempunyai kemampuan memproduksi chip proses 5nm, disusul oleh SMIC dari Cina yang menggunakan mesin Deep Ultraviolet (DUV) lithography yang dipadukan dengan proses Self-Aligned Quadruple Patterning karena pembatasan ekspor oleh Belanda selaku pembuat mesin EUV.
Secara kualitas, semikonduktor proses 5nm yang dihasilkan oleh mesin EUV TSMC dan Samsung lebih bagus daripada DUV yang dipakai oleh SMIC sebab DUV ialah mesin litografi lama. Namun di sisi lain, keberhasilan China membuat chip proses 5nm merupakan terobosan di tengah pembatasan akses mesin litografi oleh Belanda dan Amerika Serikat. Saat ini TSMC dan Samsung sudah memproduksi semikonduktor proses 3nm dengan kemampuan lebih maju daripada chip proses 5nm.
Baik semikonduktor proses 5nm maupun proses 3nm merupakan chips yang digunakan untuk aplikasi kecerdasan buatan, di mana pasar perangkat keras dan perangkat lunak kecerdasan buatan dikuasai oleh NVDIA dan AMD. Kedua firma tersebut sangat tergantung pada TSMC untuk memproduksi chips bagi penerapan kecerdasan buatan, begitu pula dengan pembuatan Graphic Processing Unit dan Central Processing Unit.
Sebenarnya Intel dan Samsung tercatat sebagai dua pemain lain dalam produksi semikonduktor untuk kecerdasan buatan, tetapi penguasaan pasar perusahaan Amerika Serikat dan Korea Selatan tidak sebesar perseroan Taiwan.
Secara teknologi, chip proses 16nm hingga yang lebih kecil dapat dipakai bagi kepentingan kecerdasan buatan, di mana kebutuhan setiap perangkat berbeda-beda, sementara untuk aplikasi militer memerlukan pula semikonduktor dengan proses 28nm ke atas.
Terkait dengan aplikasi kecerdasan buatan pada sektor pertahanan, Indonesia telah menyinggung tentang hal tersebut dalam sebuah dokumen yang diterbitkan oleh Kementerian Pertahanan pada 2025. Seperti keinginan menggunakan kecerdasan buatan untuk pengembangan sistem senjata otonom, selain optimalisasi pengambilan keputusan.
Terlepas bahwa saat ini ada firma BUMN yang mengklaim tengah mengembangkan kapal selam otonom, masih terdapat jurang yang sangat lebar antara aspirasi dengan kondisi empiris di lapangan untuk hal-hal yang terkait dengan adopsi kecerdasan buatan pada sektor pertahanan. Apalagi selalu ada perbandingan lurus antara tingkat penguasaan teknologi informasi suatu negara dengan kemampuan pertahanan negara itu yang terkait dengan pemanfaatan kecerdasan buatan.
Penerapan kecerdasan buatan pada sektor pertahanan di Indonesia akan menghadapi beragam tantangan, baik dari aspek teknis, operasional (termasuk komando dan kendali) dan hukum dan etika. Banyak pertanyaan terkait dengan ketiga hal yang perlu dijawab sebelum Indonesia mengadopsi kecerdasan buatan di sektor pertahanan, termasuk pengembangan sistem senjata otonom.
Kondisi penguasaan teknologi pertahanan oleh Indonesia saat ini terkait sistem senjata otonom pun masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara maju, sebab masih ada satu fase teknologi yang belum dikuasai sebelum dapat menuju sistem senjata otonom.
Tahap teknologi yang dimaksud ialah sistem senjata yang dikendalikan dari jarak jauh seperti wahana tanpa awak, di mana sampai sekarang Indonesia masih terhuyung-huyung dalam menyelesaikan program Elang Hitam karena berbagai tantangan teknis yang dihadapi.
Secara teknis, pemisah antara sistem senjata yang dikendalikan dari jarak jauh dan sistem senjata otonom adalah perangkat lunak kecerdasan buatan. Pengembangan perangkat lunak bukan sekedar memerlukan sumber daya manusia yang memiliki keahlian, tetapi pula ketersediaan akses pada tipe semikonduktor yang tepat guna mendukung perangkat lunak tersebut.
Tidak mudah melakukan pengembangan perangkat lunak sistem senjata otonom, antara lain karena membutuhkan machine learning yang bekerja berdasarkan masukan kunci (key input) seperti data, perangkat computing, algoritma dan sumber daya manusia.
Sebagai ilustrasi, bagaimana mungkin PT PAL Indonesia hendak membuat kapal selam otonom bila kondisi empiris menunjukkan bahwa Indonesia tidak memiliki data signature kapal perang permukaan dan kapal selam negara-negara lain yang seharusnya menjadi salah suatu masukan dalam machine learning kecerdasan buatan?
Mengingat bahwa pengembangan teknologi selalu melalui tahapan yang terstruktur, alangkah baiknya Indonesia mematangkan diri dalam teknologi wahana tanpa awak terlebih dahulu sebelum melangkah ke teknologi sistem senjata otonom.
Pola demikian nampak jelas diterapkan oleh sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Eropa dan China, di mana mereka berpindah ke tahap pengembangan sistem senjata otonom setelah menguasai teknologi wahana tanpa awak terlebih dahulu.
Apalagi salah satu titik kritis pengembangan sistem senjata otonom terletak pada perangkat lunak, di mana machine learning membutuhkan pemakaian daya komputer secara intensif guna melatih algoritma pada dataset yang sangat besar.
Pertanyaannya adalah apakah pihak-pihak yang terkait dengan kebijakan pertahanan paham tentang tahapan-tahapan penguasaan teknologi sebelum dapat menuju pada pengembangan sistem senjata otonom?
(miq/miq)






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5372801/original/040806000_1759769523-1000224866.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362119/original/035085500_1758837955-Calvin-Verdonk-Europa-League.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376586/original/086524400_1760009433-WhatsApp_Image_2025-10-09_at_15.16.27.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5338912/original/039061000_1756988370-2N3A9178.JPG)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5379723/original/026526700_1760356768-1000294045.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383180/original/082158500_1760632502-Azrul_Ananda___Robertino_Pugliara__dok_Persebaya_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317021/original/038490300_1755266531-SaveClip.App_533385198_17850905229531514_3419499828321647333_n.jpg)
