Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Jepang resmi menyetujui anggaran belanja tambahan sebesar 3,1135 triliun yen (Rp 339,15 triliun) untuk membantu rumah tangga di negara tersebut yang sedang berjuang menghadapi lonjakan biaya hidup sehari-hari akibat dampak Perang AS-Iran. Langkah darurat ini diambil di bawah kepemimpinan Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi guna meredam guncangan ekonomi yang kian meluas.
Dana fantastis tersebut dikabarkan akan dialokasikan khusus untuk meringankan beban biaya bensin, listrik, hingga gas masyarakat. Anggaran belanja tambahan ini telah diputuskan dalam rapat kabinet dan dilaporkan bisa disahkan secepatnya pada hari Jumat mendatang di parlemen, yang saat ini didominasi oleh Partai Demokrat Liberal selaku partai penguasa bersama sekutu Takaichi.
Mengutip laporan AFP, juru bicara utama pemerintah, Minoru Kihara, menjelaskan dalam sebuah konferensi pers bahwa kabinet telah setuju mengeluarkan dana ini. Jumlah tersebut mencakup 2,5 triliun yen (Rp 280 triliun) yang secara khusus dibentuk sebagai dana cadangan darurat untuk mengantisipasi situasi yang terjadi di Timur Tengah.
Melalui konferensi pers tersebut, Kihara menjabarkan alasan utama di balik penetapan anggaran raksasa ini di tengah ketidakpastian global yang masih menyelimuti dunia. "Di tengah ketidakpastian yang terus berlangsung dalam situasi di Timur Tengah, kami telah merumuskan anggaran ini dari sudut pandang untuk meminimalkan risiko," kata Kihara pada Rabu (3/06/2026) waktu setempat.
Lebih lanjut, Kihara juga memastikan bahwa keputusan finansial ini diambil agar kesiapan ekonomi negara tetap terjaga dan kehidupan masyarakat tidak sampai lumpuh total. "Anggaran ini akan memungkinkan kesiapan finansial yang kuat dan pemerintah akan memantau secara ketat tren harga di masa depan sehingga kehidupan sehari-hari masyarakat dan aktivitas ekonomi tidak terganggu," tambah Kihara.
Dampak Perang Iran sendiri dilaporkan telah memicu kelangkaan sejumlah bahan baku di Jepang, seperti dialami produsen keripik kentang terkemuka Calbee yang terpaksa mengganti kemasan oranye-kuning khasnya menjadi abu-abu akibat kelangkaan tinta. Selain itu, Bank Sentral Jepang bahkan telah menaikkan perkiraan inflasi dan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya setelah perang tersebut membuat harga minyak dunia melambung tinggi.
Meskipun situasi sulit, Perdana Menteri Takaichi memberikan angin segar mengenai kondisi pasokan komoditas energi penting di dalam negerinya. "Pemerintah memperkirakan bakal mengamankan pasokan minyak yang stabil hingga musim semi mendatang," ungkap Takaichi.
Takaichi juga menambahkan bahwa pemerintah telah berhasil menemukan sumber alternatif lain dari luar kawasan Timur Tengah untuk menjaga roda industri tetap berputar. "Pasokan alternatif untuk nafta, sebuah produk sampingan minyak yang digunakan di berbagai sektor industri, dari luar Timur Tengah telah pulih hingga lebih dari 80 persen dari tingkat sebelumnya," imbuh Takaichi.
Mengenai skema pembiayaan, Kihara menjelaskan bahwa anggaran tambahan ini nantinya akan ditutup menggunakan obligasi pembiayaan defisit. Namun, dirinya menegaskan total penerbitan obligasi secara keseluruhan tidak akan meningkat karena sebagian utang yang telah diotorisasi pada tahun fiskal sebelumnya tidak akan diterbitkan berkat adanya ekspektasi penerimaan pajak.
(tps/sef)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4326913/original/079333100_1676563078-20231602IQ_Kongres_PSSI_39.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)














