Limbah Sawit: Kunci Tersembunyi Transisi Ekonomi Hijau Indonesia

2 hours ago 1

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

06 February 2026 14:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri kelapa sawit menjadi pembicaraan hangat setelah bencana banjir di Sumatra. Sawit disebut-sebut sebagai penyebab banjir karena banyaknya pembukaan lahan untuk perkebunan sawit telah merusak alam.

Akibat spekulasi ini, reputasi sawit kian tergerus. Sawit dianggap sebagai tanaman yang mendorong percepatan pemanasan global dan perubahan iklim karena pembukaan lahannya mengharuskan aktivitas deforestasi.

Tata Kelola yang masih banyak mengesampingkan nilai keberlanjutan, menjadi penghambat sawit untuk menjadi aktor utama ekonomi hijau. Padahal, jika dikaji lebih dalam, sawit mampu menjadi komoditas unggulan yang tidak hanya meningkatkan pemasukan negara, namun juga mendukung dekarbonisasi industri.

Uniknya, peran sawit dalam mendukung ekonomi berkelanjutan justru berangkat dari limbahnya.

Jika dioptimalisasikan, limbah sawit dapat dimanfaatkan sebagai energi terbarukan, biomaterial, hingga pakan alternatif. Sehingga apa yang tadinya dilihat sebagai limbah, justru dapat meningkatkan pendapatan petani kecil dan mendukung kesehatan lingkungan.

Jenis-Jenis Limbah Sawit

Selain CPO (Crude Palm Oil), atau minyak kelapa sawit yang berasal dari daging buah sawit, industri kelapa sawit juga memproduksi produk lainnya seperti PKO (Palm Kernel Oil) atau minyak sawit yang berasal dari biji sawit.

Ketika minyak sawit terekstraksi, terdapat residu yang muncul dari aktivitas ini. Limbah tersebut dikelompokan menjadi tiga jenis: padat, cair, dan gas.

Limbah padat termasuk tandan kosong kelapa sawit (TKKS), cangkang sawit, bungkil sawit, dan serat nabati. Sementara itu limbah cair dikenal dengan sebutan Palm Oil Mill Effluent (POME), dan gas bersumber dari emisi pabrik pengolahan minyak sawit.

Laporan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) mengatakan bahwa dari satu ton tandan buah segar yang diproses dapat menghasilkan limbah cair berupa POME hingga 583 kg dan limbah padat yang terdiri dari 144 kg serat mesokarp, 64 kg cangkang, dan 210 kg TKKS.

Limbah tersebut memiliki daya polusi yang tinggi bagi lingkungan. Di sisi lain, pembuangannya membutuhkan biaya yang mahal. Padahal, volume limbah sawit semakin meningkat seiring meningkatnya produksi minyak sawit.

Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit dan Potensi Ekonominya

Walaupun limbah kelapa sawit sering dianggap sebagai beban lingkungan, limbah-limbah ini sebetulnya memiliki nilai potensial yang dapat dimanfaatkan.

Limbah padat dan cair dari industri tanaman ini dapat dikonversi menjadi sumber nilai yang mendukung perkembangan energi terbarukan, biomaterial, dan praktis ekonomi sirkular.

Salah satu limbah cair yang dihasilkan dari industri kelapa sawit paling populer adalah Palm Oil Mill Effluent (POME).

Ketika tidak diolah, POME melepaskan metana, yaitu gas rumah kaca yang menyumbang potensi pemanasan global lebih besar daripada karbon dioksida. Namun, efek negatif ini sebetulnya dapat dimitigasi dengan mengonversi limbah ini menjadi energi listrik dengan menggunakan teknologi pencernaan anaerobik.

Di Indonesia sendiri, hanya kurang dari 10 persen pabrik minyak sawit yang dilengkapi dengan fasilitas penangkapan biogas ini. Akibatnya, sebagian besar metana yang berasal dari POME tetap tidak dimanfaatkan dan dilepaskan ke atmosfer. Padahal potensi pembangkit listrik dari POME diperkirakan dapat mencapai hingga 1,1 Gigawatt (GW) secara nasional.

Sebagai perbandingan, 1 GW yang setara dengan satu miliar watt ini dapat memenuhi kebutuhan listrik puluhan ribu rumah sekaligus. Di sektor industri, kapasitas ini bisa digunakan untuk pabrik skala besar.

Direktur Utama Inalum Melati Sarnita dalam RDP dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (20/11/2025) menyampaikan bahwa satu pabrik smelter aluminium membutuhkan listrik sekitar 932 Megawatt (MW).

Selain limbah cair, limbah padat kelapa sawit juga menunjukan tantangan dan kesempatan bagi Indonesia.

Palm kernel expeller (PKE), atau yang juga dikenal sebagai bungkil sawit, merupakan residu padat hasil pemerasan minyak inti sawit. PKE dikenal oleh pasar global sebagai alternatif pakan ternak.

Kandungan protein dan nutrisi lainnya sering dibandingkan dengan pakan ternak populer lainnya seperti jagung dan dedak padi.

Walaupun memiliki kandungan yang tidak kalah premium, PKE justru ditawarkan dengan harga yang jauh lebih murah daripada kedua sumber pakan tersebut.

PKE memang lebih dikenal sebagai komoditas ekspor, meski demikian, penggunaannya di domestik bukannya tidak ada. Di Indonesia sendiri, PKE dimanfaatkan sebagai tambahan pakan untuk hewan ternak dan sektor perikanan.

Limbah padat lainnya adalah tandan kosong atau empty fruit bunches (EFB). EFB banyak dihasilkan dari proses penggilingan.

Secara rata-rata, sekitar 210 kilogram EFB dapat dihasilkan dari satu ton tandan buah segar.

Dengan produksi minyak sawit tahunan Indonesia mencapai setidaknya 47 juta ton, potensi pasokan EFB yang tersedia untuk dimanfaatkan diperkirakan mencapai 9,8 juta ton per tahun.

Dalam beberapa tahun terakhir, EFB telah berhasil dikembangkan menjadi bioplastik sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik berbasis minyak bumi konvensional.

Potensi ini sangat relevan mengingat permintaan plastik di Indonesia mencapai 12,54 juta ton pada tahun 2022 dan diproyeksikan akan terus meningkat. Oleh karena itu, pengurangan ketergantungan pada material yang sulit terurai secara natural dapat direalisasikan dengan pemanfaatan bioplastik berbasis EFB.

Secara luas, meskipun pemanfaatan limbah kelapa sawit di Indonesia sudah mulai berjalan, namun inisiasi ini masih jauh dari optimal sehingga meninggalkan gap peluang yang besar. Kedepannya, optimalisasi pemanfaatan limbah sawit diharapkan akan berjalan sehingga sawit Indonesia dapat memainkan peran strategis dalam mendukung transisi Indonesia menuju ekonomi hijau.

Selain itu, strategi yang dijalankan juga harus bersifat inklusif sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat lokal khususnya para petani rakyat.

Pemanfaatan Limbah Sawit Mendukung Target Pembangunan Berkelanjutan

Pemanfaatan limbah kelapa sawit mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) secara langsung.

Dukungan ini terutama tercermin pada poin nomor 2, 7, 12, dan 13. Berikut disajikan tabel yang menjelaskan pembahasan lebih lanjut terkait hubungannya.

Industri kelapa sawit yang akhir-akhir ini mendapatkan sentimen negatif akibatnya jejak ekologisnya, ternyata menyimpan segudang potensi hijau yang belum dimanfaatkan.

Dengan mengonversi limbah menjadi energi terbarukan, biomaterial, hingga pakan alternatif, Indonesia akan mengurangi beban ekologinya sekaligus mendukung transisi ekonomi hijau. Upaya ini sejalan dengan nilai-nilai SDGs, di mana limbah dapat menjadi sumber daya yang bernilai tinggi.

Dengan dukungan yang tepat dari berbagai pihak, pemanfaatan limbah kelapa sawit dapat menjadi simbol komitmen Indonesia dalam mendukung nilai-nilai keberlanjutan global.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Read Entire Article
| | | |