Lulusan Pendidikan Tinggi Susah Dapat Kerja, Anak Muda China Malas S2

2 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

06 February 2026 13:56

Jakarta, CNBC Indonesia- Pendidikan tinggi S2 yang dulunya dianggap prestige mulai kehilangan pamornya, pilihan pasca-kampus generasi muda China mengalami pergeseran tajam dalam tiga tahun terakhir.

Dari rilis Kementerian Pendidikan China, pendaftaran ujian masuk program master menunjukkan penurunan signifikan dari 4,7 juta peserta pada 2023 menjadi 3,4 juta pada 2026.

Pada periode yang hampir bersamaan, jumlah pelamar yang lolos verifikasi untuk mengikuti ujian pegawai negeri nasional melonjak hingga 3,7 juta orang, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Untuk pertama kalinya, peminat jalur birokrasi melampaui jalur pendidikan pascasarjana.

Bahkan, tutor ujian masuk S2 melaporkan jumlah murid menyusut lebih dari separuh. Sebaliknya, kelas persiapan ujian pegawai negeri justru dibanjiri peserta, termasuk lulusan unggulan dan mahasiswa dari luar wilayah seperti Hong Kong. Perpindahan minat terjadi cepat dan masif, bukan anomali lokal.

Secara mekanisme, jalur S2 kehilangan daya tarik ekonominya. Tingkat penerimaan ujian masuk master hanya sekitar 20%.

Program ini menunda masuk pasar kerja hingga tiga tahun dengan imbal hasil yang semakin tidak pasti.

Survei Zhaopin pada 2024 mencatat tingkat penyerapan kerja lulusan master pada fase rekrutmen musim semi hanya 44,4%, lebih rendah dibanding lulusan sarjana dan tertinggal jauh dari pendidikan vokasi. Pendidikan lanjutan tidak lagi menjamin posisi kerja yang lebih cepat.

Di sisi lain, jalur pegawai negeri menawarkan kepastian pendapatan dan stabilitas.

Meski peluang lolos sangat kecil 38.000 posisi diperebutkan jutaan peserta arus pendaftar terus membesar. Banyak peserta menyiapkan beberapa ujian sekaligus, dari tingkat nasional hingga provinsi dan kota, sebagai strategi bertahan. Status sosial dan jenjang karier bukan faktor dominan. Yang dicari adalah kepastian gaji dan ritme kerja yang dapat diprediksi.

Kondisi Pasar Kerja Swasta Jadi Pemicu 

Pengalaman kerja magang dan awal karier memperlihatkan praktik keterlambatan pembayaran upah dan lemahnya perlindungan pekerja di perusahaan kecil.

Tawaran gaji tinggi dari korporasi besar pun tidak selalu cukup menarik. Kasus lulusan yang menolak kompensasi tahunan ratusan ribu yuan demi mencoba ujian pegawai negeri menggambarkan pergeseran preferensi risiko di kalangan usia muda.

Lonjakan minat ke S2 pada 2020-2022 sebelumnya berfungsi sebagai strategi menunda masuk pasar kerja saat kebijakan nol-Covid diberlakukan.

Ketika ekonomi kembali dibuka, fungsi itu memudar. Lulusan menilai penundaan tambahan justru memperbesar risiko menghadapi pasar kerja yang melemah di masa depan. Banyak yang memilih mencoba jalur birokrasi lebih awal, meski peluang keberhasilan rendah.

Arus talenta muda berkualitas mengalir keluar dari sektor swasta dan kewirausahaan. Jika berlanjut, kapasitas inovasi dan ekspansi bisnis dapat tertekan.

Ketergantungan pada pekerjaan negara meningkat pada saat pertumbuhan ekonomi melambat, menciptakan lingkaran umpan balik yang memperlemah dinamika ekonomi.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
| | | |