Mengapa Ebola Kini Jadi Menakutkan?

5 hours ago 5

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

24 May 2026 20:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Wabah Ebola kembali membuat dunia siaga. Kali ini sumber kekhawatirannya datang dari jenis virus yang jarang muncul, menyebar di wilayah konflik, dan belum memiliki vaksin khusus.

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization bahkan sudah menetapkan wabah ini sebagai darurat kesehatan global setelah kasus muncul di Democratic Republic of the Congo dan menyebar ke Uganda.

Secara teori Ebola memang tidak semudah Covid-19 dalam penularan. Virus ini tidak menyebar lewat udara. Penularannya terjadi melalui cairan tubuh seperti darah, muntah, air liur, hingga cairan sperma. Namun justru di situlah masalahnya. Begitu seseorang tertular, tingkat kematiannya sangat tinggi. Pada sejumlah wabah sebelumnya, fatalitas Ebola bahkan bisa mendekati 50%.

Situasi kali ini terasa lebih berat karena virus yang beredar merupakan strain Bundibugyo. Jenis ini tergolong langka dan belum memiliki vaksin spesifik. Dua vaksin Ebola yang sudah tersedia saat ini hanya efektif untuk strain Zaire, jenis yang paling sering muncul di Afrika. Artinya, tenaga kesehatan kini menghadapi virus mematikan tanpa perlindungan vaksin yang siap digunakan di lapangan.

Kondisi di lapangan memperumit semuanya. Wabah bermula di Provinsi Ituri, wilayah timur Kongo yang selama bertahun-tahun dilanda konflik bersenjata.

Rumah sakit dan fasilitas kesehatan di kawasan tersebut beberapa kali menjadi target kelompok milisi. Banyak warga akhirnya enggan datang berobat karena takut diserang atau dicurigai. Dalam wabah seperti Ebola, keterlambatan mencari pertolongan membuka ruang penularan lebih luas di keluarga dan lingkungan sekitar.

Menurut WHO, hingga pertengahan Mei 2026 terdapat ratusan kasus suspek dengan puluhan hingga ratusan kematian. Kasus juga sudah terdeteksi di Uganda setelah pasien melakukan perjalanan lintas negara. Salah satu pasien bahkan meninggal di ibu kota Kampala. Mobilitas manusia membuat Ebola tetap menjadi ancaman regional meski virusnya tidak mudah menular seperti flu atau Covid.

Masalah lain muncul dari lambatnya deteksi awal. Korban pertama diduga mulai mengalami gejala pada akhir April 2026, namun otoritas kesehatan baru mengetahui adanya wabah beberapa hari kemudian setelah laporan beredar di media sosial. Saat alarm berbunyi, puluhan orang sudah meninggal.

Dalam epidemi Ebola, jeda waktu beberapa minggu saja cukup untuk memutus pelacakan kontak dan membuat rantai penularan sulit diurai.

Ebola sendiri merupakan penyakit demam berdarah akibat infeksi virus yang diyakini berasal dari kelelawar buah. Penularan awal biasanya terjadi dari hewan ke manusia. Setelah masuk ke tubuh manusia, virus menyerang pembuluh darah dan mengganggu proses pembekuan darah. Pasien dapat mengalami perdarahan internal maupun eksternal dalam waktu singkat. Pada kondisi berat, organ-organ tubuh mulai gagal berfungsi.

Gejala pada awalnya sering tampak seperti penyakit biasa: demam, nyeri otot, lemas, muntah, dan diare. Itu sebabnya Ebola kerap terlambat dikenali di daerah terpencil dengan fasilitas kesehatan terbatas. Ketika perdarahan mulai muncul, kondisi pasien umumnya sudah berat.

Meski demikian, para ahli menilai dunia saat ini lebih siap dibanding era wabah besar Ebola 2014. Sistem pelacakan kontak, laboratorium diagnostik, hingga prosedur isolasi pasien sudah jauh lebih baik. WHO dan otoritas kesehatan Afrika juga bergerak lebih cepat dalam koordinasi lintas negara. Namun tantangan besar tetap ada, terutama di wilayah perang dan daerah dengan layanan kesehatan minim.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |