Jakarta, CNBC Indonesia - Kata-kata bisa terdengar sederhana, bahkan penuh perhatian. Namun di tangan yang salah, bahasa justru menjadi alat untuk mengendalikan orang lain.
Dilansir dari CNBC, para ahli komunikasi dan bahasa, Kathy dan Ross Petras, mengingatkan bahwa manipulator kerap menggunakan kalimat yang tampak "baik" untuk memengaruhi cara berpikir dan perasaan seseorang, baik dalam hubungan pribadi maupun profesional.
Mengenali pola ini menjadi kunci agar tidak terjebak dalam permainan psikologis.
1. "Saya minta maaf kamu merasa kesal"
Kalimat ini sering terdengar seperti permintaan maaf, tetapi sebenarnya bukan. Biasanya akan diikuti pembenaran atau kritik balik. Ini merupakan bentuk meremehkan perasaan sekaligus gaslighting, yang membuat korban merasa emosinya tidak valid.
2. "Kita baru kenal sebentar, tapi ini terasa nyata"
Ucapan ini kerap muncul dalam fase awal hubungan sebagai bagian dari love bombing. Seseorang dibanjiri pujian dan perhatian berlebihan untuk membangun kedekatan secara cepat. Pola ini juga terjadi di tempat kerja, misalnya lewat pujian seperti "Kamu jenius" atau "Kamu satu-satunya orang yang saya suka ajak kerja sama."
3. "Kita tidak butuh siapa pun selain kita"
Setelah fase awal, manipulator mulai mengisolasi korban. Kalimat ini bertujuan menciptakan ketergantungan dan menjauhkan korban dari orang lain yang bisa memberi perspektif berbeda.
4. "Saya bilang ini karena saya peduli padamu"
Pernyataan ini sering digunakan untuk menyamarkan kritik sebagai bentuk perhatian. Korban dibuat merasa bahwa komentar negatif tersebut adalah bentuk kasih sayang, padahal perlahan merusak kepercayaan diri.
5. "Kamu baik-baik saja? Saya khawatir kamu terlihat berbeda"
Sekilas terdengar peduli, tetapi bisa menjadi bagian dari gaslighting. Tujuannya adalah membuat korban meragukan kondisi dan pikirannya sendiri. Seorang peneliti menyebut kondisi ini membuat seseorang merasa "tidak mampu memahami apa yang nyata."
6. "Saya tidak yakin mereka benar-benar peduli padamu seperti saya"
Kalimat ini digunakan untuk merusak kepercayaan korban terhadap orang lain, seperti teman, keluarga, atau rekan kerja. Manipulator ingin menjadi satu-satunya sumber kebenaran dan pengaruh.
7. "Kalau itu maumu, silakan saja"
Pernyataan ini tampak memberi kebebasan, tetapi sebenarnya mengandung tekanan emosional. Biasanya digunakan saat manipulator tidak mendapatkan keinginannya, dan menjadi awal dari upaya membuat korban merasa bersalah.
Kathy dan Ross Petras menegaskan bahwa manipulasi sering kali sulit dikenali karena dibungkus dengan bahasa yang halus dan tampak penuh perhatian. Dengan memahami pola-pola ini, seseorang dapat lebih waspada dan menjaga batasan dalam hubungan, baik secara personal maupun profesional.
(haa/haa)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5145677/original/009587200_1740728790-20250228BL_HTS_Ratu_Tisha_20.JPG)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368253/original/080065000_1759368915-persib-bandung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427463/original/032259100_1764389259-Tomas_Trucha_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5457703/original/089294400_1767016757-20251229IQ_Persija_vs_Bhayankara_FC-3.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429073/original/001791400_1764572941-John_Herdman.jpg)





:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5455820/original/092741900_1766735258-1000332649.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4400289/original/016439100_1681829426-000_334Q8WU.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400184/original/044015200_1762068222-InShot_20251102_134540718.jpg)


