Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
08 February 2026 08:08
Jakarta, CNBC Indonesia - Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan program yang dibentuk untuk mendorong perubahan berdasarkan prinsip hak asasi manusia serta memastikan kesetaraan pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
SDGs mencakup 17 tujuan dengan 169 target, untuk dicapai hingga tahun 2030.
Demi mengakselerasi ketercapaian SDGs di Indonesia, pemerintah bekerjasama dengan UNDP dan Tanoto Foundation membentuk SDG Academy Indonesia (SDG AI) dimana pemimpin dari berbagai sektor dilatih untuk melihat issue nyata dan dapat turut serta berkolaborasi dalam mengatasi issue tersebut.
Salah satu alumni SDG AI, Yosi Twentiarani adalah seorang profesional di industri manufaktur. Sebelum mengikuti program ini, Yosi berpikir bahwa hanya yang bekerja di pemerintahan maupun NGO yang mampu memberikan dampak kepada masyarakat.
Namun, ternyata keterlibatan pihak swasta juga memiliki peran penting dalam kolaborasi pentahelix. Kini, Yosi membagikan kisah inspiratifnya terkait SDGs, khususnya SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, dan SDG 4 tentang kualitas pendidikan di Indonesia.
Menurut Yosi, peran pendidikan tidak bisa lepas dari arah besar pembangunan nasional.
Pendidikan dapat menjadi instrumen strategis dalam mendukung competitive advantage di Indonesia. Dimana, Indonesia saat ini memiliki beberapa sektor unggulan seperti pertanian, pertambangan, pariwisata, dan manufaktur. Apabila sektor tersebut dapat dikembangkan maka akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja yang cukup besar.
Namun, dalam menciptakan pekerjaan layak di Indonesia, masih terdapat tantangan utama yaitu ketidaksinkronan antara kebijakan pemerintah, kebutuhan industri, dan sistem pendidikan. Tantangan lainnya yaitu, sistem pengembangannya yang tidak terintegrasi dari hulu ke hilir.
Sebagai contoh pada sektor pariwisata, dimana pariwisata tidak hanya menjual destinasi, namun diperlukan akses, infrastruktur, tata kelola daerah, hingga kesiapan SDM lokal agar sektor tersebut mampu menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan dan berkualitas.
Dalam konteks tersebut, peran pendidikan menjadi krusial. Sekolah bukan hanya sekedar menghasilkan lulusan dalam jumlah besar, namun sekolah dapat menghasilkan lulusan yang siap terjun ke dunia kerja. Dengan demikian, perlu adanya penetapan sektor-sektor prioritas yang jelas, sehingga sistem pendidikan dapat diselaraskan dengan kebutuhan industri yang dikembangkan.
Lulusan Pendidikan SMA dan SMK
SMA dan SMK merupakan jenjang akhir dari sekolah wajib 12 tahun, yang berperan sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
Pada tahap ini, siswa seharusnya sudah dibekali kemampuan dasar seperti mengoperasikan berbagai aplikasi di Microsoft Office, kesiapan mental untuk memasuki pasar tenaga kerja ataupun melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih lanjut.
Namun, pada kenyataan di lapangan, masih banyak lulusan SMA yang lemah dalam literasi, numerasi, dan sains, yang tercermin dalam skor PISA. Dimana Indonesia masih relatif tertinggal, padahal kemampuan dasar sangat penting dalam dunia kerja.
Tetapi, di tengah pesatnya perkembangan dunia digital, untuk mendapat penghasilan tidak selalu dari pekerjaan formal. Karena itu, sangat penting untuk dapat mengenali kemampuan diri dan mengasahnya dengan baik sehingga dapat menjadi nilai jual.
Misalnya kemampuan public speaking dapat bekerja sebagai affiliate produk, kemampuan desain dapat berpeluang sebagai freelance designer di berbagai platform, baik dalam maupun luar negeri.
Keterampilan lain seperti bahasa asing dan administrasi juga semakin dibutuhkan, sehingga membuka peluang untuk mendapatkan penghasilan di era digital.
Sementara itu, lulusan SMK relatif lebih spesifik karena kurikulum dirancang dengan fokus pada keahlian praktis untuk menyiapkan siswa langsung bekerja di bidang tertentu setelah lulus.
Selain itu, banyak sekolah SMK yang bekerja sama dengan berbagai perusahaan untuk menyerap tenaga kerja dari lulusan SMK.
Akan tetapi, juga menjadi tantangan sendiri bagi lulusan SMK untuk dapat bekerja sebagai karyawan permanen di sebuah perusahaan kecuali mereka upskill diri mereka baik dalam kemampuan mengoperasikan mesin maupun kepemimpinan.
Lulusan Pendidikan Sarjana
Pada lulusan sarjana, permasalahan sering kali muncul pada ketidaksesuaian antara bidang studi dan kebutuhan industri.
Saat ini lulusan sarjana di dominasi oleh sosial dan management, serta minimnya lulusan di bidang sains, teknik, dan ilmu terapan. Hal tersebut berdampak pada ketimpangan antara supply dan demand tenaga kerja. Selain itu, lebih dari 60% lulusan sarjana melakukan switch career.
Oleh karena itu, Yosi beserta dengan beberapa alumni SDG AI lainnya membuat sebuah program yang berkolaborasi antara Sintesis Academy dan Growhy, dengan tujuan meningkatkan kemampuan lulusan baru dalam mempersiapkan karir di dunia kerja.
Kolaborasi tersebut menghasilkan career mastery program dan podcast. Career mastery program ditujukan bagi pencari kerja dengan fokus pada peningkatan kesiapan kerja, seperti menyusun CV, persiapan wawancara, hingga cara membangun personal branding.
Sedangkan untuk podcast, menghadirkan konten edukatif yang membahas berbagai pilihan jurusan. Mulai dari mata kuliah di jurusan tersebut hingga jenjang karir kedepannya.
Mempercepat SDG 8 dan SDG 4
Pada dasarnya, ketenagakerjaan dan pendidikan selalu berkaitan. Pendidikan berfungsi dalam membentuk kompetensi, keterampilan, dan pola pikir. Pendidikan juga menentukan sejauh mana individu mampu memenuhi kebutuhan industri.
Ada beberapa rekomendasi untuk mempercepat SDGs 8 dan SDGs 4, yaitu dengan adanya regulasi yang jelas dan konsisten dari pemerintah pusat hingga daerah. Selain itu, perlu adanya ekosistem yang kondusif, supaya investasi dapat masuk dan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat Indonesia.
Pengalaman Alumni SDG AI
SDG AI tidak hanya mengajarkan tentang teori, namun juga praktik langsung ke masyarakat. Seperti menganalisis masalah pada suatu kelompok masyarakat dan memberikan solusi yang benar-benar berdampak dengan pendekatan metode Sustainable Business Model Canvas dan Design Thinking.
Dari kedua metode tersebut, pada capstone project, Yosi dan rekan-rekan peserta pelatihan menghasilkan program PELITA (Penguatan Edukasi dan Literasi) Madrasah yang berfokus untuk melatih guru-guru pendidikan non-formal dalam mendongeng dan melakukan appreciative inquiry yang mampu mendorong kegiatan belajar mengajar yang lebih efektif.
Program tersebut dilakukan di Garut dan kemudian pelatihan yang sama diimplementasikan terhadap guru-guru di Lampung dan Tangerang.
Foto: Yosi Twentiarani
Kegiatan di Garut capstone project PELITA
Setelah menjadi alumni, Yosi menerapkan praktik berkelanjutan di lingkungan kerjanya, seperti mengurangi penggunaan botol plastik, mengurangi penggunaan listrik di siang hari, serta mendorong kesadaran lingkungan (SDG 13).
Selain itu, edukasi juga diberikan kepada para pegawai di kantornya terkait pentingnya keselamatan kerja, mitigasi bencana dengan melengkapi fasilitas, serta memberikan pelatihan melalui kerjasama dengan pihak pemadam kebakaran (SDG 8 dan SDG 3).
Di luar kesibukan profesionalnya, Yosi juga aktif berbagi pengetahuan terkait SDG kepada anak muda dan mahasiswa dengan menjadi narasumber ataupun dosen tamu di berbagai universitas di Indonesia. SDG 8, 11, 12, 13, 14, dan 15 adalah topik yang paling banyak ia bagikan.
Forum-forum tersebut dapat menjadi media motivasi dan inspirasi agar generasi muda lebih berani untuk berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan.
Di luar Pulau Jawa, Sumatera Utara dan Riau menjadi dua provinsi dengan perekonomian terbesar, masing-masing mencatatkan PDRB sebesar Rp1.236 triliun dan Rp1.201 triliun.
Sumatera Utara ditopang oleh sektor industri pengolahan, perdagangan, pertanian. Sedangkan Riau ditopang oleh pertambangan, pengolahan, dan pertanian.
Sementara itu, Kalimantan Timur berada di posisi delapan nasional dengan PDRB sebesar Rp889 triliun. Meski tidak masuk lima besar, kontribusi Kalimantan Timur tetap signifikan, selain itu Kalimantan Timur juga memiliki potensi peningkatan peran ekonomi ke depan seiring pengembangan kawasan industri dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Foto: Yosi Twentiarani
Kegiatan di Garut capstone project PELITA
Adapun di kawasan Indonesia Timur, Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan masuk dalam sepuluh besar provinsi dengan PDRB terbesar, masing-masing sebesar Rp753 triliun dan Rp720 triliun. Sulawesi Selatan dikenal ditopang oleh perdagangan, pertanian, dan konstruksi. Sementara Sumatera Selatan, ditopang oleh industri pengolahan, pertambangan, dan perdagangan.
(mae/mae)

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5379723/original/026526700_1760356768-1000294045.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5338912/original/039061000_1756988370-2N3A9178.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383180/original/082158500_1760632502-Azrul_Ananda___Robertino_Pugliara__dok_Persebaya_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317021/original/038490300_1755266531-SaveClip.App_533385198_17850905229531514_3419499828321647333_n.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378193/original/050455500_1760219906-TIMNAS_INDONESIA.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5347461/original/084430700_1757672387-547847842_18531923638014746_4748068569041253567_n.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)