Waspada! Penyakit-Penyakit Ini Dipicu oleh Kebiasaan Merokok

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Merokok bukan lagi sekadar kebiasaan buruk melainkan salah satu penyebab kerusakan sistemik pada tubuh. Kebiasaan merokok juga menjadi pemicu utama kerusakan pada organ pernapasan.

Direktur Utama RSUP Persahabatan sekaligus Penasihat Pengurus Harian Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K)., MHPM., FISR., FAPSR, menegaskan bahwa tidak ada batas aman bagi seseorang terhadap paparan asap rokok.

Senyawa berbahaya di dalam rokok dapat memicu berbagai penyakit paru kronis yang mematikan, sekaligus membawa tantangan berat dalam penanganannya medis dan sosialnya. Berikut adalah penyakit paru yang paling sering disebabkan oleh kebiasaan merokok berdasarkan pemaparan klinis:

1. Kanker Paru
Kanker paru-paru menempati urutan atas sebagai penyakit paling mematikan akibat rokok. Data klinis menunjukkan bahwa sekitar 90% kasus kanker paru di dunia dialami oleh para perokok aktif. Kandungan zat karsinogenik (pemicu kanker) dalam tar dan asap rokok secara konstan merusak sel-sel di saluran pernapasan, memicu mutasi genetik, hingga akhirnya tumbuh menjadi tumor ganas.

2. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
PPOK adalah penyakit pernapasan jangka panjang yang membuat pasiennya kesulitan bernapas akibat penyempitan saluran udara. Berdasarkan data RSUP Persahabatan, mayoritas mutlak atau sekitar 92% pasien yang dirawat akibat PPOK memiliki riwayat sebagai perokok. Kombinasi antara bronkitis kronis dan emfisema (kerusakan kantung udara/alveolus) ini bersifat irreversible atau tidak bisa disembuhkan total, melainkan hanya bisa dikendalikan gejalanya.

3. Infeksi Saluran Pernapasan dan Tuberkulosis (TB)
Paparan asap rokok secara terus-menerus merusak silia, yaitu rambut-rambut halus di saluran napas yang berfungsi menyaring bakteri dan virus. Akibat runtuhnya sistem pertahanan ini, perokok menjadi jauh lebih rentan terkena infeksi paru akut (pneumonia), bronkitis, serta meningkatkan risiko komplikasi berat pada pasien Tuberkulosis.

Tantangan Besar dalam Penanganan dan Pengendalian
Prof. Agus Dwi Susanto mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam menurunkan angka penyakit paru akibat rokok terletak pada dua faktor utama:
Efek Adiksi dan Gejala Putus Nikotin (Withdrawal Effect): Nikotin dalam rokok merangsang pelepasan dopamin di otak yang memicu rasa nyaman buatan.

Ketika seorang perokok mencoba berhenti, mereka akan menghadapi withdrawal effect seperti sakit kepala, cemas, sulit tidur, hingga stres berat. Fenomena inilah yang sering kali membuat perokok gagal total untuk lepas dari ketergantungan.

Mispersepsi Rokok Elektrik (Vape): Munculnya tren rokok elektrik atau vape di masyarakat menjadi tantangan baru bagi para praktisi kesehatan. Banyak pengguna menganggap vape lebih aman daripada rokok konvensional karena hasil rontgen awal terlihat bersih. Padahal secara klinis, uap vape yang kental tetap mengiritasi saluran napas dan memiliki potensi bahaya memicu kerusakan paru (seperti paru-paru bocor dan PPOK) dalam jangka panjang.

Sebagai langkah preventif, Prof. Agus mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas layanan berhenti merokok (smoking cessation) yang kini sudah tersedia di berbagai rumah sakit. Ini sangat membantu mengatasi efek adiksi nikotin secara medis dan terpantau.

(miq/miq)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |